Harian

Jangan Cemas, Senin 18 Agustus 2014

Setelah ditunda dua hari karena alasan teknis, perbaikan mesin, akhirnya pesawat Fokker 27 yang ditumpangi para turis Jepang berangkat dari Denpasar menuju Sumba.Pada persiapan terbang, sebenarnya telah terjadi beberapa ketidakberesan di samping penundaan selama dua hari. Di antaranya adalah penyejuk udara yang tidak berfungsi sempurna, kelebihan daya muat yang membuat beberapa tas dan muatan harus ditunda.

Seorang pramugari berkata, “Semua beres.

Senyum pramugari yang ditebar di mana-mana ketika melayani kebutuhan penumpang tidak membuat kecemasan para penumpang hilang. Keadaan menjadi lain ketika dalam ketinggian tertentu sang pilot menolehkan muka ke penumpang, tersenyum, sambil mengacungkan ibu jari. Seolah-olah dengan itu, tidak ada masalah dengan pesawat yang sedang terbang di udara tinggi.

Begitu mendarat di pelabuhan udara Sumba, sekali lagi terlihat pilot dan para pramugari menebarkan senyum, berjabat tangan, dan saling mengucapkan selamat. Beberapa saat kemudian, terdengar pengumuman dari ruang tunggu bahwa penerbangan dari Sumba ke Denpasar ditunda untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Tahu beda antara senyum pramugari di udara dan ketika pesawat mendarat? Yang pertama adalah senyum penghiburan, yang kedua sungguh senyum kebahagiaan, keselamatan.

Kecemasan bisa terjadi dalam hidup kita. Hal itu wajar. Apalagi sesuatu yang dapat menyebabkan hidup manusia terancam. Kisah di atas mengungkapkan betapa sebuah senyum dapat mengubah hidup manusia. Senyum memberikan kekuatan dan harapan kepada manusia untuk tetap menjalani hidup ini. Karena itu, kita mesti senantiasa menghadapi hidup ini dengan enteng.

Orang yang menikmati kebahagiaan dalam hidup biasanya orang yang menemukan bahwa hidup itu sungguh berarti. Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam hidupnya. Tuhan begitu dekat dengan hidupnya. Karena itu, untuk apa merasa cemas dalam hidup ini? Tidak ada alasan untuk merasa cemas.

Orang beriman yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan biasanya mengalami sukacita dalam hidupnya. Ia tidak takut atau cemas akan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Baginya, hidup ini selalu dipenuhi dengan damai.

Sayang, di jaman sekarang banyak orang merasa dikejar-kejar oleh kecemasan. Mereka mengalami hidup ini kurang begitu berharga. Hidup ini terasa berat. Hari-hari terasa panjang dan penat. Mengapa orang mengalami hal seperti ini? Karena orang jauh dari Tuhan. Tuhan seolah-olah hilang dari hidupnya. Tuhan tampak begitu samar-samar. Biasanya orang yang hidup dalam suasana seperti ini belum mengalami damai. Ia mesti berjuang keras untuk mendapatkan damai itu.

Sebagai orang beriman, kita tentu tidak ingin hidup dalam suasana seperti ini. Kita ingin agar hidup kita menjadi berarti. Dalam hidup ini terjadi damai. Karena itu, satu-satunya cara adalah membiarkan Tuhan hadir dalam hidup kita. Kita menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Kita biarkan kehendak Tuhan terjadi atas diri kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang mengalami damai dan sukacita dalam hidup ini.

Ilustrasi: Senyum (foto diambil dari valeohealthclinic.com)

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

Check Also

Close
error: Content is protected !!
Close