Editorial

Televisi dan Daya Menggoda

Pada hari Sabtu, 9 Februari 2008, setelah perayaan misa di Paroki St. Servatius Kampung Sawah, salah seorang aktivis paroki menyampaikan kepada saya tentang dampak negatif media televisi terhadap perilaku anak-anak zaman sekarang. Ia akhirnya memutuskan untuk mengadakan semacam ‘kampanye me-nonaktif-kan’ pesawat televisi dalam keluarga pada hari dan jam tertentu untuk menghindari anak-anak dan remaja dari tayangan realitas hasil rekonstruksi televisi. Baginya, televisi turut membantu merusakkan akhlak anak-anak dan remaja zaman sekarang.

Manusia dan Dimensi Imaginasi

Agar kita tidak memvonis media televisi secara sepihak dan berat sebelah, alangkah baiknya kita mengambil terlebih dahulu posisi netral terhadap televisi dan mengadopsi prinsip “praduga tak bersalah” dalam meneropong media yang satu ini. Lalu mencermati secara lebih saksama, keberadaan media televisi dalam struktur psikologis manusia dan bagaimana ia berperan dalam memuluskan jalan bagi anak dan remaja secara tidak sadar kepada ideologi yang dianut.

Manusia pada hakekatnya memiliki struktur aktivitas sosial yang dibagi atas dua. Yang pertama adalahpraksis keseharian, yakni segala kegiatan rutin harian entah itu bersifat sosio-horisontal semisal pelajar yang ke sekolah, pedagang kaki lima yang menjajakan barang jualannya di emperan toko, para sopir yang mengemudi bus dan angkot dalam perjalanan, para pegawai yang ke kantor di pagi hari; maupun bersifat religius-vertikal seperti kerja bakti rutin remaja Masjid, pelayanan sakramen para imam, pertemuan-pertemuan rohani para jemaat Kristen; pemberian sesajen setiap hari kepada Yang Ilahi bagi seorang Hindu, dsb. Rutinitas ini bercorak pratis sekaligus sebagai suatu keharusan yang harus dipenuhi, karena ia merupakan program harian kita.

Yang berikut/kedua adalah dunia imaginasi. Ia bercorak mental, subyektif, penuh dengan angan-angan, sensasi-sensasi, utopi-utopi,dan sarat dengan harapan dan kerinduan kita. Dunia imaginasi ini berperan sebagai perangsang dan pemberi hidup bagi dunia praksis keseharian, supaya kita tidak putus asa dalam rutinitas karya, supaya tidak malas ke sekolah, dan supaya kita tidak melaksanakan kegiatan keagamaan semata-mata karenaperaturan dan kewajiban. Dengan kata lain, dunia imaginasi berperan sebagai alimentasi (baca: penjamu) dunia fisik. Dia menjadi roh (spirit) bagi praksis hidup harian yang tertimbun oleh kejenuhan rutinitas harian. Dan dalam dunia inilah televisi menghadirkan diri. Dia memilih basisnya justru pada struktur mental penentu yang memberi kepada manusia keinginan untuk terus hidup dan melaksanakan karyanya. Lalu, ia memulai kegiatan secara psikologis.
Televisi dan Kenikmatan Tangan Kedua

Setiap manusia memiliki apa yang disebut hasrat–hasrat terpendam. Pengalaman ini bersifat alami dan berlaku untuk semua manusia dari segala jenjang usia, jenis kelamin dan profesi. Hasrat alami itu tidak saja terpendam tetapi juga dipenjarakan dalam ketidaksadaran oleh berbagai halangan baik yang datangnya dari luar dirinya seperti aturan agama dan masyarakat maupun yang datang dari dalam diri sendiri dalam wujud keterbatasan-keterbatasan fisik. Misalnya hasrat seorang tukang ojek untuk memiliki apartemen; kerinduan seorang gadis remaja untuk mencium seorang anggota kelompok musik westlife; keinginan seorang bocah untuk meniru kepiawaian pahlawan jagoannya dalam cerita kartun……dsb. Televisi, dalam menyusun strategi siarnya, berusaha mencari dan menangkap hasrat-hasrat terpendam itu, mengolah hasrat itu dalam sajian-sajian yang menakjubkan lalu mengembalikan kepada manusia sebagaibahan jadi pemuas hasrat diri dalam programnya seperti telenovela Amerika Latin, sinetron, film-film laga, dan iklan-iklan televisi. Upaya itu diformat secara estetik dan artistik dalam kemasan kegaiban show. Ditampilkan secara menakjubkan dan memukau dengan kombinasi warna yang menarik, bunyi musik surrounding yang menggema, tata pakaian, tata cahaya, tata rias tubuh, suara bariton, mimik, dll. Pemirsa lantas mengkonsumsi produk televisi yang sebenarnya adalah sensasinya sendiri yang sudah melewati proses teknis. Dengan cara begini, pemirsa sebenarnya cuma mengalami kepuasan sensasional dan bukan kepuasan riil. Karena toh, ia hanya menonton rumah mewah dan ia tidak memilikinya; ia menontonadegan cium telenovela tetapi ia sendiri tidak menikmatinya secara riil, ia seolah-olah berada di dekat pahlawan anutannya, tetapi ternyata tidak karena terdapat distansi fisik dan seterusnya. Kepuasan itu semu sifatnya dan fantasi coraknya. Puas dalam angan tapi kosong /kering secara empirik-konkrit dalam hidup harian; yang dalam seksualitas disebut masturbasi dan dalam ilmu komunikasi disebut kepuasan/kenikmatan tangan kedua (satisfacción del segundo mano). Dengan peluang ini, televisi perlahan-lahan menggiring pemirsa secara tidak sadar ke arah ideologi produser/pemilik media. Dan televisi tidak pernah memberi kesempatan kepada pemirsa untuk berpikir dan bertanya. Ia menyajikan secara cepat adegan yang satu setelah yang lain, susul menyusul secara runtut. Pemirsa terbawa dan terbuai. Manusia tergoda dan taat kepada televisi bukan pertama-tama karena isi siaran tetapi terutama karena kemasan yang menarik dan cara saji siaran yang mempesona.

Kembali kepada persoalan awal kita: mengapa televisi begitu mempengaruhi perilaku hidup generasi terkini dalam menawarkan nilai-nilai hidup tertentu untuk dianut? Mungkin jawabannya, karena lembaga-lembaga pewaris nilaiseperti keluarga, agama dan sekolah sudah ketinggalan dalam upaya mengemas dan menyajikan doktrin-doktrin moralnya. Lembaga-lembaga itu tidak mampu masuk ke dalam dunia fantasi –sensasi generasi terkini. Kemasan doktrin moralnya sangat linear, rasional, kering dan terlebih tidak estetik dan artistik. Padahal struktur mentalgenerasi muda sekarang terbangun oleh budaya multimedia (paduan antara gambar, suara dan warna) seraya meninggalkan diskursus-diskursus rasional. Kalau banyak perusahaan mulai mengembangkan infotaiment (paduan antara informasi dan entertaiment) edutaiment ( paduan antara pendidikan dan entertaiment) mungkin bagi kita diperlukan semacam paduan yang serupa dalam karya pastoral gereja.

-Agus Alfons Duka, SVD-

Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Check Also

Close
error: Silakan share link berita ini
Close