Editorial

Lahirnya Habitus Baru: PENTAS NATAL NASIONAL 2005

LAHIRNYA NEO HABITUS

Sore hari ini, 27 Desember, di Jakarta Convention Center (JCC), pukul 18.00-21.00 akan diselenggarakan Perayaan Natal Nasional 2005 yang akan dihadiri oleh Bapak/Ibu Presiden, Bapak/Ibu Wakil Presiden, dan para pemimpin Lembaga-Lembaga Keagamaan di Indonesia. Para tamu Negara baru akan masuk gedung jam 1900. Perayaan Natal Nasional ini akan disiarkan langsung lewat TVRI, dari pukul 1900-2100, dan RRI.

Natal Nasional 2005 ini lain dari tradisi Perayaan Natal sebelumnya. Sebelumnya digunakan istilah “Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani.” Dengan “Natal Nasional” tidak lagi ditekankan—dan sebetulnya tidak perlu—bahwa Natal adalah perayaan umat kristiani, tetapi bahwa peristiwa ini perayaan seluruh bangsa, juga bagi saudara-saudara yang tidak merayakannya. Mirip dengan Perayaan Idul Fitri sebagai Perayaan Nasional. Suatu habitus atau adat baru diciptakan.

Kehadiran Bapak Presiden beserta Ibu, Bapak Wakil Presiden beserta Ibu, serta pejabat-pejabat-pejabat teras dari Lembaga-Lembaga Publik mengubah pola tradisi perayaan Natal Nasional ini. Kendati doa dan pesan tetap ada, namun tidak digunakan format ibadat khas kristiani.

Habitus baru ini bukan sekedar untuk menghormati hadirin yang beragama lain, tetapi juga dan terutama berangkat dari usaha untuk memahami secara lebih mendalam pesan universal yang ingin disampaikan Allah lewat Inkarnasi Putera-Nya sendiri. Bahwa Allah memutuskan untuk ikut solider suka-duka kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun secara bersama, sebagai suatu bangsa. Bahkan lebih dari itu, solider sampai menanggung kematian.

Natal Nasional tahun ini menggunakan tema yang diangkat oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) “Janganlah Takut, Sebab Aku Selalu Menyertaimu” dan Subtema: “Mari Kita Bangun Keadaban Publik sebagai Watak Baru Bangsa, Menuju Indonesia yang Damai, Sejahtera, dan Bermartabat.”

Kedua tema diatas akan dipentaskan dalam sebuah Variety Show garapan N. Riantiarno (Teater Koma), Butet Kertaradjasa, dan Djaduk Feridianto (Padepokan Bagong Kusudiardjo), di bawah judul menarik: Memandang Kandang: Anomali versus Neo Habitus. Kelahiran Yesus ditafsirkan sebagai lahirnya Habitus baru bagi bangsa Indonesia, dengan meninggalkan habitus-habitus jahat dan buruk yang lampau.

“Pulanglah dengan Membawa Harapan,” tertayang pada video screen yang terpasang lebar di belakang panggung pada akhir Variety Show ini. Suatu harapan akan lahirnya Habitus Baru bagi Bangsa Indonesia.

Related Articles

error: Content is protected !!
Close