Harian

Menasihati Sesama di bawah Empat Mata: Rabu 24 September 2014

Ada seorang ibu yang merasa dikhianati oleh suaminya. Padahal sudah tiga orang anak gadis yang ia berikan untuk suaminya. Suaminya punya selingkuhan. Tidak hanya itu, selingkuhannya itu punya seorang anak lelaki. Ibu itu tidak habis pikir, mengapa hal itu bisa terjadi. Dua puluh tiga tahun mereka telah hidup bersama sebagai suami istri, tetapi mengapa hal seperti itu bisa terjadi?

Namun ibu itu tidak kehabisan akal. Ia berusaha untuk tetap setia kepada suaminya yang sah itu. Ia tetap memperhatikan suaminya, kalau ia pulang kerja. Ia membuatkan minuman kesukaan suaminya. Ia memasak makanan kesukaan suaminya. Kehangatannya terhadap suaminya tidak pernah berubah.

Sang suami merasakan semua kebaikan dan perhatian istrinya. Ia pun berusaha untuk tetap memberi perhatian kepada istrinya. Hingga suatu saat ia mengakui kesalahannya kepada istrinya. “Saya sudah salah melangkah. Saya mohon ampun. Ampuni saya,” pinta suaminya.

Istrinya menatap mata suaminya. Ia pun menganggukkan kepalanya. Ia memaafkannya. Tetapi ia menuntut agar suaminya tetap bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebagai tanda pertobatan, ia minta suaminya untuk meninggalkan selingkuhannya. Namun ia juga minta agar suaminya memenuhi kebutuhan hidup anak dari hasil selingkuhnya itu.

Kisah seperti ini seringkali kita dengar. Namun yang sering terjadi adalah keributan demi keributan. Rebutan harta, rebutan anak dan perkelahian. Kisah tadi menampilkan sisi yang lain. Sisi pengampunan dan pertobatan. Orang beriman itu orang yang selalu mengampuni sesamanya yang melakukan dosa dan kesalahan. Orang beriman itu senantiasa murah hati dan besar belas kasihnya kepada sesamanya.

Tetapi orang yang berdosa dan bersalah itu juga mesti menunjukkan kerelaan untuk bertobat. Artinya, orang beriman mau berbalik kepada Tuhan yang begitu baik kepadanya. Pertobatan itu mesti ditunjukkan dalam perbuatan nyata. Tidak hanya janji-janji di bibir saja.

Dalam pengajarannya, Yesus menekankan pentingnya memenangkan sesama yang jatuh ke dalam dosa. Biasanya dalam hidup ini, orang berdosa itu dibiarkan begitu saja. Atau ditinggalkan banyak orang, karena dianggap sebagai pengganggu dalam kehidupan bersama. Namun Yesus ingin agar orang beriman membantu sesamanya yang berbuat dosa. Caranya adalah dengan menegurnya di bawah empat mata. Tujuannya agar orang yang berdosa itu tidak dihakimi secara massal.

Kalau orang berdosa ini mendengarkan nasihat, dia dapat bertobat dan kembali kepada Tuhan yang mahapengampun. Mengapa Yesus menginginkan pengampunan, bukan hukuman? Karena Tuhan itu baik. Tuhan selalu penuh perhatian kepada manusia. Tuhan itu mengasihi manusia. Kasih Tuhan itu tanpa batas.

Karena itu, mengampuni itu menjadi bagian dari hidup orang beriman. Orang yang sungguh-sungguh beriman itu mau berusaha agar sesamanya yang berbuat dosa dapat bertobat. Pertobatan itu pintu masuk ke dalam hidup yang bahagia. Alangkah indahnya memikili satu orang yang bertobat daripada punya satu juta orang yang dengan angkuh memfitnah sesamanya yang berbuat dosa.

Tuhan memberkati.

Keterangan foto: Kebahagiaan manusia hanya ada dalam Tuhan, ilustrasi dari katolisitas.org

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close