HarianJendela Alkitab

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama

APA yang akan Anda lakukan terhadap sesama yang kurang beruntung dalam hidup ini? Anda biarkan saja? Atau Anda tergerak hati untuk menolongnya?

Andras Peto menyaksikan sendiri banyak anak yang mengalami kerusakan otak usai Perang Dunia II. Ia tidak tinggal diam. Sebagai seorang dokter, ia tergerak hatinya untuk membantu sesamanya. Ia mendirikan sebuah pusat pelatihan untuk merehabilitasi otak anak-anak yang rusak. Namun ia juga memberikan pendidikan bagi anak-anak.

Ia yakin, otak anak-anak yang rusak itu seperti suka lupa, sensori dan motorik serta ketrampilan berbahasa yang rusak akan dibangun kembali. Hal itu dapat terjadi melalui latihan yang keras.

Sekarang ini, sekitar 1500 anak mengikuti pelatihan di Institut Peto di Budapest, Hungaria.  Andras Peto sendiri telah meninggal dunia pada 11 September 1967, namun karyanya tetap dilestarikan hingga kini. Anak-anak yang mengalami kerusakan otak yang mendapatkan perawatan ketika berusia enam bulan hingga empat tahun akan mengalami kesembuhan. Mereka bisa masuk ke tingkat pendidikan sekolah dasar dengan normal.

Apa yang telah dimulai oleh Andras Peto tidak sia-sia. Ia membantu banyak orang untuk keluar dari persoalan hidup mereka. Tentu saja ini sebuah karya kemanusiaan yang sangat membantu banyak orang dalam kehidupan ini.

Sahabat, suatu kepekaan terhadap sesama yang menderita menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun kepekaan itu mesti disertai dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan ini. Mengapa? Karena suatu karya tanpa cinta yang mendalam hanyalah sebuah karya sosial biasa saja. Ketika ada rintangan yang menghadang, orang akan meninggalkan karya itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha Andras Peto menjadi sungguh-sungguh bermakna, ketika ia melakukannya dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan. Ia tidak sekedar membantu anak-anak yang mengalami kerusakan otak. Tetapi dengan cinta yang mendalam, ia ingin membantu generasi muda untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti ia hadapi. Namun ia mampu melewati segala tantangan itu.

Dalam kehidupan kita di zaman modern ini, kita juga berhadapan dengan kepedihan-kepedihan. Ada banyak sesama kita yang kurang beruntung dalam hidup mereka. Ada berbagai sebab. Namun yang pasti, kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan hal-hal baik dengan penuh kasih. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Mereka mesti mendapatkan perhatian dan kasih yang mendalam.

Bagi orang beriman, membantu sesama yang berkekurangan merupakan bagian dari penghayatan iman. Iman tidak hanya ada di dalam pikiran atau hati saja. Iman mesti tampak dalam kehidupan sehari-hari. Iman mesti tumbuh dalam proses hidup manusia. Untuk itu, kita mesti melaksanakan iman dalam kehidupan yang nyata, meskipun banyak rintangan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.

Mari kita berusaha untuk melaksanakan iman kita dengan membangun kepedulian terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati.

Frans de Sales SCJ

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

Close