OPINI

Kepemimpinan Religius Versus Kepemimpinan Yesus (Mengintip Model Kepemimpinan Yang Eksamplis)

Prolog

Socrates, filsuf besar Yunani pernah berujar demikian : Ho de aneksetastos bio ou biotos Anthropoi, artinya hidup yang tidak direflekasikan adalah “hidup yang tak pantas dihidupi”. Refleksi Socrates ini selalu dihayati dan dimaknai oleh kaum religius sebagai upaya kisah kasih anak-anak manusia, yang tidak pernah lepas dari suatu pencaharian hati menanggapi kehendak Allah. Tuhan mungkin saja bertanya, bagaimana dengan anda, orang-orang pilihan-Ku? Kenalilah dirimu sendiri. Jadilah pemimpin yang mampu mengenal diri dan dikenal kawanan domba yang digembalakan.

 Kehidupan Masa Kini

Kita sedang berada dalam situasi dunia yang sangat dinamis. Dinamika itu ditandai dengan  perkembangan yang begitu pesat dalam segala bidang kehidupan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan ,teknologi informatika dan komunikasi yang kerap menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan religius. Dunia tampak semakin sempit dan kecil, dimana dengan mudahnya komunikasi dapat terjalin walau tanpa adanya batas privasi dan tatap muka. Para pelakon panggung dunia telah menggeser ruang “Factual” menjadi ruang “Maya”. Dengan layar Monitor, Hp, IP Pad bisa menimbulkan canda, tawa ria, berbagi pengalaman hidup (curhat), seolah-olah sedang berada dalam ruang lingkup yang sama. Banyak orang lebih mementingkan gadget yang mereka miliki dari pada relasi personal dengan orang sekitarnya. Betapa dunia menjadi begitu “dekat” dengan kehadiran piranti-piranti dari teknologi komunikasi dan informatika dengan berbagai cara seperti BBM, WhatsApp, Facebook, Twitter, Skype, Just Voip, Line dan jejaring sosial lainnya. Sehingga di satu sisi, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Namun, di lain sisi manusia justru teralienasi (terasing) dari sosialitas karena lingkungan sekitar tak lagi mendapat perhatian kita. Saat butiran air mata menjadi saksi ketidakadilan, kebencian, kesulitan ekonomi dan kehidupan sosial menimpa sesama disamping kita….masihkah ada satu penghiburan untuk setiap luka yang sedang mereka alami?.

Roh hedonisme yang sedang menyusup ke setiap hati dan budi manusia Indonesia saat ini, termasuk juga kepada kaum religius tanpa kecuali. Manusia tidak lagi memiliki ketahanan untuk menyangkal bujuk rayu produk-produk terbaru dan derasnya perkembangan produk baru ini tidak dapat diimbangi lagi dengan sikap kritis untuk menolaknya. Bagaimana kehadiran pemimpin religius dalam menyikapi situasi ini?.

 Kepemimpinan Religius

Sejatinya, menjadi pemimpin adalah orang yang siap melayani. Melayani berbagai macam kebutuhan, keluhan, pendampingan, membela kebenaran dan keadilan sampai pada pengembangan semua pihak yang ada dalam naungan kepemimpinannya. Kaum religius saat ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kepemimpinan tanpa pamrih: antara lain : menjadi pimpinan tarekat atau kongregasi, pastor paroki, ketua yayasan, kepala sekolah, rektor dan masih banyak lagi. Singkatnya, kaum religius adalah public figure. Apapun jenis tugas yang mereka emban kerap kali bersentuhan dengan kepemimpinan. Pemimpin religius diharapkan mampu menjadi agent of change pada zaman yang tunggang langgang ini. Pemimpin religius zaman ini juga diharapkan menjadi pemimpin yang tranformatif yang mampu membawa pengaruh positif bagi umat yang sedang digembalakannya, bukan hanya memimpin di altar tetapi juga masuk ke pelataran realita umat yang sedang menanti kehadirannya. Menjadi seorang pemimpin religius yang baik tidak hanya bagaimana memberikan teori-teori yang dapat mengubah sikap seseorang, tetapi juga harus menunjukkan contoh yang nyata melalui sikap dan tingkah laku, memiliki sikap rela berkorban bagi semua sebagai teladan hidup yang ditampilkan, dan mampu membawa mereka kepada perubahan hidup yang bermartabat sebagai anak-anak Allah dan membebaskan mereka dari keterkungkungan akibat dosa-dosa sosial secara khusus bagi semua orang yang dipimpinnya dan  secara umum bagi umat Tuhan serta mampu meneropong dunia masa kini dengan membentangkan sayap kepemimpinan untuk melindungi mereka dari keterlantaran oleh musim instan yang nyaman dan menarik itu. Sering terdengar Pemimpin religius terkesan menjadi pemimpin belakang meja atau memimpin tapi hanya melipat tangan. Di kantor sering diucapkan tentang pemimpin yang tidak hands-on dan seterusnya. Kadang masalah sudah terlalu besar dan kronis hingga tidak terselamatkan lagi semata-mata karena sang pemimpin tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana. Belakangan ini kerap kita baca tentang Participative Leadership, Pemimpin yang terlibat dalam seluruh rangkaian tugas dan system, dan tahu apa yang sedang terjadi. Yesus adalah pemimpin besar. Yesus bisa sibuk mengajar tentang teologi dan kosmos atau sibuk mengadakan mukjizat dimana-mana. Namun Dia juga tahu kapan Petrus perlu bantuan misalnya saat mertua Petrus sedang sakit demam dan butuh disembuhkan.

Menjadi ironis saat seorang pemimpin religius menjadi pribadi-pribadi yang angker dan sulit didekati. Tak dapat dipungkiri bahwa situasi dunia seperti yang diuraikan di atas menjadi tantangan yang berat untuk pemimpin religius saat ini. Para religius yang menjadi pemimpin di tantang untuk memiliki disposisi batin sebagai pribadi yang berani menentang tawaran dunia yang menggiurkan. Pemimpin religius hendaknya memiliki kemampuan untuk menolak hal-hal yang tak berguna bagi perkembangan hidup rohani dan mampu membawa umat Allah pulang dari pelarian yang salah. Hal ini mengajak seorang pemimpin religius untuk mencontoh gaya kepemimpinanYesus. Bagaimanakah gaya kepemimpinan Yesus itu? Ironis jika kehidupan religius yang dikenal dengan orang yang mempersembahkan hidup untuk sampai ke tanah terjanji  pelan-pelan terdistorsi oleh zaman modern dan menjadi korban perkembangan era baru yang menawarkan sejuta kenikmatan dan kenyamanan.

 Gaya Kepemimpinan Yesus Kristus

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat, 20 : 26) demikian dikatakan oleh Yesus kepada para muridnya. Hal ini ingin menunjukkan kepada para pemimpin religius bahwa seorang pemimpin religius adalah pelayan rohani yang peduli akan masalah manusiawi dan alam serta mampu membawa umat kepada Allah mengurusi hal-hal Kerajaan Surga. Hal ini sudah dipraktekkan oleh Yesus sendiri. Yesus tidak hanya duduk manis di Bait Allah tetapi  membentangkan sayap pewartaan dengan melakukan pelayanan kasih. Memperkenalkan Kerajaan Allah yang senantiasa bekerja dalam kehidupan manusia dan menjawab keluhan setiap umat yang dilayaninya melalui pewartaan Kerajaan Allah dengan melakukan pengajaran sabda, penyembuhan bagi yang sakit, membangkitkan orang mati, memberi pengharapan bagi yang putus asa, memberikan penghiburan untuk setiap duka. Sikap kepemimpinan Tuhan Yesus yang maju melayani orang lain dengan hati hamba mencerminkan kepemimpinan yang menghasilkan pengaruh yang kuat. Yesus sebagai pemimpin bukan hanya mengorbankan diri dan perasaannya sebagai manusia biasa tetapi juga mengorbankan nyawanya. Membasuh kaki para murid-Nya merupakan sikap kerendahan hati yang sejati.  Ini menunjukkan kerendahan hati yang sejati. Yesus membuka tali kebesaran-Nya untuk melakukan pelayanan. Yesus menjadi pemimpin yang sinergik dan transformatif pada zamannya. Pelayanan menjadi prioritas dalam kepemimpinan Yesus.  Kepemimpinannya sangat didasari oleh cinta kasih.

Yesus mendelegasikan tugas kepemimpinannya kepada Santo Petrus dan Para Rasulnya serta berlanjut kepada hierarki gereja (kaum religius) saat ini. Oleh karena itu, umat Allah sedang menanti kehadiran pemimpin yang mampu membawa mereka ke jalan yang benar. Jalan kebenaran itu adalah Kristus sendiri, yang memproklamirkan diri-Nya sebagai : Ego Eimi sum Via, Veritas et Vita, Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Yesus mengajarkan kerendahan hati saat dunia mengajarkan kesombongan, prestise dan harga diri. Maka, hendaknya kaum religius harus benar-benar tampil sebagai pemimpin yang memimpin dengan contoh, lead by example.

Sebagai pemimpin religius, dalam tugas pelayanan terkadang berbenturan dengan anggota yang ada dalam kepemimpinannya. Namun, seorang pemimpin haruslah memiliki jiwa besar. “Ia harus berlapang hati, berwawasan luas, sanggup merangkul semua dan menyatukan semua orang menjadi satu. Seperti doa Yesus bagi para rasul-Nya, Ut Omnes Unum Sint, semoga mereka semua bersatu”. Secara khusus, Yesus sang Guru dan pemimpin, mengajak para pemimpin religius untuk benar-benar memberikan teladan dan contoh nyata bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kaum religius harus mengajarakan cara berbicara dengan berbicara, cara membaca dengan membaca, cara bekerja dengan bekerja dan cara mencintai dengan mencintai, cara berkorban dengan berkorban. Tiada kepalsuan di dalam dirinya.

 Epilog

Dimensi hidup religius sesungguhnya  adalah tanda akan dimensi eskatologis jika hal ini sungguh-sungguh dihayati. Oleh karena itu, tuntutan hidup kepemimpinan religius menjadi begitu berat karena situasi jaman “menghendaki” untuk meninggalkan nilai-nilai kepalsuan hidup. Dalam kenyataan keseharian, semakin hari kehidupan religius mulai terserat pada arus dunia. Situasi dunia dengan sendirinya masuk dalam hidup religus karena memang ruang dimana para religus hidup tidak bisa dilepaskan oleh situasi dunia. Apa yang dialami oleh para religius saat ini adalah bagian dari sejarah panjang kemajuan jaman. Apakah yang terjadi sekarang itu salah? Pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab, karena setiap hal yang dikerjakan oleh para religius tentunya memiliki pertimbangan dan alasan tertentu sesuai dengan kebutuhan bersama. Hanya ada satu barometer yang bisa dijadikan tanda untuk mengenali situasi ini yaitu ketika kehidupan religius mulai meninggalkan hidup doa dan komunitas, mereka akan kehilangan kontak dan relasi yang intim dengan DIA yang telah memanggil dan memilihnya. Saat itulah cara hidup mereka sudah larut dalam persoalan-persoalan duniawi.

Kepemimpinan Yesus sendiri adalah kepemimpinan berbasis pelayanan. Sesungguhnya kepemimpinan model ini adalah sumbangan untuk menjadi pemimpin otentik ditengah pertarungan dunia dimana makna pelayanan menjadi dangkal. Kehidupan para religius yang menjadi pemimpin tidak berada ditengah-tengah situasi ini dan dituntut untuk tetap seutuhnya menjadi pelayan. Itulah makna mengikuti Kristus, menjadi pelayan.  Semoga pemimpin religius saat ini mampu meneruskan figur kepemimpinan Yesus sendiri yang diikutinya.

Keterangan foto: Yesus membasuh kaki para muridNya, ilustrasi dari kubriyangterbaik.blogspot.com

Tags

Sr. Angela Siallagan, FCJM

Anggota dari Kongregasi FCJM (Franciscanae Filiae Sanctissimae Cordis Jesus et Mariae). Suster-suster Fransiskan puteri-puteri hati Kudus Yesus dan Maria, yang berkarya di Pematang Siantar, Keuskupan Agung Medan

Related Articles

Check Also

Close
error: Silakan share link berita ini
Close