EditorialOPINI

Yesus yang Ekologis

“Ketika  Aku lapar, ada sumber makanan yang tersedia, ketika aku haus, ada sumber air yang mengalir berkelimpahan..” (bdk.Mat.23:35)

Setiap tahun kita merayakan Hari Pangan Sedunia.Tentu kita tidak ingin merayakannya sebagai sebuah seremoni,  sekadar ritual tahunan.  Perayaan Hari Pangan Sedunia seyogyanya membangkitkan  semangat   kita untuk  menentukan langkah-langkah aksi. Hari Pangan Sedunia juga hendaknya mendorong kita   mengambil beragam tindakan etis-moral  sebagai wujud tanggungjawab kita terhadap pangan.

Perayaan Hari Pangan lahir sebagai  reaksi terhadap  tindakan manusia yang bersaing merebut hasil seoptimal mungkin dengan mengeruk bumi semaksimal mungkin.  Dengan akibat, alam menjadi rusak, tanah  tercemar karena kita menggunakan pupuk kimia  secara massal. Metode  instan (jalan pintas)  yang dipergunakan dalam mengelola petanian dan peternakan telah menggiring manusia untuk memberikan penekanan pada kegiatan teknis ketimbang tindakan etik.   Dengan mengolah tanah, menggembalakan ternak, membudidayakan ikan dan sebagainya, manusia sebenarnya sedang membentuk dalam dirinya sendiri sikap rasa hormat terhadap Tuhan  dan pemberian-Nya. Sikapnya terhadap alam menujukkan kualitas dirinya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.  Dengan demikian, relasi antara manusia dan alam terpelihara. Tanah sungguh memberikan asupan makanan yang berkualitas kepada manusia. Hutan menyumbangkan berliter-liter air bersih untuk hidup manusia;  iklim dan cuaca memberikan  hawa hirup yang  asri bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta mahkluk organik dan non-organik lainnya. Pada akhirnya, Allah dimuliakan oleh seluruh ciptaan. Dan kita pantas berdendang:

Tuhan,
Bila kupandang langitMu, buatan jari-Mu
Bulan dan bintang yang Kauciptakan,
Kambing, domba di padang.
Burung-burung di udara
Dan ikan-ikan di laut…
Apakah manusia sehingga Engkau memperhatikannya?
Siapakah dia sehingga Engkau mengindahkannya? ( bdk. Maz.8)

Setiap orang yang mengimani Yesus adalah dia yang selalu berjalan mengikuti Yesus. Kita menyebutnya ‘murid’ dan  ‘pengikut Kristus’.  Pertanyaan kita:  kemanakah Yesus pergi?  Yesus berjalan di tengah ladang gandum,  menyampaikan khotbah publik di bukit-bukit, memanggil murid-muridNya  di pantai tatkala mereka sedang memancing dan membereskan jaring ikan.   Untuk meyakinkan masyarakat tentang warta keselamatan,  sangat sering Yesus  menggunakan contoh-contoh  konkrit  yang diambil  dari dunia gembala ternak bahkan Yesus mengumpamakan Diri-Nya dengan domba  dan gembala.  Dunia tumbuh-tumbuhan  juga ternyata memberikan ilham yang pada gilirannya menggugah Yesus untuk mengumpamakan Kerajaan Allah sebagai biji sesawi dan bibit gandum. Yang menarik dari  perbuatan Yesus disini, adalah bahwa Ia menjadikan tanah, ladang, tumbuhan, hewan bukan sekadar  obyek eksplorasi manusia tetapi  sebagai rumah (oikos-ekologi) yang membawa sumber kehidupan dan tanda kasih Allah.  Oleh karena itu, perjalanan Yesus  bukan suatu wisata ekologis mencari kenikmatan diri atau sekadar upaya menghilangkan penat. Yesus menggunakan unsur-unsur alam untuk mendekatkan manusia dengan Allah. Bahwa Allah itu baik, ia memberikan segalanya kepada manusia  dan kualitas hidup manusia ditentukan sejauh ia menggunakan segalanya yang baik itu demi kemuliaan Tuhan dan kesejahtraan umat manusia tanpa kecuali teristimewa bagi yang miskin dan rentan.

Yesus yang ekologis adalah Dia yang menuntun orang untuk memahami nilai-nilai yang ada dalam ciptaan (tanah, air, udara, langit, hewan, tumbuhan,dll)  sebagai sumber penghidupan bagi manusia dan sesama mahkluk lain. Karena  Dia adalah pokok anggur dan semua kita adalah carang-carangnya (bdk. Yoh. 15:5).

Rm. Agus Alfons Duka, SVD

Related Articles

error: Content is protected !!
Close