Dialog Kaum Muda Indonesia Bersama Cardinal Stanislaw Rylko

0
Cardinal Stanisław Ryłko/ worldyouthday.com

Cardinal Stanisław Ryłko/ worldyouthday.com

Cardinal Stanisław Ryłko

President Pontifical Council for the Laity Vatican City
Jakarta, 23 November 2013

Kaum muda yang terkasih!
Saya sangat senang berada bersama dengan anda sekalian pada sore hari ini. Saya datang dari Roma, atau lebih tepat, saya datang dari Vatikan, dan saya adalah Ketua Dewan Kepausan untuk Kaum Awam – yakni Kantor Vatikan yang diberi kepercayaan oleh Bapa Suci untuk memperhatikan kaum awam beriman di seluruh Gereja, dan secara khusus kaum muda. Oleh karena itu, kamilah yang mengorganisir Hari Kaum Muda Sedunia.
Saya ingin menyampaikan terima kasih atas kesempatan bertemu dan atas kesaksian iman – iman yang penuh kegembiraan dan antusiasme. Gereja – khususnya Gereja di Indonesia – sangat membutuhkan antusiasme. Saya menyampaikan selamat kepada para Uskup anda atas inisiatif “Hari Kaum Muda Indonesia” yang luar biasa ini. Pertemuan kita pada hari ini adalah bagaikan suatu jembatan diantara pertemuan kaum muda sedunia bersama dengan Paus Fransiskus di Rio de Janeiro dan kehidupan Gereja di sini di Indonesia, yang sepenuhnya terlibat untuk memperhatikan generasi muda.
Kaum muda yang terkasih! Saya membawa kepada anda suatu hadiah khusus, yakni salam dan berkat dari Paus Fransiskus, yang turut mendoakan anda masing-masing.
Untuk mengakhiri salam yang singkat ini, saya ingin menambahkan bahwa para organisator pertemuan ini telah menginformasikan kepada saya bahwa kalian ingin mengajukan kepada saya beberapa pertanyaan yang penting bagi anda. Maka, saya ada di sini siap untuk menjawabnya secara bergilir.

1. Apakah kesan-kesan atau pikiran-pikiran pertama dari Yang Mulia ketika mendengar kata “Indonesia”?
Ini adalah kunjungan saya yang pertama ke negeri anda, tetapi kenyataannya saya bukannya sama sekali tidak mengenal Indonesia. Saya telah bertemu dengan para Uskup Indonesia beberapa kali ketika mereka berkunjung ke Roma dan ke kantor-kantor Vatikan setiap lima tahun (kami menyebutnya kunjungan Ad Limina). Atas cara ini, saya telah mendengar banyak hal secara langsung dari para Uskup tentang kehidupan Gereja anda di sini dan kehidupan negeri anda. Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tetapi ada tradisi-tradisi agama dan budaya lain seperti Hinduisme dan Budhisme. Sebagai orang-orang Katolik, anda adalah kelompok minoritas kecil, hanya sekitar tiga persen, tetapi anda adalah minoritas tanpa kompleks inferioritas (rasa rendah diri). Orang-orang Katolik Indonesia bangga menjadi pengikut-pengikut Kristus dan mereka memberikan kontribusi besar untuk kehidupan negara yang luas ini. Mereka adalah sungguh-sungguh garam dunia dan terang dunia. Kontribusi Gereja Katolik untuk budaya Indonesia sangat berarti. Termasuk di dalamnya ialah banyak sekolah Katolik dan universitas Katolik yang sangat disegani. Hal ini mengatakan banyak tentang dinamisme Gereja Katolik.

2. Yang Mulia, peristiwa atau pengalaman hidup apa di masa muda Yang Mulia, yang menghantar Yang Mulia merasa terpanggil untuk menjadi imam?
Sebagaimana anda tahu, saya adalah orang Polandia. Ketika saya masih muda, negara saya berada di bawah rezim komunis – suatu rezim ateis. Tidaklah mudah untuk mengungkapkan iman, tetapi saya pikir bahwa orang-orang muda menyenangi tantangan-tantangan dan ‘berenang melawan arus’ atau melawan kecenderungan (tren). Maka, ketika sebagai orang muda saya mendengar Kristus memanggil saya untuk menjadi imam saya mengatakan ya kepada-Nya tanpa ragu-ragu. Saya mengatakan ya dengan kegembiraan besar, meskipun saya tahu bahwa menjadi seorang imam di negara saya pada waktu itu tidaklah mudah. Menarik untuk memperhatikan bahwa, dalam masa-masa sulit itu, banyak orang muda seperti saya dapat mengatakan ya pada panggilan Allah. Di Polandia pada waktu itu seminari-seminari penuh, dan sampai sekarang demikian: untuk hal ini saya berterima kasih kepada Allah.
Kaum muda yang terkasih! Panggilan kepada imamat dan hidup bakti adalah anugerah Allah bagi Gereja. Sebagaimana Yesus katakan kepada kita, panenan besar tetapi para pekerja sedikit. Yesus memanggil setiap rasul dengan namanya dan berkata: “ikutilah Aku!”. Dewasa ini Ia terus menerus memanggil orang-orang muda untuk melayani Gereja dan Injil. Ia melakukan hal ini di Indonesia juga! Ia tentunya melakukannya demikian sekarang ini ketika saya berbicara…. Panggilan kepada imamat dan hidup bakti adalah suatu anugerah indah, tetapi juga sangat menuntut. Panggilan ini meminta banyak kemurahan hati dan khususnya cinta yang besar kepada Yesus. Kaum muda yang terkasih, ketika anda mendengar suara Kristus yang memanggil anda dan mengatakan “ikutilah Aku”, janganlah takut untuk mengatakan “ya”. Jawablah seperti nabi yang berkata “Inilah aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8). Kristus membutuhkan anda dan Ia mengandalkan anda masing-masing. Gereja mengandalkan anda!

3. Apa yang menjadi visi dari Paus Fransiskus bagi kaum muda Katolik di zaman ini di mana arus bebas informasi dan gaya hidup yang ditawarkannya mungkin tidak sejalan dengan iman katolik yang tradisional?
Paus Fransiskus mempunyai kemampuan luar biasa untuk berdialog dengan kaum muda. Saya yakin anda telah menyaksikan hal ini di televisi atau internet pada pelbagai kesempatan, tetapi secara khusus selama Hari Kaum Muda Sedunia di Rio de Janeiro. Pertama-tama, ia mendorong kaum muda untuk mencari hal-hal yang besar dan layak dalam kehidupan dan menghindari mediokritas (keterangan: menjadi rata-rata, bukan yang terbaik dan bukan yang terburuk). Allah menciptakan kita untuk hal-hal yang besar! Oleh karena itu, kita seyogianya tidak takut untuk mengejar kekudusan. Hal ini menjelaskan mengapa paus Fransiskus mendorong kaum muda untuk melawan arus and menghindarkan diri untuk tidak jatuh ke dalam pencobaan mengejar kehidupan yang gampang, dangkal dan tidak peduli, suatu gaya hidup yang dipaksakan oleh budaya masa kini kepada kita. Kita telah mendengarkan Paus Fransiskus berkata banyak kali, “Jangan membiarkan orang lain merenggut harapanmu!” Seorang kristiani – khususnya seorang muda kristiani – harus menjadi saksi tentang pengharapan di dunia. Inilah juga tugas anda di sini di Indonesia. Namun, sebagaimana anda tahu, harapan kita adalah seorang pribadi yang hidup dengan suatu nama, dan nama itu adalah Yesus Kristus.

4. Kalau kami tidak keliru, Yang Mulia diangkap menjadi Uskup, lalu Ketua Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, oleh Beato Yohanes Paulus II, yang akan dikanonisasi pada 27 April 2014. Apakah kesan Yang Mulia tentang Beato Yohanes Paulus II dan apakah warisannya yang Yang Mulia dapat bagikan kepada kami sebagai orang-orang muda?
Beato Yohanes Paulus II adalah seorang Paus agung dan pewarta kabar gembira yang agung. Banyak orang menyebut dia “Peziarah Injil”, sebab ia bepergian melintasi dunia banyak kali selama 27 tahun sebagai Paus. Jutaan orang, di semua benua, dapat mendengarkan dia menyapa mereka dalam bahasaa mereka. Pesannya sangat sederhana: “Jangan takut akan Kristus”, “Bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus!” Yohanes Paulus II mempunyai relasi khusus dengan kaum muda, dan kaum muda dari semua benua sangat mencintainya. Ingatlah akan kata-kata yang ditujukannya kepada kaum muda seperti anda sekalian: “Kamu adalah harapan Gereja dan kamu adalah harapanku.” Pada kesempatan lain ia berkata: “Saya adalah sahabat orang-orang muda, tetapi seorang sahabat yang sangat menuntut…” Sesungguhnya, Paus Yohanes Paulus II menetapkan bagi kaum muda sasaran-sasaran yang sangat tinggi dan menuntut. Ia berkata kepada mereka: “Jangan takut untuk menjadi suci!” Yohanes Paulus II-lah yang menemukan Hari Kaum Muda sedunia bagi Gereja, dan ini telah menjadi suatu alat yang sangat efektif untuk evangelisasi kaum muda dan dunia mereka.
Paus ini meninggalkan suatu kesan mendalam di hati banyak orang, dan ia juga meninggalkan kepada kita suatu warisan rohani raksasa. Saya sangat gembira bahwa di sini di Indonesia ada cabang-cabang dari Kerabat-Kerabat Yayasan Yohanes Paulus II, yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan warisan ini. Seorang wartawan Italia menulis sebuah buku tentang Yohanes Paulus II dan memberinya suatu judul yang sangat berarti yakni “Paus yang tidak mati”. Dan benarlah: Yohanes Paulus II terus hidup di hati banyak orang muda dan orang dewasa. Setiap hari, banyak orang mampir untuk berdoa di altar di mana terdapat relikwinya di basilika St Petrus. Dan banyak orang menanti dengan penuh sukacita hari kanonisasinya pada bulan April mendatang.

5. Apakah api penyucian ada?
Untuk menjawab pertanyaan ini baiklah kita membaca Katekismus Gereja Katolik nomor 1030: “Semua orang yang meninggal dalam rahmat dan persahabatan Allah, tetapi pemurniannya masih belum sempurna, sesungguhnya dijamin keselamatan kekal mereka; tetapi setelah kematian mereka melewati pemurnian agar mencapai kesucian yang perlu untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.” Inilah ajaran Gereja yang mendasari tradisinya yang panjang untuk berdoa bagi saudara-saudari kita terkasih yang telah meninggal dunia. Patutlah diingat bahwa dalam Gereja Katolik, bulan November dibaktikan untuk doa ini. Itu merupakan tanda syukur kita kepada mereka yang Allah telah panggil dari kehidupan ini. Itu juga merupakan tanda persekutuan mendalam yang mempersatukan kita dengan mereka yang telah berada dalam kehidupan yang berikut. Gereja dengan teguh percaya akan persekutuan para Kudus.

6. Mengapa semakin banyak negara berkembang nampaknya kehilangan tingkat keberagamaan mereka? Apakah ada kaitan antara kekurangan iman dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi?
Masalah paling serius di negara-negara barat dewasa ini (khususnya negara-negara Eropa) bukanlah krisis ekonomi dan finansial, tetapi krisis iman, suatu krisis iman yang mendalam. Menjadi semakin jelas bahwa orang-orang di barat begitu bangga akan kemajuan-kemajuan ilmiah dan teknologi sehingga mereka berpikir bahwa Allah tidak diperlukan. Oleh karena itu, mereka mengesampingkan Allah dari kehidupan mereka. Namun, sebagaimana Konsili Vatikan II mengingatkan kita: “makhluk ciptaan, tanpa Penciptanya (dengan kata lain, tanpa Allah), hilang.” Maka, krisis iman akan Allah dewasa ini di dunia barat telah menghantar ke krisis mendalam di bidang identitas manusia dan kesadaran serta hormat akan martabat manusia dan hak-hak dasarnya. Banyak orang di dunia barat tidak tahu lagi siapa mereka sesungguhnya dan apa arti hidup mereka atau mengapa mereka hidup….. Satu-satunya jawaban atas krisis mendalam dalam identitas manusia adalah kembali kepada Allah dan menemukan kembali bahwa iman adalah cahaya sejati yang menyinari perjalanan hidup.
Tidak ada pertentangan antara akal budi dan iman. Beato Yohanes Paulus II mengingatkan kita dalam ensiklik “Fides et Ratio” bahwa iman dan akal budi adalah bagaikan dua sayap yang membantu kita untuk terbang menuju pengetahuan penuh akan kebenaran. Akal budi itu sendiri tidaklah cukup. Namun, kita harus ingat bahwa iman mempunyai dasar rasional yang kokoh: masuk akallah untuk percaya! Iman memperluas wawasan pengetahuan kita.
Akhirnya, kita harus ingat bahwa banyak orang kristen yang dibaptis dewasa ini jatuh dalam risiko tidak peduli dengan iman mereka sendiri. Ada kemungkinan seseorang memiliki pendidikan universitas yang baik dan hanya memiliki pengetahuan awal tentang iman karena hanya berhenti pada tingkat katekese yang diterima sebagai anak kecil. Hal ini dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius, karena “iman kekanak-kanakan” adalah sesuatu yang dilihat oleh orang-orang dewasa sebagai sesuatu yang tidak perlu disimpan, dan oleh karena itu dapat ditolak. Dari sebab itu, Paus Benediktus XVI mengatakan hal ini kepada orang-orang muda: “Pelajarilah katekismud dengan semangat membara dan ketekunan! Berikanlah waktumu untuk hal ini! Pelajarilah itu di keheningan tempat tidurmu; bacakanlah itu kepada seorang teman, bergabunglah dengan kelompok-kelompok dan jaringan-jaringan untuk mempelajarinya; bertukar gagasan-gagasan melalui internet….. Anda harus tahu apa yang anda percaya; anda harus tahu imanmu…. Ya tentu saja, anda harus berakar lebih mendalam dalam iman daripada generasi orang tua anda, demi menghadapi dengan kekuatan dan keteguhan tantangan-tantangan dan pencobaan-pencobaan masa kita” (YouCat, Kata Pengantar oleh Benediktus XVI).

7. Bagaimana Gereja menyapa atau berencana mengatasi masalah menurunnya jumlah orang-orang yang pergi ke Gereja?
Kemerosotan praktek keagamaan di dunia barat sangatlah mencemaskan, karena hal ini menjadi indikator krisis iman yang menyebabkan begitu banyak keruskan di dalam masyarakat-masyarakat kita. Hal ini terutama menyangkut partisipasi dalam Misa Hari Minggu dan praktek pengakuan sakramental. Kedua hal ini sangat penting dalam kehidupan iman seorang Kristiani. Untuk menghadapi kemerosotan ini kita perlu kembali ke dasar-dasar: iman dari orang yang dibaptis. Tahun Iman ini, yang telah diadakan di dalam Gereja dan yang akan diakhiri dengan perayaan Pesta Kristus Raja, dimaksudkan untuk membantu semua orang kristiani menemukan kembali iman sebagai suatu harta karun yang berharga bagi kehidupan mereka. Terlalu banyak orang yang dibaptis merasa bahwa iman mereka merupakan suatu beban berat daripada suatu peluang yang besar. Iman itu merupakan suatu anugerah yang Allah telah berikan kepada kita untuk menjadikan kehidupan kita lebih indah dan lebih penuh arti. Tahun Iman dimaksudkan sebagai pengingat bahwa Kristus menginginkan kita untuk menjadi orang-orang kristiani yang dewasa, orang-orang kristiani yang sadar akan panggilan dan perutusan kita di dalam Gereja dan dunia, dan bahwa Misa Hari Minggu dan pengakuan sakramen yang sering merupakan sarana-sarana mutlak bagi pertumbuhan iman. Oleh karena itu, pokok utama ialah menemukan nilai dari iman kita sendiri dan membiarkan iman ini dipupuk melalui doa dan sakramen-sakramen Gereja. Pokok lain yang penting ialah menemukan kembali pentingnya komunitas kristiani bagi kehidupan iman kita sendiri. Siapa saja yang percaya tidak pernah sendirian. Orang itu adalah bagian dari Gereja – keluarga besar anak-anak Allah.

8. Apakah pesan Yang Mulia kepada Kaum Muda Katolik Indonesia?
Kaum muda Indonesia yang terkasih, jangan takut untuk memilih Kristus dan hidup bagi Dia. Kristus tidak merenggut dari kita apapun yang sungguh indah dan besar dalam kehidupan manusiawi. Sebaliknya, Kristus memberikan segala sesuatu kepada kita. Kristus menjadikan kehidupan kita sungguh-sungguh indah dan menyenangkan. Oleh karena itu, banggalah menjadi murid-murid Kristus! Iman kristiani adalah suatu anugerah agung dan anda telah menerima anugerah ini. Jagalah iman itu, bantulah agar iman bertumbuh dan, terutama, bagikanlah iman kepada orang-orang lain! Kristus mengandalkan anda! Gereja mengandalkan anda!

Jakarta, 23 November 2013

Share.

About Author

Comments are closed.