Harian

Kamis 12 Juni 2014 “Menghadapi Persoalan Hidup dalam Iman”

Sebuah peristiwa tragis menimpa seorang ibu di Pekanbaru. Ia membakar diri di semak-semak di belakang rumahnya. Dengan sebuah jerigen minyak, ia menghabisi nyawanya. Ia membakar dirinya hidup-hidup. Tidak ada saksi mata. Tidak ada yang berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Suaminya sedang berada di luar kota.

Mengapa ia nekad melakukan tindakan tragis itu? Menurut berita, ia dan suaminya mengalami bangkrut. Kebun kelapa sawit yang berjumlah 130 hektar sudah habis terjual. Apalagi di saat harga buah kelapa sawit kian merosot, ekonomi mereka semakin terpuruk.

Keputusasaan telah melanda ibu ini. Ia tidak punya pegangan hidup lagi. Tidak ada jalan untuk memperbaiki hidup. Situasi hidup menjadi semakin rumit. Padahal hidup itu mesti berjalan terus. Orang Amerika mengatakan, “The show must go on”. Satu-satunya jalan bagi dia adalah membakar dirinya hidup-hidup. Mengakhiri hidup dengan cara yang sangat mengenaskan.

Pertanyaannya adalah benarkah perbuatan seperti itu? Apa yang semestinya dilakukan oleh orang beriman untuk menghadapi hidup ini?

Hidup ini memang tidak mudah. Tetapi Tuhan telah memberikan begitu banyak kemampuan kepada kita untuk mengembangkan hidup ini. Ada begitu banyak cara untuk menempuh perjalanan hidup kita. Hidup ini tidak hanya dibatasi oleh suatu situasi tertentu saja. Tetapi dalam hidup ini ada begitu banyak kemungkinan untuk melepaskan diri dari persoalan-persoalan hidup ini.

Di sekitar kita juga ada sahabat-sahabat yang bisa membantu kita. Yang penting bagi kita adalah kita mesti berani membuka diri untuk dibantu oleh sesama kita. Untuk itu, kita mesti memiliki sikap rendah hati. Artinya, kita mengakui keterbatasan-keterbatasan kita. Lantas kita menerima kebaikan sesama kita. Dengan cara ini, kita akan mampu mengatasi berbagai persoalan yang terjadi dalam hidup kita.

Kisah tragis ibu tadi menunjukkan suatu ketertutupan hati. Ia ingin menyelesaikan persoalannya sendiri. Namun ternyata persoalan itu terlalu berat bagi dirinya. Akibatnya, ia tidak sanggup menghadapi persoalan hidupnya. Keputusasaan menjadi teman hidupnnya. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu tragis.

Sebagai orang beriman, kita tidak boleh menyerah pada situasi yang kita hadapi. Apa pun situasi yang kita alami, kita mesti hadapi dengan iman yang teguh kepada Tuhan. Kita mesti yakin, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendiri di dunia ini. Tuhan berjuang bersama kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita berada dalam keputusasaan.

Karena itu, mari kita tingkatkan iman kita kepada Tuhan. Dengan demikian kita menjadi orang-orang yang senantiasa setia kepada Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang tetap tegar menghadapi berbagai persoalan hidup. Tuhan memberkati.

 

** (Frans de Sales SCJ)

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close