Harian

Merenungkan Kematian Manusia (Jumat 12 September 2014)

Air mata itu masih meleleh di matanya.  Sesekali ia mengusapnya dengan sapu tangan merah tuanya. Tatapan matanya kosong. Dalam kesenduan, perempuan tua itu mengenang kembali kisah-kisah kasih yang telah dijalin begitu lama dengan suaminya. Tiga puluh tahun mereka telah hidup bersama. Bentangan waktu yang begitu panjang. Ia mesti hidup sendiri. Ia mesti mulai berjuang sendiri.

Kematian telah merenggut nyawa suaminya. Komplikasi penyakit telah membuat suaminya begitu menderita. Bayangkan, paru-paru suaminya bekerja tidak normal. Ada beberapa lubang di paru-parunya. Mungkin karena suaminya banyak menghisap asap rokok. Ada pembuluh darah di otak yang tersumbat, sehingga aliran darah menuju otak terganggu. Akibatnya, beberapa bulan sebelum meninggal ia mengalami stroke. Ginjalnya yang tinggal satu itu pun kurang berfungsi dengan baik. Penderitaannya begitu total.

Karena itu, perempuan tua itu pasrah. Ia menyerahkan seutuhnya nyawa suaminya ke dalam tangan Tuhan. “Tuhan, terimalah suami saya ke dalam pangkuanMu. Itu yang terbaik baginya,” doa perempuan tua yang masih tampak segar itu.

Namun air mata masih tetap meleleh. Itulah cinta yang masih hidup dalam jiwanya. Itulah cinta yang selalu menyemangati dirinya selama perjalanan panjang bersama almarhum suaminya. Dengan cinta itu pula ia akan melanjutkan jejak-jejak perjalanan hidupnya. Mungkin dalam diam. Dalam kesendirian. Lima orang anaknya sudah berkeluarga. Mereka punya tugas sendiri-sendiri untuk melanjutkan cinta dia dan suaminya.

Kematian itu kadang-kadang tampak kejam bagi mereka yang ditinggalkan. Kematian itu bak pencuri yang tiba-tiba menggerayangi rumah orang. Tiba-tiba kematian itu datang. Lantas ia pergi meninggalkan berkas-berkas kesedihan dalam diri mereka yang ditinggalkan. Cita-cita dan harapan yang sudah dibangun begitu lama seolah-olah sirna begitu saja. Tak berbekas.

Tetapi kematian itu saat-saat indah bagi mereka yang mengalaminya. Itulah titik kulminasi perjalanan hidup manusia. Kerinduan untuk berjumpa dengan Sang Pencipta dari muka ke muka terlaksana. Kepasrahan total mewujud dalam tidur panjang yang kaku. Setiap orang akan mengalaminya. Setiap orang akan memasuki lorong gelap kehidupannya. Setiap orang akan mengalami sukacita begitu berjumpa dengan Dia yang tersenyum menyambut kedatangannya.

Tetapi setiap orang beriman dituntut memiliki sikap penyerahan yang mendalam kepada Sang Khalik. Artinya, meski pengalaman kematian itu bagian tak terpisahkan dari hidup manusia, ia mesti memiliki disposisi yang baik kepada Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Kalau ini yang terjadi, peristiwa kematian itu bukan hanya suatu peristiwa biasa. Ini suatu peristiwa iman. Ini suatu wujud ungkapan iman yang mendalam kepada Yang Esa.

Tuhan memberkati.

Keterangan foto: Ilustrasi dari www.infooggit.it

Tags

RP. Frans de Sales SCJ

Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); sekarang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang dan Ketua Signis Indonesia; pengelola majalah "Fiat" dan "Komunio" Keuskupan Agung Palembang.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close