Harian

Mengganti Benci dengan Cinta Kasih, Senin 11 Agustus 2014

Ketika Mahatma Gandhi masih muda, ia berkata, “Kematian adalah pilihan terakhir orang yang hidup. Mati di tangan saudara ketimbang oleh penyakit, membuatku berdukacita. Dan jika aku bebas dari rasa marah atau benci terhadap penyerangku, aku tahu hal itu akan tercermin dalam kehidupan abadiku.

Tanggal 30 Januari 1948, pada usia 78 tahun, Nathuram Godse memuntahkan beberapa peluru dari pistolnya yang menembus dada dan perut Mahatma Gandhi. Ia pun berseru, “Oh, Rama”. Artinya Oh Tuhan. Itulah kata-kata terakhir Gandhi. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. India kehilangan seorang pemimpin karismatisnya.

Setelah pembunuhan, Perdana Menteri Nehru berpidato melalui radio. Ia berkata dengan lantang, “Cahaya telah mati dalam hidup kita. Kegelapan di mana-mana. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan dan bagaimana mengatakannya. Pemimpin kita, Bapa Bangsa kita, kini telah tiada.”

Hati rakyat India yang mendengar pidato itu menjadi gundah. Mereka sangat marah terhadap pembunuh Mahatma Gandhi. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mengapa? Karena Gandhi sendiri telah mengatakan bahwa ia tidak akan marah atau membenci penyerangnya. Suatu teladan yang dipegang teguh oleh begitu banyak orang.

Teladan yang ditinggalkan oleh Mahtma Gandhi itu bukan hanya untuk rakyat India. Tetapi juga untuk semua orang beriman. Marah terhadap orang lain itu mesti ditinggalkan oleh orang beriman. Mengapa? Karena marah itu tidak sesuai dengan semangat Tuhan. Tuhan tidak pernah memarahi umat, ciptaanNya. Tuhan justru membantu manusia untuk keluar dari dosa dan kenistaannya.

Kebencian yang sering tumbuh dalam hidup manusia itu mesti segera dilenyapkan. Mengapa? Karena benci itu merupakan akar dari dosa. Orang yang membenci sesamanya seringkali menimbulkan dosa-dosa lain yang lebih fatal. Orang dapat menghilangkan nyawa sesamanya, karena benci. Orang dapat memfitnah sesamanya, karena rasa benci yang tertimbun di dalam hatinya.

Peristiwa pembunuhan yang menimpa Mahatma Gandhi itu berasal dari benci. Gandhi yang begitu baik dan terbuka terhadap semua orang ternyata tidak disukai oleh sekelompok orang. Akibatnya adalah nyawanya mesti melayang. Ia mati sia-sia. Padahal kehadirannya sangat dibutuhkan oleh begitu banyak orang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk meninggalkan rasa marah dan benci dari diri kita. Hidup kita akan menjadi damai, ketika kita mampu melepaskan rasa marah dan benci dari kita. Kita isi hati kita dengan cinta kasih dan pengampunan. Dengan cara ini, kita mampu membahagiakan diri kita dan sesama kita.

Mari kita berusaha untuk senantiasa menumbuhkan cinta kasih dan kelemahlembutan dalam hati kita. Yakinlah, dengan cara ini dunia ini akan menjadi tempat yang aman dan damai bagi hidup kita. Tuhan memberkati.

Ilustrasi: Mahatma Gandhi (foto diambil dari www.santabanta.com)

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close