KWI

Silaturahmi FKUB Indonesia ke KWI

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

BERTEMPAT di Ruang Rapat lantai II Kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Ketua Presidium KWI Mgr. Ignatius Suharyo, menerima  7 utusan dari pengurus Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Indonesia. Uskup Suharyo ditemani Sekretaris Eksekutif KWI RD. Edy Purwanto, Kepala Dokumentasi dan Penerangan KWI RP. Adisusanto, SJ, dan Sekretaris Komisi Komsos RD. Kamilus.

Para Pengurus FKUB Pusat dalam kunjungan ke KWI (Foto Kmsos KWI)

Para Pengurus FKUB Pusat dalam kunjungan ke KWI (Foto Kmsos KWI)

Jajaran KWI menyampaikan apresiasi positip atas inisiatif pengurus FKUB pusat yang mengadakan silaturahmi di kantornya konferensi para uskup Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung dari pukul 10.00 sampai 11.35 ini membahas beberapa agenda penting seputar relasi antara umat beragama di Indonesia.

Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama H. Mubarak, SH, MSi mengawali pertemuan tersebut dengan menyampaikan maksud dan  tujuan kahadirannya di  KWI. “Kami ingin bersilaturahmi dengan majelis Gereja Katolik yang dalam sejarah keberadaan FKUB baru pertama kali datang ke kantor KWI ini”.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa FKUB ingin mendengar masukan dari organisasi keagamaan mengenai hal penting yang perlu mendapat perhatian oleh Kementerian Agama ke depan.

Hal ini dipertegas oleh KH. Syafii Mufid, Ketua FKUB DKI Jakarta, sekaligus Ketua Tim silaturahmi FKUB Pusat ke KWI.

“Pemerintah ingin mendengarkan masukan dari pimpinan agama bagaimana caranya agar kehidupan beragama di Indonesia semakin baik? Apakah pelayanan dari Kementerian Agama selama ini sudah semakin baik? Sikap bijak apa yang perlu diambil menghadapi perkembangan komunitas-komunitas kecil keagamaan yang ingin mendapat pengakuan dari pemerintah?”

Hal-hal inilah yang ingin digali oleh FKUB dari silaturahmi ke organisasi-organisasi  keagamaan yang ada di Indonesia, termasuk dari  KWI.

Menanggapi beberapa harapan pengurus FKUB Pusat ini, Ketua Presidium KWI Mgr. Ignatius Suharyo mengawali tanggapannya dengan menjelaskan hubungan kerja KWI dan Keuskupan. Pada prinsipnya KWI bukanlah ‘atasan’ dari 37 keuskupan di Indonesia. Setiap keuskupan adalah otonom dan bertanggungjawab langsung kepada Paus selaku pimpinan tertinggi gereja katolik sedunia yang berpusat di Vatikan

Lebih lanjut, Monsinyur Suharyo menjelaskan, di Indonesia ada Duta Besar Vatikan. Ia berperan sebagai duta besar mewakili Vatikan untuk Indonesia, namun di sisi lain ia juga sebagai nuntius aopostolicus mewakili Vatikan dalam hubungan  dengan  Gereja Katolik Indonesia.

Mgr. Suharyo didampingi para romo sekretaris (Foto Komsos KWI)

Mgr. Suharyo didampingi para romo sekretaris (Foto Komsos KWI)

Cita-cita Gereja Katolik Indonesia untuk umatnya

Terinspirasi oleh semangat Mgr. Albertus Soegijapranata, Uskup pribumi pertama, maka  Gereja Katolik Indonesia tampil dengan semangat 100% Katolik dan 100 % Indonesia. Dengan inspirasi utamanya adalah iman katolik dan semangat perjuangnya sebagai warga negara Indoensia.

Mgr. Suharyo, menjelaskan bahwa “Kami mencoba menerjemahan semboyan Uskup Soegijapranata dengan sebuah pertanyaan hakiki: Apa yang harus kita lakukan supaya lingkungan hidup kita semakin manusiawi?”

Menurut Ketua KWI ini, pertanyaan seperti ini lahir dari pribadi yang memiliki kompetensi tertentu yakni semangat belarasa dan kerjasama. Gereja katolik Indonesia hidup dalam  iman akan Allah yang adalah kasih. Iman yang diungkapkan dan diwujudkan. Iman yang diungkapkan dengan doa, kebaktian dan diwujudkan dengan perbuat kasih kepada sesama.

Keterangan foto: Pertemuan FKUB Indonesia dan Ketua KWI di Ruang Rapat lantai II KWI. (Dok. Komsos KWI)

Share.

About Author

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; sekarang berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

5 Comments

  1. Dr.KH. Muntaha Nour. MA. on

    Kerukunan antar umat beragama di indonesia nampaknya semakin membaik dengan kedewasaan umat umat beragama, bukti nyata adanya perayaan hari besar masing masing agama sudah tak ada lagi ketersinggungan sehingga kondisi sangat kondusif. Hal ini disebabkan semakin sadarnya arti kedamaian dan kerukunan.

  2. Dr.KH. Muntaha Nour. MA on

    Dr.KH.Muntaha Nour. MA
    Komunitas Kesucian yang ada di indonesia nampaknya sangat pantas bila dijadikan percontohan sebab komunitas tersebut tidak membedakan agama alias sangat pluralis sebab yang dipelajari adalah pengetahuan ketuhanan.

    • Selamat malam, Dr. KH. Muntaha Nour, MA. Di tengah situasi hubungan antar-agama yang sering ditandai dengan konflik, kemunculan komunitas hidup beragama
      termasuk Komunitas Kesucian, tentu menjadi sebuah kerinduan bersama apalagi Komunitas tersebut sangat pluralis. Tanpa melupakan akar keagamaan masing-masing, orang-orang yang berkumpul di Komunitas tersebut diharapkan dapat melakukan sharing kehidupan iman dan tidak hanya sekedar belajar tentang pengetahuan ketuhanan.

    • Dr. KH. Muntaha Nour, semoga semangat persaudaraan yang semakin berkembang dewasa ini terus menginspirasi semua anak bangsa untuk menjaga kerukunan dan persaudaraan.