KWI

Sejak Konsili Vatikan II Gereja Sudah Bicara tentang Komunikasi Sosial

GEREJA Katolik sudah sejak lama telah berbicara secara khusus tentang alat-alat komunikasi sosial, bahkan sejak Konsili Vatikan II yang berlangsung 11 Oktober 1962 hingga 8 Desember 1965.

“Sejak Vatikan II terdapat tiga dokumen yang secara khusus bicara tentang alat-alat komunikasi sosial yang patut diketahui oleh seluruh warga Gereja Katolik terutama mereka yang bekerja di bidang komunikasi sosial,”ujar Pakar Filsafat Hukum Universitas Widya Mandira Kupang Dr phil Norbertus Jegalus MA dalam workshop bertajuk Media Sosial Sarana Pewartaan di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Barat, Senin (30/6/2014).

Ketiga dokumen ini, yakni Inter Mirifica (4 Desember 1963) , Communio et Progessio (23 Mei 1971), dan Aetatis Novae  (22 Februari 1992) menurut Norbertus mengandung isi yang berkaitan satu sama lain. Inter Mirifica, sebagai salah satu dokumen dari 16 dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II memberi dasar-dasar doktriner tentang penggunaan alat-alat komunikasi sosial.

Communio et Progressio melengkapi pandangan gereja itu dengan pedoman pastoral. Dan Aetatis Novae hanya menambahkan pedoman pastoral itu dengan rencana pastoral konkret tentang media komunikasi. “Jadi ketiga dokumen ini dari segi isinya berkaitan”, jelas Dosen Filsafat di Seminari Tinggi St. Michael, Kupang  ini.

Inter Mirifica, menurut Norbertus adalah dokumen pendek yang tinggi keasliannya. Pandangan dokumen ini sangat positif tentang dunia media komunikasi, seperti tentang koran, film, radio, televisi, dan sarana-sarana komunikasi lainnya. Sikap dekrit ini menyatakan dengan jelas bahwa Gereja tidak menolak alat-alat komunikasi itu meski di sana-sini ada ancaman merugikan tatanan sosial dan moral yang ada, karena bagaimanapun sarana itu sangat membantu manusia untuk mewujudkan dirinya sebagai makhluk sosial dan religius.

Dari dua dokumen, yakni Liturgi Suci/Sacrosanctum Concilium dan Inter Mirifica yang sama-sama ditetapkan ada periode sidang pertama Konsili Vatikan II (4 Desember 1963), Sacrosanctum Concilium saja yang memakan waktu karena memunculkan perdebatan sengit dalam proses pembuatannya. Sementara Inter Mirifica tidak.

“Meski Inter Mirifica tidak melalui perdebatan panjang dan sengit seperti Sacrosanctum Concilium, namun tidak berarti tidak ada perbedaan pendapat. Ada beberapa pendapat yang timbul sebelum dokumen ini disetujui.”ujar Norbertus.

Communio et Progressio, kata Norbertus, merupakan dokumen yang menjadi bagian integral dari Dekrit Inter Mirifica yang isinya tentang pedoman-pedoman pastoral baru. Instruksi Pastoral Communio et Progressio ini melengkapi Dekrit Inter Mirifica.

Dokumen Communio et Progressio dihasilkan melalui proses yang panjang, 7 tahun baru berhasil ditetapkan. Dokumen berfungsi sebagai lampiran resmi yang memperluas dan menerapkan prinsip-prinsip doktriner dan instruksi-instruksi pastoral dari Inter Mirifica.

“Karena itu dokumen ini dialamatkan kepada para uskup. Sebab hal-hal yang diuraikan memang menjadi bidang dan urusan para uskup”ujar Norbertus. Sedangkan bagi para tenaga profesional, dokumen ini hanya mengemukakan harapan semoga Communio et Progressio disambut baik oleh sekalian orang yang secara profesional terlibat di dalam bidang komunikasi sosial.

DR. Norbertus Jegalus sedang memberi materi (Foto : Pius Kaju)
DR. Norbertus Jegalus sedang memberi materi (Foto : Pius Kaju)

Teknologi berkembang pesat
Dua puluh tahun Communio et Progressio telah berjalan sebagai pedoman pastoral dalam hal penggunaan alat-alat komunikai sosial. Dan selama itu juga teknologi komunikasi maju dan berkembang dengan pesat.

Gereja melihat munculnya hal-hal baru di dunia media komunikasi sosial. Sarana-sarana baru seperti komunikasi lewat satelit, televisi kabel, serat optik, video, kaset, compact disk, membuat gambar dengan komputer, dan macam-macam pemakaian komputer, oleh Instruksi Pastoral Aetatis Novae disebut perubahan teknologi yang sangat besar.

Menurut Gereja Katolik, perubahan dan perkembangan hebat ini telah menyebabkan orang di seluruh dunia mengalami pengaruh bidang pengajaran dan pendidikan. Oleh sebab itu dibuatlah dokumen baru yang disebut Aetatis Novae.

Meski begitu, instruksi pastoral baru ini tidak menggantikan Communio et Progressio yang sudah berumur 20 tahun, melainkan hanya sebagai pelengkap agar Gereja Katolik dapat menanggapi tanda-tanda zaman dengan benar tanpa digilas oleh perkembangan zaman. Seperti dua dokumen sebelumnya, Aetatis Novae ini juga melalui proses pembentukan yang panjang.

Kredit Foto : Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, Romo Kamilus Pantus (berdiri) sedang memberi penjelasan pada peserta workshop (Foto : Pius Kaju)

Tags

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close