PEKAN KOMSOS

Mgr. Petrus Turang: Alat Komunikasi Harusnya Membuat Kita Makin Manusiawi

Berbagai penemuan hebat yang terjadi dalam zaman kita sekarang yang nampak dalam beragam kemajuan teknologi entah itu transportasi, komunikasi membuat dunia terasa makin kecil. Penemuan luar biasa ini mengagumkan (mirifica) bagi manusia tapi juga seharusnya mengagungkan (magnicifat) Tuhan Allah.

Sayang, kemajuan alat-alat teknologi dan komunikasi ini justru merenggangkan hubungan antarmanusia. “Kerenggangan antarmanusia itu nyata. Sekarang ada jarak. Jarak digital. Ada jarak piskologis, ada jarak fisik. Komunikasi memang menjadi impian, tapi juga membuat orang-orang tidak bisa berhubungan sebagai makhluk bermartabat yang harusnya saling menolong, membantu dalam peziarahan bersama,” ujar Ketua Komisi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Petrus (Piet) Turang dalam seminar bertajuk ‘Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati” di Aula Seruni, Weetebula, Sumba Barat Daya, Sabtu (31/5/2014).

Karena itu pesan paus, kata Monsinyur Turang, kita yang menggunakan media digital seharusnya memanfaatkannya dengan baik dan jangan sampai membuat kita terasing satu sama lain. “Paus minta supaya orang-orang yang tidak mampu mendapat akses secara digital, tidak disingkirkan. Tapi Anda yang bisa dan mampu menggunakannya juga jangan sampai menjadi miskin dan terkungkung.” kata Monsinyur.

Kita harus menjadi lebih baik dengan menggunakan alat-alat komunikasi. Peran suster, dan para pator adalah memberi contoh bagaimana menggunakan alat komunikasi dengan baik. Jangan sampai kita diperbudak oleh alat yang ditemukan manusia. “Dulu tiak ada suster yang bangun tengah malam jam 12 malam. Sekarang bangun dan melakukan begini dan begitu (chatting dan bermain internet),” ujar Mgr. Turang.

Seperti orang samaria, sebaiknya perjumpaan itu membuat kita makin manusiawi dan mengalami perubahan yang sungguh-sungguh. Manusia harus melampaui alat-alat. Banyak pastor, kata Mgr. Turang, tidak tahu bagaimana harus melayani umat karena terlalu banyak bermain internet. Karena alat-alat komunikasi ini, sekarang para pastor mengurung diri di kamar.

Alat-alat modern seharusnya membantu kita menjadi pribadi yang terhormat sehingga kita menjadi pribadi yang saling menghargai. “Semua (alat komunikasi modern) ini menjadi jembatan, sehingga kita saling menghargai sebagai manusia. itulah sikap yang harus dimiliki,” ujar Mgr. Turang.

Kita diciptakan dan mempunyai wajah Tuhan yang harus dibagikan pada orang lain. Dengan berjumpa secara benar, kita hidup bersesama meski dari segi ekonomi, politik, budaya berbeda. Kita harus bertanya apakah alat-alat ini menjadikan orang-orang lain sebagai saudara.

“Kita juga harus menjadi Pontifex Maximus (imam agung) yang mesti membangun jembatan-jembatan kecil menuju perjumpaan yang sejati. Seperti juga Maria yang harus rela berjalan kaki dan menempuh jarak yang luar biasa jauh untuk bertemu saudaranya Elizabeth,” ujar Mgr. Turang.

Pekan Komunikasi Sosial Nasional ke-48 tiba di hari keenam. Selain Mgr. Peter Turang, berbicara juga dalam kesempatan ini Dosen filsafat di Fakultas Filsafat Agama, Unwira Kupang dan tokoh penyiaran radio Errols Jonathans.

Keterangan Foto Utama: Mgr. Piet Turang/ Foto : Dio Bowo – Sesawi.Net

Tags

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close