Urbi

Orang Muda Katolik Belajar Public Speaking

Bertempat di Wisma Keuskupan Denpasar, berkumpul 36 Orang Muda Katolik yang berasal dari paroki-paroki di wilayah Keuskupan Denpasar. Kehadiran mereka untuk mengikuti pelatihan Public Speaking yang berlangsung dari 9-12 Februari 2014. Mgr Silvester San selaku Uskup Keuskupan Denpasar sangat gembira menerima kehadiran orang muda katolik yang meninggalkan kesibukan pribadi dan mau tinggal bersama teman-teman di Wisma Keuskupan Denpasar. Dalam homili misa pembuka, Bapa Uskup memberikan beberapa butir penting diantaranya dorongan kepada orang muda katolik untuk menyadari panggil mereka sebagai garam dan terang dunia. Fungsi sebagai garam dan terang dalam hidup sebagai orang beriman dapat diwujudkan dengan menjadi sumber kegembiraan dan sukacita bagi orang lain terutama kepada mereka yang hidup dalam penderitaan, mengalami bencana, kesepian. Selain itu, kita juga membawa orang lain untuk mendekatkan mereka kepada Allah.

Dalam sambutan untuk membuka pelatihan ini, Mgr San dan Ketua KOMSOS Keuskupan Denpasar, memberi dukungan kepada para peserta untuk menggunakan pertemuan ini sebagai kesempatan untuk belajar. Hal ini sangat penting untuk melatih kemapuan dalam hal berbicara dan menumbuhkan rasa percaya diri saat tampil dihadapan umum.

Secara khusus, Mgr. San, menjelaskan latar belakang dari kegiatan Public Speaking ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pastotal tahun 2014 yakni “memancarkan wajah Kristus melalui Orang Muda Katolik”. Sebagai generasi penerus Gereja dan bangsa, orang muda zaman ini kurang terlibat dalam kehidupan menggereja, kurang mendengarkan orang lain termasuk kurang mnedengarkan orang tua. Maka kesempatan pertemuan seperti ini, menjadi saat istimewa untuk membangunkan kesadaran diri supaya lebih peka dalam kehidupan menggereja dan melatihan kemampuan medengarkan, membaca dan berbicara dihadapan umum.

Kegiatan ini bukan pelatihan tetapi pertemuan. Pertemuan untuk saling membagi pengetahuan, demikian penjelasan awal bapa Errol Jonathans selaku fasilitator saat memberikan penjelasan di awal kegiatan.

Ketika umat manusia memasuki abad komunikasi dan menjadi pelaku komunikasi global, informasi apapun dengan cepat dapat diperoleh, bahkan kebutuhan komunikasi global semakin mudah dilakukan. Akibatnya manusia makin intens berkomunikasi melalui banyak cara. Meskipun kemudahan komunikasi secara mandiri dan virtual telah didapat, manusia tetap tidak dapat menghindari kebutuhan berkomunikasi tatap muka.

Bentuk komunikasi tatap muka diantaranya adalah Public Speaking. Komunikasi tatap muka tetap memiliki kelebihan dan keunggulan dalam hal relasi yang melibatkan seluruh indera dan rasa. Terkait dengan peran Orang Muda Katolik (OMK) sebagai penerus Gereja Katolik, maka diperlukan kemampuan komunikasi secara komprehensif, termasuk komunikasi dalam konteks presentasi. OMK harus siap menghadapi tantangan Gereja di masa depan. Karenanya OMK wajib mahir berkomunikasi dengan pimpinan Gereja, pengurus Gereja, umat, masyarakat luas, selain menguasai teknologi komunikasi.

Secara umum kompetensi Public Speaking Orang Muda Katolik ditengarai belum menggembirakan, sehingga OMK perlu dibekali keterampilan Public Speakingnya. Bagi Gereja Katolik, kemampuan Public Speaking tetap menjadi kompetensi melekat dalam karya dan eksistensi OMK, terutama untuk melayani Tuhan dan umat Gereja.

Salam hangat dari Pulau Dewata

Wisama Keuskupan, 11/2/14

RD.KAMILUS

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close