Harian

“Herodes dalam diri kita” (Matius 14:1-12), 2 Agustus

Pernahkah anda melihat seseorang yang dipasung? Biasanya yang dipasung adalah mereka yang sakit jiwa. Sangat menyedihkan melihat keadaan mereka, kebebasannya terbelenggu dan tak mampu berbuat apa-apa.

Walau tampak sangat menyedihkan, namun bukan tanpa alasan mereka di pasung. Jika mereka bebas, sikap dan tindakan mereka dapat membahayakan orang-orang di sekelilingnya. Jadi, walaupun pihak keluarga sendiri terkadang terbebani melihat keadaan sanak keluarga mereka yang terpasung, tetapi demi kebaikan bersama, mereka harus mengambil kebijakan itu.

Jika yang dipasung biasanya adalah yang sakit jiwa, bagaimana dengan kita? Pernahkah anda terpasung? Terbelenggu atau terpenjara?

Jika jawaban anda tidak, berarti kita semua orang kudus. Memang benar, secara fisik mungkin tidak pernah, tetapi hati dan pikiran kita pernah terbelenggu dan terpenjara. Tidak terlihat tetapi sakitnya lebih daripada terpasung, terbelenggu, dan terpenjara secara fisik.

Dengan cara apa kita terpasung, terbelenggu dan terpenjara?

Dengan kata-kata, sikap, dan perbuatan kita. Dalam hal ini kita bisa sebagai pelaku yang membelenggu dan memenjarakan tetapi juga sekaligus yang membelenggu dan memenjarakan sesama kita. Dengan demikian ternyata ada “herodes” dalam diri kita.

Herodes membunuh Yohanes Pembaptis karena kebenaran. Herodes tidak mendengar suara hatinya dengan baik, dia lebih mendengar kata anak dan istrinya. “Herodes” dalam diri kita mungkin tidak pernah membunuh secara fisik tetapi dengan kata-kata, sikap dan perbuatan kita, kita telah membunuh karakter sesama kita. Lebih menyakitkan daripada sebilah pisau tajam yang mematikan dalam sekejab tanpa sakit yang berkepanjangan.

Kata-kata kasar dan menyakitkan, sikap yang arogan, dan perbuatan yang melukai seringkali menjadi hal yang memasung, membelenggu dan memenjarakan hidup seseorang, membuatnya tidak bertumbuh menjadi pribadi yang baik. Jika demikian adanya, apakah “herodes” dalam diri kita tidak lebih kejam dari Herodes yang membunuh Yohanes Pembaptis?

Injil hari ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang hening dalam mendengar suara hati, agar apapun sikap, kata dan perbuata kita tidak bertentangan dengan cinta kasih.

Doa :

Tuhan Yesus bantu aku untuk mampu mengetahui kehendak-Mu melalui Kitab Suci, Ekaristi, tobat dan khususnya melalui suara hatiku, agar aku lebih mengenal dan mencintai-Mu khususnya dalam diri sesamaku.

Niat : 

Mendengar suara hati, berfikir positif serta berkata  yang sopan dan bersifat membangun.

 

Keterangan foto: Ilustrasi dari www.corriere.it

 

Tags

Sr. Erlisda Tamba, FdCC

Berkarya di Bintaro-Tangerang Selatan

Related Articles

Check Also

Close
Close