Harian

Jangan Menumbuhkan Benih Kebencian, Selasa 5 Agustus 2014

Suatu hari, Anton sedang duduk di rerumputan, mengamati dengan bangga kambing kesayangannya. Tiba-tiba ia didekati sejumlah anak-anak kampung. Seorang anak berkata, “Tuan Anton, kambing Tuan memang hebat. Gemuk dan sehat. Bagaimana kalau besok kita sembelih untuk pesta bersama?

Anton tersenyum mendengar kata-kata anak itu. Lantas ia berkata, “Ah, belum. Kambing ini belum begitu gemuk.

Salah seorang anak yang lain berkata dengan penuh keyakinan, “Eh, Tuan Anton,  apakah Tuan belum mendengar bahwa besok adalah hari kiamat?

Anton kembali tersenyum. Namun ia kesal juga melayani desakan demi desakan. Lalu ia mengambil keputusan. Ia berkata, “Okey, baik. Besok kita bertamasya bersama, makan kambing guling.

Pernyataan Anton itu membuat hati anak-anak bergembira. Keesokan harinya mereka berangkat. Ketika tiba di tepi telaga, spontan anak-anak itu melepas pakaian dan terjun ke danau untuk berenang.

Di tengah kesibukan menyiapkan masakan kambing guling, terbersit gagasan nakal dalam pikiran Anton. Ia mengambil pakaian anak-anak itu dan membakarnya di atas tungku pembakaran.

Begitu mencium bau sedap kambing guling yang siap disantap, anak-anak itu segera berlari ke daratan. Namun, mereka begitu terkejut, karena pakaian mereka tidak ada di tempat.

Mereka berkatanya, “Tuan Anton, di mana pakaian-pakaian kami?

Sambil tersenyum geli, Anton menjawab, “Oh, maaf anak-anak. Aku telah membakarnya untuk memanggang kambing kita. Kalian toh tidak memerlukan lagi, sebab hari ini dunia akan kiamat.

Kisah cerdik seperti ini sering kita dengar. Orang tidak ingin begitu saja dilumpuhkan oleh bujuk rayu yang manis-manis. Hampir selalu ada pembalasan bagi suatu niat buruk.

Tentu saja pembalasan tidak sesuai dengan semangat hidup orang beriman. Pembalasan yang menambah luka dalam hidup manusia. Ada rasa sakit yang begitu mendalam. Ada benih kebencian yang tetap tersimpan dalam hati manusia yang menderita. Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah suatu ketulusan hati. Suatu kemurnian hati dan pikiran dalam menanggapi persoalan-persoalan hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita selalu dihiasi oleh ketulusan hati. Bukan tipu muslihat yang mendatangkan luka batin dan dendam. Karena itu, kita mesti berjuang untuk mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Kita mesti selalu memegang teguh nilai-nilai ketulusan dan kejujuran dalam hidup ini. Hanya dengan cara ini, hidup kita menjadi lebih baik dan berkenan kepada Tuhan.

Kita mesti ingat bahwa Tuhan selalu memberi perhatian kepada setiap orang, entah orang baik atau orang jahat. Tuhan selalu setia kepada manusia, meskipun manusia tidak setia kepada-Nya.

Tuhan memberkati.

Ilustrasi: Ketulusan Hati (foto diambil dari mundogestalt.com)

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

error: Content is protected !!
Close