Beranikah aku berkorban? (Renungan Hari Pangan Sedunia, 5 Oktober 2014)

4

Minggu Biasa XXVII

Yes 5: 1-7, Flp. 4: 6-9, Mat 21: 33-43 

BERANIKAH AKU BERKORBAN?

 “Mereka menangkapnya dan melemparkannya  ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.” (Mat 21:39)

 Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat isteri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening isterinya dan bertanya, ‘Bunda, sudah mandi belum?’ Isterinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, ‘sudah yah.’ Isterinya beranjak dari tempat tidur menyiapkan makanan untuk suaminya. Sore itu isterinya memasak makanan kesukaan sang suami.

“Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah”. Tudung makanan di meja makan dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya. Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Isterinya bertanya, “Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak-anak paling tidak suka sama kepala ayam.” Suaminya menjawab, “Itulah sebabnya, karena kalian tidak suka, maka ayah suka makan kepala ayam supaya isteriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.”

Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara dari mata sang istri mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah terpikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus suami terhadap dirinya dan anak-anak. “Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu.” ucap sang isteri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.

Saudari-saudara yang terkasih, berkorban…itulah jalan yang dipilih oleh Yesus. Ia siap dicaci maki, disingkirkan, dihina, disalib dan bahkan mati dengan keji, karena siap berkorban. Berkorban untuk kita. Bacaan hari ini mengatakan kepada kita bahwa hidup Yesus akan menerobos penderitaan dan sengsara. Tetapi Dia mau. Semua hanya untuk kita. “Aku mengasihimu…itulah yang dibuktikan kepada kita manusia yang berdosa. Jika dalam cerita diatas kita melihat pengorbanan seorang suami untuk keluarganya, Yesus lebih dari itu. Dia mau mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus kita dari dosa. Bagaimana dengan kita?

 Pertanyaan reflektif :

Siapkah aku berkurban?

Doa:

Tuhan, aku ingin meneladan-Mu. Ajarilah aku untuk selalu berani berkorban. Berkorban bagi siapa saja, tanpa pilih-pilih. Sehingga, hidup kami akan semakin berarti bagi sesama. Semakin mencintai dan melayani sesama, demi Kristus Tuhan dan juruselamat kami. Amin (RD Romanus Heri Santoso)

Keterangan foto: Aksi penyelamatan anjing di laut, ilustrasi dari arung-jeram.com

 

Share.

About Author

4 Comments