Harian

Berkorban dengan Tulus Itu Indah, Rabu 6 Agustus 2014

Tiba-tiba daun dikagetkan oleh ulat yang telah berada di pangkuannya, setelah ada semilir angin meniupnya. Kata ulat, “Enak, ya, kau daun, setiap hari kau mendapat makan dari pohon. Sedang aku harus mencari makan sendiri.

Daun menjawab dengan tulus, “Seandainya saya dapat menolongmu, saya akan melakukannya dengan senang hati.

Merasa diberi lampu hijau, ulat memberanikan diri meminta. Ia berkata, “Bolehkah aku memotong sedikit bajumu yang indah ini? Aku lapar dan kelelahan.” Si ulat menggoyang-goyangkan daun.

Si daun berpikir sejenak. Ia merasa sayang harus memberikan satu-satunya pakaian yang dimiliki. Ia berpikir, “Jika saya berkata ‘tidak’, ia toh akan tetap melahapnya juga.  Tetapi, bila berkata ‘ya’, dia akan berterima kasih dan menikmatinya dengan kegembiraan dan kepuasan.

Akhirnya daun berkata, “Silakan, ulat sahabatku. Makanlah sepuasmu.

Ulat begitu bergembira atas kesediaan daun mengorbankan hidupnya untuk dia makan. Ulat dapat memperpanjang hidupnya. Ia tidak  perlu takut lapar atau kelelahan. Ia pun berterima kasih kepada daun atas pengorbanannya.

Berkorban itu indah. Setidak-tidaknya itulah yang kita dengar dari kisah daun dan ulat tadi. Daun mengorbankan hidupnya demi kelangsungan hidup ulat.

Dalam hidup sehari-hari, kita juga mengalami hal yang sama. Begitu banyak korban yang telah diberikan kepada kita oleh sesama kita. Ketika kita membutuhkan makanan, ada warung yang menyediakannya untuk kita. Pemilik warung dan pegawainya telah berkorban untuk kita. Yang penting kita memperoleh kehidupan. Yang penting kita dapat melanjutkan kegiatan-kegiatan harian hidup kita.

Namun ada saja orang yang mengeluh, ketika ia mesti berkorban untuk sesamanya. Mengapa bisa terjadi? Karena orang seperti ini kurang punya iman dan cinta kasih. Ia hanya memusatkan segala sesuatu pada dirinya sendiri. Ia enggan untuk berkorban bagi sesamanya. Bolehkah orang beriman bersikap seperti ini?

Orang beriman mesti berusaha untuk melakukan korban dengan tulus hati. Korban itu mesti didasari oleh iman dan cinta kasih yang mendalam kepada Tuhan yang disembah. Untuk itu, orang beriman mesti bercermin pada Tuhan yang telah mengorbankan begitu banyak hal baik bagi kelangsungan hidup manusia.

Tuhan telah memberikan diri-Nya sendiri untuk kehidupan manusia. Apa pun yang diminta oleh manusia akan dikabulkan. Karena itu, manusia mesti berani berkorban bagi sesamanya. Karena berkorban itu mendatangkan rahmat dan sukacita yang berlimpah bagi hidup manusia. Mari kita berusaha untuk berkorban bagi sesama yang kita jumpai dalam hidup ini. Tuhan akan membantu kita dalam usaha-usaha kita.

Ilustrasi: Pengorbanan Daun (foto diambil dari fieldnotesfromfatherhood.com)

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close