Harian

Berusaha Mengatasi Situasi Kemiskinan, Kamis 31 Juli

Selama beberapa tahun belakangan ini Johan mengalami suatu hidup yang menyedihkan. Penyakit kanker yang diderita salah satu putrinya memaksa dia untuk utang sana sini. Sudah begitu, nyawa putrinya tidak tertolong. Sepeninggal putrinya, Johan mesti membayar semua utangnya. Akibatnya, segala sesuatu telah habis untuk membayar utang. Johan dan istrinya jatuh miskin.

Mereka menjual rumah dan mengontrak sebuah gubuk reot dekat kuburan. Suatu hari, ia termenung di jendela gubuk reot itu. Tiba-tiba matanya terpaut pada serombongan orang yang membawa peti jenazah. Wanita-wanita yang mengiringi peti jenazah itu terdengar meraung-raung.

Sambil meratap, mereka berkata, “Oh, nasib, nasib. Mengapa kau tega tinggalkan kami? Kau pergi menuju tempat yang gelap, tanpa cahaya, tanpa api, tanpa makanan. Kau akan kedinginan dan kelaparan.

Johan semakin memberi perhatian pada suara keluh dan tangis wanita-wanita itu.

Semakin dekat, suara wanita-wanita kian terdengar jelas, “Tidak seorang pun akan kaujumpai. Tidak seorang pun menegurmu. Tak seorang pun mencintaimu. Beda dengan rumah kita. Oh, mengapa kau rela juga meninggalkan kami?  Mengapa?

Johan merasa tersinggung mendengar kata-kata itu. seolah-olah kata-kata itu tertuju kepada dirinya yang kini hidup dalam kemiskinan. Tidak sabar mendengar semua itu, Johan berseru,  “Ya, Tuhan. Teganya mereka menghina kami.

Lantas ia berkata kepada istrinya, “Mereka membicarakan rumah kita yang gelap dan sempit, tanpa api dan makanan. Bahkan mereka sedang membawa orang mati ke sini.  Tolong, tutup semua pintu dan jendela. Jangan biarkan mereka masuk!

Kemiskinan menjadi suatu momok yang menakutkan. Mengapa? Karena situasi kemiskinan itu mendera hidup manusia. Orang mengalami penderitaan, karena kemiskinan itu. Karena itu, orang yang hidup dalam suasana demikian mudah tersinggung. Kisah di atas menunjukkan hal ini. Pertanyaannya, mengapa orang mesti tersinggung?

Adalah fakta bahwa di dunia ini ada situasi kemiskinan. Ada banyak sebab orang menjadi miskin. Namun yang mesti selalu diingat adalah dalam situasi kemiskinan itu orang mesti selalu menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dengan cara itu, orang akan kuat menghadapi situasi kemiskinan itu. Orang memiliki sikap yang berbeda terhadap situasi kemiskinan itu. Orang tidak memandang situasi kemiskinan itu sebagai suatu nasib yang mesti ia tanggung. Tetapi orang lantas berusaha untuk keluar dari situasi kemiskinan itu.

Sebagai orang beriman, kita tidak boleh menyerah pada situasi kemiskinan. Mengapa? Karena Tuhan senantiasa membantu kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendiri dalam dunia ini. Tuhan selalu setia kepada kita. Tuhan menghendaki agar kita tetap berjuang untuk melepaskan diri dari lilitan kemiskinan itu. Caranya adalah dengan bekerja keras dan kreatif. Mari kita berusaha terus-menerus untuk mengatasi situasi kemiskinan kita.

Ilustrasi: Mengatasi Situasi Kemiskinan (foto dari celebrationoflife.org)

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close