Tanggapan Resmi Keuskupan Ruteng terkait berita tentang Bapa Uskup Ruteng di Media Sosial

62

Dalam rangka menjawabi pertanyaan-pertanyaan umat tentang Bapa Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, yang akhir-akhir ini ramai tersebar di media sosial, kami ingin menyampaikan hal-hal berikut:

  1. Bapa Uskup Ruteng telah mengetahui dan mencermati informasi-informasi negatif tentang dirinya yang beredar di media sosial.
  2. Menghadapi hal-hal itu, beliau tetap merasa tenang dan tegar karena menurut beliau hal-hal itu tidak benar. Beban penderitaan dan penghinaan akibat pemberitaan negatif itu diterimanya sebagai salib yang harus dipikul baik sebagai Uskup maupun sebagai orang beriman Kristiani.
  3. Sebagai pemimpin Gereja Partikular Keuskupan Ruteng, Mgr. Hubert selalu berjuang menjadi gembala umat yang sejati dan menjalankan pelayanan imamat sebagai Uskup dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab.
  4. Mgr. Hubert selalu berusaha melayani sakramen-sakramen Gereja seperti ekaristi dan pernikahan sesuai cita rasa liturgi Gereja Katolik dan prinsip hukum kanonik.
  5. Dalam kaitan dengan penggunaan dana Keuskupan Ruteng, Mgr. Hubert selalu melaksanakannya sesuai prinsip hukum Gereja dan manajemen keuangan yang akutanbel, transparan dan bertanggungjawab. Keuangan Keuskupan Ruteng dikelola oleh Ekonom Keuskupan dan diawasi oleh Dewan Keuangan Keuskupan Ruteng.
  6. Mgr. Hubert memperlakukan Imam-imam dan Biarawan/wati di Keuskupan Ruteng sebagai rekan-rekan yang semartabat dan berusaha menghimpun mereka bersama seluruh umat Keuskupan Ruteng dalam semangat kolegialitas sesuai dengan moto imamatnya: “Kamu semua adalah saudara” (Mt 23:8).
  7. Dalam menghadapi Imam-imam yang mengundurkan diri dari imamat, Mgr. Hubert selalu memperlakukan mereka secara manusiawi dan dalam semangat kristiani, mengikuti prosedur hukum Gereja dan selalu melibatkan Kuria Keuskupan dan Dewan Konsultores Keuskupan dalam pengambilan keputusan.
  8. Keluarga besar Mgr. Hubert telah menerima seorang anak angkat dalam upacara adat di Taga, Ruteng dan hal ini telah diberitahukan oleh Mgr. Hubert kepada Duta Besar Vatikan (Nuntius) di Jakarta.
  9. Kami menghimbau seluruh umat untuk tetap menjaga suasana tenang dan damai. Hendaknya kita selalu memelihara dan memperjuangkan semangat persatuan, pengampunan dan persaudaraan dalam Gereja Katolik.
  10. Kami mengajak umat dan semua pihak untuk kritis dan selektif dalam menyaring informasi-informasi yang beredar di media sosial serta menggunakan media masa secara bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan bersama yang saling menghargai martabat satu sama lain, toleran dan menjunjung tinggi prinsip kebenaran dan kejujuran.

Marilah kita mendoakan dan mendukung Bapa Uskup, Mgr. Hubert dalam pelayanan kegembalaannya dan menyerahkan Keuskupan Ruteng ke dalam kekuatan rahmat Allah melalui dekapan kasih Bunda Maria.

 

 Ruteng, 4 Oktober 2014

     Vikjen Keuskupan Ruteng

    

Rm. Alfons Segar, Pr

Keterangan foto: Rm. Alfons Segar, Pr, Vikjen Keuskupan Ruteng.

Share.

About Author

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; sekarang berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

62 Comments

  1. AGUSTINUS PEDOR on

    Trimakasih atas penjelasan dan tanggapan yang resmi ini, semoga dapat menjadi acuan sikap bagi para pembaca khususnya bagi Umat Keuskupan Ruteng serta Umat Katolik umumnya. Adalah menjadi keprihatinan Kita semua atas isu yg beredar ini dan oleh karenanya adalah menjadi bagian yang sangat penting untuk ditanggapi secara cermat dan serius.
    Salam KASIH Dalam TUHAN

    AGUSTINUS PEDOR/Medan.

  2. Aleksander Dancar on

    Sekedar merenung (untuk diri) tentang pokok nomor 8. “Keluarga besar Mgr. Hubert telah menerima seorang anak angkat dalam upacara adat di Taga, Ruteng dan hal ini telah diberitahukan oleh Mgr. Hubert kepada Duta Besar Vatikan (Nuntius) di Jakarta.”

    Belum jelas untuk saya, siapa yang mengangkat (anak angkat itu). Kalau uskup yang mengangkatnya sebagai anak angkat, maka konsekuensinya, orang (umat) – paling kurang saya sendiri, akan dengan gampang berpikir atau merasakannya sebagai satu bentuk eksklusivisme dalam kepemimpinannya. Bukankah semua kita bersaudara dalam pembabtisan Kristen? Untuk seorang Uskup Hubert yang mengambil motto, “Kamu semua bersaudara”, apakah memang tidak seharusnya menghindari praktik “angkat-mengangkat” siapapun untuk menjadi anak angkat(nya) atau anak angkat keluarga besarnya? Bukankah semua umat(nya) telah dibabtis sebagai anak-anak Allah, dan diserahkan ke dalam kegembalaannya sebagai “anak-anaknya” juga?

    Salam

    Aleksander Dancar
    Mahasiswa Teologi di Gregoriana Roma

    • Benar sekali Pater San Dancar. Saya pernah membaca pemikiran Pater Paulus Budi Kleden dalam buku “Aku yang Solider, Aku dalam Hidup Berkaul”, terutarama dalam ulasan khusus tentang hidup selibat, bahwa fenomena keluarga (anak) angkat adalah sebuah noda dalam kehidupan kaul kemurnian. Saya lupa persisnya pada halaman berapa dalam buku itu. Dengan hidup murni, kita dibebaskan dengan ikatan apa saja dan dengan siapa saja termasuk “angkat-angkat” tersebut. Kita ada untuk semua orang tanpa kecuali, tanpa kekhususan dengan orang-orang atau keluarga-keluarga tertentu. Kita (apalagi uskup), mesti dibebaskan dari pengangkatan-pengangkatan seperti itu, apalagi ada upacara adat segala.

    • Saya sepandat dengan Pendapat Pater Aleksander Dancer.Soal “angkat mengangkat”(pihak keluargakah atau Bpk.Uskupkah?) kita kan banyak yayasan/panti asuhan, yang banyak ditangani oleh para suster dan awam kita.kaum klerus(biarawan/i) sejak ditahbiskan menjadi imam/bruder/suster mereka adalah milik gereja.Hidup mereka untuk gereja.Tanpa pilih kasih.!Mereka adalah Cahaya bagi gerejanya.Moto bpk uskup mat:23:8 “kamu semua adalah saudara”.adalah moto yang tepat. mari kita saling mendoakan, semoga hidup kita selalu dituntun oleh Roh Kudus….Roh Kebenaran.Biarlah kita menjadi orang-orang yang bijak…!

      Ben Sisko
      Denpasar.

  3. Inilah yg kami sbg umat tunggu-tunggu. Semoga Bapa Uskup tetap tegar dalam menghadapi situasi ini seperti teladan Yesus.

  4. Rm. Yos Remi Asnabun on

    Sy percaya seluruh umat keuskupan Ruteng ada di belakang gembalanya dan tidak mudah terpengaruh oleh hasutan2 anonim. Selmt berjuang Bapa Uskup Ruteng. Teruslah angkat tinggi2 obor kebenaran.

  5. Sebagaii umat khatolikk yg beriman kami sll mendoakan YM.Bapak.Uskup Hubertus…agar dlm menjalani tugas selalu diberkati…

  6. Saya senang sekali atas tanggapan resmi Keuskupan Ruteng terhadap petisi “miring” yang dibuat oleh kelompok GEMAS NTT itu. Jujur saja, sejak petisi itu diturunkan, tak henti-hentinya saya membombardir si pembuat petisi dengan pertanyaan dan argumentasi. Saya mengajak mereka berdiskusi, namun sepertinya kelompok ini hanya bisa menyerang tetapi tidak bisa menangkal serangan. Tak sanggup menjawab tantangan saya di forum petisi, mereka mengunci petisi itu dan menghapus semua isinya. Berdasarkan kejadian itu, saya secara langsung mengatakan kepada pemilik akun itu bahwa mereka sudah membuat rencana busuk. Empat kali mereka menghapus komentar saya. Saya berharap, kelompok ini harus segera dilacak dan dilaporkan ke pihak berwajib supaya mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Salam.

    • RD. Kamilus Pantus

      Pak Brian Tio, terima kasih untuk partisipasimu dalam membantu pihak Keuskupan Ruteng menanggapi berita buruk di media sosial tentang Mgr. Hubert. Pihak Keuskupan Ruteng, melalui Rm. Chen, salah satu anggota dewan consultores memberitahu kepada kami bahwa sedang dilacak siapa orang-orang yang masuk kelompok GEMAS NTT.

  7. Sama-sama, Romo. Syukur kalau ada usaha seperti itu, Romo. Kalau saya boleh kasih gambaran, kelompok ini sepertinya adalah orang-orang yang berada di sekitar mereka yang pro-tambang soalnya ketika saya menghubungkan mereka dengan aksi tolak tambang yang disuarakan oleh Mgr. Hubert, mereka lantas mulai merasa terganggu dan mengancam akan mencari letak lokasi saya, serta mulai menghapus komentar-komentar saya.

    • saya yakin sekali yang membuat isu tak benar untuk Bapak Uskup adalah perusahaan-perusahaan dan antek-anteknya yang mengeruk kekayaan Tanah Manggarai . Lawan terus !!

  8. sebagai bagian dari Gereja Katolik semesta… saya berada dibelakang Bapa Uskup.
    Hubungan KWI dan Gereja lokal yang dipimpin uskup adalah sederajat, bahkan Uskup Roma sekalipun.
    Tetap tegar lah Bapa dalam tugas dan pelayanan
    Karena Bapa Uskuplah wakil Yes us Kristus sendiri di daerah lokal.
    Teriring salam hormat dan doa kami sekeluarga.
    Tuhan Yesus memberkati anda.

    • RD. Kamilus Pantus

      BapakYoseph Agung, KWI adalah lembaga koordinasi antar para uskup Indonesia. KWI bukan atasannya uskup-uskup. Seorang Uskup dipilih langsung oleh Paus dan bertanggungjawab langsung kepada Paus.

  9. Susana Suryani Sarumaha on

    Saya cukup prihatin dengan berita2 d media sosial yang akhir-akhir ini terjadi banyak pemfitnahan….. Padahal menurut hemat saya, media sosial itu harusx menjadi satu sarana yg membawa suka cita n meningkatkan Persaudaraan.
    Doa kami sekeluarga untuk karya n pengabdian Mgr Hubert…..salam

    • RD. Kamilus Pantus

      Bu Susana, medsos menjalankan fungsi ganda, bisa mempublikasikan hal yang positip, bisa juga mempublikasikan pernyataan negatip. Pendidikan media harus menjadi perhatian banyak pihak seperti keluarga, sekolah/ pemerintah, Gereja.

  10. Kalau menurut saya, ada baiknya juga kita selidiki. Mungkin saja hanya isu, atau mungkin juga ada benernya. Sama – sama menjaga keuskupan ruteng dengan baik. Karena saya kurang setuju pernyataan pada poin nomor 5. Dan untuk pembuktiannya saya mohon maaf karena tidak bisa saya sampaikan pada diskusi ini.
    Kiranya kita sama – sama melihat atau selidiki. Semua manusia, ada kekurangan dan kelebihan

    • RD. Kamilus Pantus

      Pak Hendrik, pihak keuskupan Ruteng mengeluarkan tanggapan ini berdasarkan penyelidikan yang mendalam. Keuskupan Ruteng memiliki seorang imam yang bertugas sebagai ekonom. Dalam menjalankan tugasnya, ekonom dibantu oleh Dewan Keuangan Keuskupan.

    • Pak Hendrik memang mencemaskan membaca tulisan di media sosial berkaitan dgn situasi dikeuskupan Ruteng belakangan ini. Terlepas dr benar atau salah petisi itu kita perlu cermati dengan teliti. Artinya kita jgn cepat ambil kesimpulan bahwa pembeberan dlm petisi itu cuma fitnah. Dia berani menulis begitu dlm petisi itu jangan sampai dia punya data. Oleh karena itu gereja lokal keuskupan ruteng harus berani menambil sikap menyerahkan soal ini ke pihak kepolisian. Dengan demikian duduk persoalannya jelas. Benar atau salah pasti.Otomatis kecemasan dan penafsiran stop.

  11. Marius Serang on

    Sebagai umat katolik,sy smpat merasa sok ketika membaca kabr miring d dunia maya apalagi tentang seorg pemimpin tertinggi gereja dlm wilayah keuskupan ruteng. Apabila pihak keuskupan tidak menanggapix maka umat akan bertanya apakah berita ini benar adanya atau pihak gereja sedang memberikan pengampunan kepada org yg bersalah kepada kami? Sebagai umat sy mendukung upaya klarifikasi ataupun upaya hukum terhadap gemas ntt yg telah memuat berita trkait uskup ruteng. Semangat …. terus !

  12. Tarsisius janggal on

    Marilah saudara saudaraku, kita selalu mencetmati segaa informasi yang ada dengan segala kebajikan dan kerendahan hathi kita. SegLa upaya yang busuk untuk menjatuhkan gereja katolik terutama di gereja lokal manggarai adalah rencana yang tidak baik dan tidak elegan. Sebagai umat katolik lokal keuskupan ruteng kita tidak boleh lepas terpancing dengan isu2 miring yang mengatasnamakan gereja. Mereka sesungguhnya mempunyai rencana busuk, karena ketegasan bapak uskup dibeberpa hal yang tidak dapat diterima oleh beberapa kalangan uang mempunyai kepentingan tertentu…

  13. Romo Herman P. Panda

    Dari awal saya tidak percaya apa yang disampaikan tentang Mgr. Hubert dalam petisi itu, karena bertentangan dengan kenyataan tentang pribadi Bapak Uskup sejauh yang saya kenal.

    • RD. Kamilus Pantus

      Rm. Herman. Dalam refleksi Mgr. Hubert tadi pagi saat memimpin misa Krisma di Katedral Ruteng, melihat fitnahan orang terhadap dirinya ini sebagai Salib dalam tugasnya sebagai uskup. Mgr. Hubert tetap menjalankan semua program kerja tahunan.

  14. Petisi ini sudah ditutup dengan hanya 110 dukungan. Yang menggelikan adalah; Petisi ini ditujukan kepada Ketua KWI untuk memecat seorang Uskup. Ini saja sudah lucu. Dan yang lebih lucu lagi adalah bahwa dalam surat petisi tersebut sama sekali tidak disebutkan LATAR BELAKANG dan ALASAN mengapa mereka menyerukan petisi ini. Memangnya apa kesalahan YM uskup Hubertus..?????

    Juga bila ditelusuri, akun-akun yang mendukung petisi tersebut adalah akun yang benar-benar “baru dibuat” dengan rekam jejak cuma satu “action” yaitu mendukung petisi ini. Sangat mudah disimpulkan bahwa petisi ini dibuat dan didukung oleh orang/kelompok yang sama, lewat akun aspal.

    @Brian Tio,
    Bila memang benar ini ada hubungannya aksi penolakan tambang yang disuarakan oleh bapa uskup, maka marilah kita dukung beliau dalam doa-doa kita, semoga beliau dapat tetap tegar menghadapi fitnah yang sungguh keji ini.

      • Giovanni don Bosco Wora on

        Betapa kaget dan tersentak pikiran dan perasaan saya ketika mendapat informasi tentang petisi ini dari salah seorang umat di Oarai – Jepang. Saya membaca isi petisi ini berulang kali dengan rasa prihatin yang sangat mendalam kepada orang yang petisi ini. Untuk saya pribadi, orang yang membuat petisi ini adalah orang yang sangat tidak bijaksana karena menghakimi Yang MUlia Bp Uskup hanya berdasarkan rasa tidak suka atau ada dendam tertentu terhadap Yang Mulia Bp Uskup Hubert. Saya sampai kesimpulan seperti ini karena saya melihat tidak ada data faktual, semua data hanyalah sebuah kesimpulan sepihak dari si pembuat petisi. Point-point yang dibeberkan hanyalah memprovokasi orang lain untuk mnegambil sikap yang sama terhadap Yang Mulia Bp Uskup. Maka, himbaun saya kepada seluruh umat: mari kita mencintai gembala kita, siapa pun, dengan Kasih, dan bukan dengan kebencian atau dendam saat yang muncul karena kepentingan kita bertentangan dengan kebijakan sang gembala. Karena Kasih selalu mengajarkan untuk tidak memenangkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

  15. Tambahan :

    Nama bapa Uskup pun salah ditulis.
    Dalam surat petisi tertulis :

    … Menyerukan pemecatan Uskup Ruteng Mgr “Hubertus Ruteng” (Call for the suspension of Bishop Hubertus Leteng of Ruteng)

    Semakin jelas bagi kita bahwa ini semua hanyalah rekayasa.

    Salam
    Herman

  16. 1.
    Saya, sejak pertama kali membaca petisi/tahu info kisruh ini, mulai rajin membuka FB dan search di Google. Berharap di FB ada ceceran info krusial,,,,eh malah banyak pendapat pribadi berhamburan. Semua bicara sana-sini, dengan berbagai persepsi, lalu-lalang dari berbagai arah. Satu-satunya yg resmi adalah tanggapan di atas (setelah petisi di change.org)

    2.
    Benar kata teman2: Akun Gemas NTT tidak jelas. Siapa mereka? Kok sembunyi? Kita tidak boleh hancur hanya karena Petisi tidak jelas ini.

    3.
    Sebaiknya, pihak keuskupan Rtg harus menuntaskan kasus ini secara hukum, agar umat puas dan reputasi/nama baik Gereja tidak diinjak-injak. Tak ada keraguan bahwa kita akan suskes mengetahui siapa di balik peristiwa ini! Harus dibuka!
    Ini bukan sekedar tentang YM Uskup semata, tetapi ini juga menyangkut suasana hidup Gereja, berdampak pada warna-warni bathin umat di Keuskupan Rtg.
    Saya pribadi berharap: YM tetap tegak dan tetap tenang. Seperti memikul salib yg disebut beliau. Banyak umat berbaris di belakang YM (dan kalian semua yg melayani kami para umat), menunggu terang yg menuntun ke hidup Gereja yg damai dan indah, hari ini maupun kelak. Ingat: anak-anak muda sedang mempelototi kita! Mereka belajar meniru.
    Di media sosial, ada bervariasi argumen termasuk tanggapan atas (point-point) klarifikasi di atas, dgn dua arah: benar atau salah. Mengambang! Ini tak boleh dibiarkan, harus ada titik akhir di mana semua menjadi jelas dan umat akan lega.

    Salam sukses…

  17. Kalau yang melakukan ini adalah orang katolik, saya kira orang-orang ini adalah jelmaan yudas iskariot

  18. Ini adalah ujian bagi umat Katolik Ruteng yang dimana Uskup AgungNya di fitnah oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.bisa saja orang tersebut Sengaja mengeluarkan statement yang membuat kita semua Umat Katolik hilang kesabaran..JANGAN PERCAYA SEBELUM ADA BUKTI!!..

  19. Terima kasih atas tanggapan dr pihak keuskupan ruteng. Sy gemetar membaca berita ttg Yg Mulia bpk Uskup. Tapi keterangan romo dlm tanggapan, menanangkan sy. Doa kami semoga Bpk Uskup dapat melewati semua ini, n sungguh menghadirkan Yesus di tngah umat. Sebagai katekis, sy siap mewartakan kebenaran ini kepada umat dan anak didik yg bertanya.

  20. Terkadang, demi kepentingan Pribadi ataupun tuntutan situasi yang memojokan, banyak orang berusaha untuk keluar dari hal tersebut dengan segala cara, bahkan sampai pada tindakan yang keji menfitnah saudara sendir dalam Kristus. fitnaan yang di buat untuk Yang Mulia Kita Uskup Ruteng sangat tidak jelas dan tidak benar. Petisi yang dibuat juga sounds just like pengalihan situasi…….Jelas sekelompok orang ini takut akan sesuatu dan berusaha mencoba sesuatu………..that is uneducated way of looking way to survive……Uskup Ruteng dikenal dalam oleh semua umat bukan hanya Keuskupan Ruteng itu sendiri tapi juga dari keuskupan lainnya sangat arif dan bijaksana. kalangan imam sendiri yang merupakan mantan anak didik yang mulia pasti tau betul sepeak terjang Yang Mulia sebelum terpilih menjadi Uskup…mari kita secara iman dalam persaudaraan membangun Iman dan kehidupan menggereja kita kearah lebih baik dengan bersama menjaga citra dan karsa sebagai insan Katolik Sejati…………..

  21. Slmt pagi Romo,

    Sy mau mendapatkan klarifikasi saja berita di media sosial tentang foto yg terpampang di Gemas NTT, yang diduga pernikahan yang bohongan di salah satu Gereja di Bali, yang dalam berita media sosial itu menyebutkan ada keterkaitan dengan Pastor Paroki St. Markus Pateng.
    Pertanyaan apakah benar ada pernikahan itu..?
    Siapa yang ada dalam Foto2 (perarakan menuju altar)…….?

    Terima kasih, mohon maaf bila tdk berkenan.

    Terima kasih.

    • Pertanyaan, terlepas benar atau tidak isi petisi, adalah hal lain, tetapi yg menjadi pertanyaan apa kira-kira keterkaitan foto pernikahan dalam petisi tersebut.

  22. Waktu membaca petisi tsb saya sangat kaget sekali, tapi saya tak mau komentar dulu, karena saya ingin konfirmasi dahulu dg pastor paroki dan Bpk Uskup Dps (beliau teman baik Mgr.Hubert.

    Pagi sebelum pernikahan di mulai di Paroki kami GKMBSB, saya dan istri sempat berbincang bincang dg Mgr, saya mengenal beliau semenjak wakil rektor di seminari.

    Semuanya tak ada yg berubah dari beliau, kebapakan,ramah,tegas dan pemerhati yg baik bagi org2 miskin dan terpinggirkan.

    Waktu pesta pernikahan tsb memang tak banyak yg datang dan sederhana, dikarenakan mereka umat dari Paroki Denpasar, tapi para panitua manggarai nusadua dan beberapa umat nusadua hadir dlm Misa tsb.

    Sebelum peristiwa ini saya debat habis dlm pembelaan Mgr. Turang dg peristiwa tamparan didikannya pada pastor yg nyeleneh. Kemarin saya ingin debat pada si pembuat petisi tsb, tapi harus sign dulu baru bisa komentar, saya tak mau sign jadi tak bisa beri komentar argumentasi atau pembelaan demi mencari kebenaran yg hakiki,bukan pembenaran diri oleh kelompok yg buat petisi.

    Hal mejelekan atau mencari kesalahan pada YM.Mgr Hubert Leteng, saya rasa, kejadian ini bukan yg terakhir, akan ada uskup2 lain yg terkena gosip dari org dg maksud tertentu kurang baik.
    Maka kita harus waspada menanggapi hal2 gosip tsb, harus diselidiki dahulu dari sumber yg tepat dan dapat dipercaya…..dan terutama mari kita doakan para gembala2 kita setiap saat. Berkah dalem.

  23. Emanuel Dapa Loka on

    Semoga “tudingan” itu benar-benar kabar burung….. dan semoga keadaan menjadi lebih baik.

  24. Setelah mendengar dan membaca petisi ini, kami langsung mengecek ke pihak-pihak terkait di KWI, Ruteng, Kupang, Sibolga, dan Denpasar. Kesimpulan kami adalah petisi ini rekayasa untuk menjatuhkan nama baik uskup Ruteng (character assassination). Di media sosial kami membantah satu per satu poin dalam petisi itu. Biasanya pada petisi yang disiarkan melalui http://www.change.org itu dicantumkan nama jelas pembuat petisi. Namun, dalam petisi ini tidak dicantumkan nama pembuat, lalu tiba-tiba petisi ditutup. Ini berarti lempar batu sembunyi tangan. Jika air jernih di sebuah gelas diberi satu tetes kopi, air di gelas itu akan keruh dan tak mungkin kita kembalikan air itu agar tampak jernih. Nama baik uskup Ruteng telah dicemari dengan sengaja melalui petisi fitnah ini untuk tujuan ‘busuk’ pembuat petisi. Kami mendoakan uskup Ruteng yang menerima petisi ini sebagai salib. Sebagai anggota umat hendaknya kita tidak menambah beban salib gembala kita. Lebih baik kita membantu gembala kita agar salib yang dipikul dalam tugas pewartaan menjadi lebih ringan. Tetap semangat mewartakan Sabda.

  25. Sebastian Fedy on

    YM tidak boleh sekedar menganggap persoalan ini sebagai salib di pundaknya saja. Persoalan ini telah menjadi warna kusam di kalbu umat katolik Keuskupan Rtg. Yang harus dipikirkan juga adalah ribuan mata kaum muda katolik mempelototi obornya. Mereka belajar meniru. Maka masalah ini sebaiknya dibawa ke meja hukum, agar ditemukan titik terangnya. Klarifikasi tidak cukup utk meng-clear-kan persoalan, malah menimbulkan bias-bias persepsi yang menghujam gereja kita. Jika ada penyelesaian hukum, maka efek jera akan dialami pelaku petisi. Biar gereja kita tidak diinjak-injak. Umat pun akan lega, tak ada prasangka-prasangka buruk terhadap pelayanan gereja kita. Salam sukses… Tetap tenang dan tetap kuat YM…umat berbaris di belakangmu!

  26. Konstantinus Masry Parit on

    Suatu pukulan berat bagi gereja lokal keuskupan ruteng mendengar isu-isu yg cukup berani ini, entah siapa yg mula-mula menyebarkan isu ini tetapi sangat berani, saya mengusulkan dibentuk suatu tim penyelidik yg di isi oleh : imam dan awam untuk melakukan penyelidikan mendalam, sehingga bisa menguak aktor dibalik semua ini. jujur saja kami yg berada di tingkat KUB tdk terpengaruh dgn isu ini bahkan dlm kegiatan doa bulan maria justru isu nasional yg menjadi pembicaraan sedangkan isu-isu ini di percaya hanya fitnah belaka. salam hangat utk YM Bapa Uskup, doa kami beserta bapa uskup.

  27. Jelas sekali petisi ini adalah bentuk kampanye hitam menghancurkan karakter seseorang (baca: Mgr. Hubert Leteng). Biasanya kampanye yang ditelorkan change.org bermutu, tapi tidak untuk yang satu ini. Sayang sekali identitas Gemas itu sendiri tidak jelas, tidak seperti kampanye-kampanye lain yang jelas mencantumkan identitas yang dapat dihubungi jika ada yang perlu diklarifikasi. Terlepas dari “ketenangan dan ketegaran” Mgr. Hubert menanggapi hal ini, menurut kami identitas Gemas mesti ditelusuri (misalnya, dengan bantuan kepolisian) sebab hal ini sudah masuk dalam ranah pencemaran nama baik, kecuali pihak Gemas bisa membuktikan sebaliknya. Doa kami untuk yg terbaik untuk Bapa Uskup dan Gereja!

  28. johanes Bagut on

    Terimakasih respone keuskupan terhadap pemberitaan miring tersebut kami mencitaimu Gereja dan Keuskupan Ruteng…………….

  29. Alexander Philiph on

    Alangkah lebih baik mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemerintah Pusat/Daerah, biarkan Hirarki mengurus permasalahan Hirarki. Kita hanyalah awam dan bila ada kekurangan/kesalahan dari Hirarki, silahkan untuk membuat surat ke Keuskupan setempat. Jangan dibawa ke jejaring sosial.

  30. Saya sebagai orang Katolik sangat malu dengan berita miring ini.karena saya yakin sekali tidak mungkin Mgr sekeji itu.Mgr utusan Allah.gembala umat.memang benar dia msh berstatus sbg manusia bukan malaikat.pasti ada kelirunya.tetapi sampai dia melakukan hal seperti yang ada dalam berita ini.TIDAK MUNGKIN !.wahai kamu pembuat berita yang tidak berbobot BERTOBAT.saya orang Manggarai asli yg bekerja di luar manggarai.tapi hati kami tetap ada di sana.Buat bpk Mgr…tetap eksis dlm karya pewartaan di tanah ini.anggap saja semuanya itu adalah salib yg harus dipikul Mgr.Terus bentangkan Kerajaan Allah di tanah ini.musnahkan semua kekuatan iblis yang menggunakan orang2 yang tidak bertanggung ini.dan jangan kutuk mereka tetapi doakanlah mereka

  31. Yuvens Sebatu on

    Ketika membaca tuduhan terhdp YM Mgr Hubert, sbg warga gereja katolik dan orang Manggarai di perantauan, saya terkejut dan marah. Terkejut, krn kok ada ceritera “miring” mengenai Bpk Uskup. Tapi juga marah, krn mengapa ceritera seperti itu disebarkan lewat media sosial. Dua bln lalu saya libur ke Ruteng dan Bpk Uskup memberi Sakramen Krisma di Sita, di mana tinggal saudari saya. Di Ranamese ada gapura besar menyambut kedatangan Bpk Uskup. Saya kagum atas sambutan umat terhdp Gembalanya. Sbg umat Katolik, saya akui bhw Bapak Uskup adalah kelanjutan dari Para Rasul. Setiap kali bertemu Bapak-Bapak Uskup, saya selalu mencium cincinnya, sbg tanda hormat dan kasih. Sehingga begitu membaca ceritera itu, hati saya tdk terima. Saya tlp Pak Rikard Bagun – pimpinan Harian Kompas, yg menjawab belum mengetahui ceritera itu. Syukur, akhirnya saya baca tanggapan Romo Alfons Segar pr yg melegakan. Saya menghormati sikap Bpk Uskup atas berita miring tsb. Namun saya berpendapat, harus dicari pihak yg menyebarkan berita tsb dan mereka hrs mempertanggungjawabkan secara hukum. Sbg umat, kami tdk rela jika Bpk Uskup dilecehkan di media sosial dan kasusnya diampuni begitu saja. Dengan demikian kasus ini akan tuntas dan tdk akan terjadi lagi penyebaran fitnah terhadap pimpinan Gereja.

  32. Terima kasih banyak atas tanggapan resmi dari Keuskupan Ruteng. Terus terang saya merasa senang sekali karena kami sudah bisa membaca tanggapan dari Keuskupan Ruteng.

  33. Yosef E Jelahut on

    Yang Mulia Bpk Uskup Ruteng, isu di media sosial itu bertujuan untuk mengurangi ketaatan dan keseganan umat di keuskupan Ruteng kepada Yang Mulia Mgr. Robert. Sehingga kalau umat diperhadapkan dengan berbagai persoalan, termasuk soal tambang, penyebar isu mengharapkan agar umat Katolik Manggarai tidak lagi taat dan tunduk kepada arahan YM. Bapa uskup. Mohon maaf bila salah, ini analisis pribadi setelah mencermati berbai posting di medsos.

  34. Apapun bentuk tuduhan, fitnahan dan lain sebagainya terhadap Gereja Katolik umumnya, dan khususnya Mgr. Hubert Leteng, yang mengatasnamakan lembaga, ormas dan media jejaring sosial yang tidak jelas asal usulnya, bagi saya ini merupakan bentuk ekspresi diri untuk mencari dukungan dalam ketidakseimbangan menghadapi realita hidup, dengan cara menelanjangi diri sendiri dengan mengabaikan prinsipip-prinsip dasar kehidupan, lebih khusus prinsip dasar Greja Katolik.
    Bagaikan peran dan lakon oleh sang aktor dalam sebuah panggung sandiwara, yang tak jelas ujung pangkalnya, membingungkan, meresahkan bahkan menjijikan. Sejenak aku berpikir ” Sadarkah Aku Dalam Tindakan Ku” hanyalah Tuhan Yang Maha Tahu…
    Saran saya sebagai umat kristiani, marilah kita bersama-sama menjaga wibawah Gereja Katolik dengan menjunjung tinggi moralitas dan prinsip-prinsip dasar Greja Katolik. Tabe

  35. vincentius wun on

    Sangat saya sayangkan para pengguna media Sosial yang mentang-mentang tampi sebagai orang sok suci sambil lupa melihat diri sendiri yang penuh dengan balok besar di mata sendiri. Bapak Uskup maju terus kami ada di belakang Bapak Uskup sebagai penjaga gereja lokal Keuskupan Ruteng.Kami doakan Mgr. agar kokoh dan tetap dalam pelayanan Mgr. bagi Umat Keuskupan Ruteng. Ddoa kami menyertai Bapak Uskup.

  36. Cukup banyak kaum awam dan mungkin beberapa pastor kita yang tidak paham betul dengan panggilan kegembalaan seorang uskup, sehingga persepsi tethadapnya kadang keliru. Saya adalah awam biasa yg berusaha memahami tugasnya. Salah satu pemahaman saya terhadap tugas seorang uskup adalah memang ia sbg gembala umat tetapi ia tidak berhubungan langsung kpd umat namun terhadap para gembala2nya saja ( para pastor dlm wilayah keuskupannya). Karena itu seorang uskup harus lebih sering berjumpa dengan para pastor daripada lebih sering berjumpa dengan umat langsung. Adalah tepat bila uskup datang ke pastoran2, menginap di sana, menjalin hubungan intens dengan si pastor paroki daripada lebih sering kepada umat langsung apalagi menginap di sana.

    • Sebagai umat katolik saya berpikir klarifikasi dari Uskup Ruteng berkaitan dengan pemberitaan di media sosial beberapa wktu lalu tidaklah berhenti di situ. Dengan menjawab fitnahan dan cercaan sebagai salib . Kalau demikian secara tidak langsung kita membiarkan orang memfitnah dan mencerta. Oleh karena itu Pihak Keuskupan dlm hal ini Uskup Ruteng harus tegas dan berani melaporkan soal ini kepada pihak kepolisian agar mengusut si pemfitnah. Dengan demikian duduk persoalan jelas. Kita sebagai umat aksn lebih merasa puas. Kebenaran atau kesalahan ada kepastian.

  37. Membaca petisi pemecatan Uskup Ruteng sy tersentak kaget dan syok. Dalam hatiku muncul segudang pertanyaan: apakah data2 dlm petisi benar adanya? Apakah Uskup Hubert Leteng yg sy kenal sbg tokoh spiritualitas melakukan hal2 trsebut? Siapakah yg menulis semuax ini? Mash ada prtanyaan2 lainx.
    Membaca tanggapan resmi dr Keuskupan Ruteng aku mjd lega yg mana Keuskupan membantah semua tuduhan itu.
    Melalui media ini izinkanlah utk menyampaikan beberp hal brikut:
    Pertama, kita berdoa bg Uskup dan seluruh umat Keuskpn Ruteng agar tetap tenang dan semakin mempererat persaudaraan dan keakraban.
    Kedua, petisi ini dilihat sbg salib yg harus dipikul dan berharap dari salib ada kebangkitan baru dalam memajukan masa depan Gereja Keuskupan Ruteng.
    Ketiga, kalau sy cermati isi petisi di dalamnya memuat 3 kata kunci: KUASA, HARTA, WANITA. Ketiga hal ini kemudian disebut sbg 3 opium yg bisa menggerogoti peran dan tugas kita sbg pemimpin/gembala maupun sbg umat. Hendaklah kita jdkan isi petisi ini sbg momen utk merefleksi diri, memenej pola pastoral kita yg lbh menyapa dan merangkut semua org shg yg lain tdk merasa diasingkan dan akhirx mjd ‘pengkianat’ bg Gereja.
    Tabe. Tuhan memberkati kita sekalian.

  38. GEMAS NTT ytk dalam Tuhan,,
    Kamu hati-hati dengan kata-kata kamu. Lihat dulu di cermin dan perhatikan muka2 kamu, priksa diri sendiri baik2. kalau tidak Tuhan nanti hitung semua itu…..

    Terimakasih kpada semua pendukung Bpk. Uskup Hubertus.. Tuhan memberkati…

  39. Hendaknya ini menjadi Salib dan bahan Refleksi untuk kita semua, bukan hanya untuk YM. Bpk. Uskup Ruteng. Kita tetap melakukan hal yang benar untuk kemajuan Keuskupan dan kita lawan segala macam kebusukan dan kerakusan yang menghancurkan Masyarakat Manggarai.
    Uskup itu milik kita semua. Kalau kita mendukung Dia, kita beri masukan secara baik dan benar, bukan dengan cara-cara primitif, menebar isu di MEDSOS.
    Kami mendoakan YM Bpk. Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng. Semoga tetap Teguh dengan Tantangan ini. Amin.

  40. Saya tidak ada waktu membaca koment kawan-kawan menanggapi tanggapan resmi Keuskupan Ruteng. Bagi saya “tanggapan itu justru mengundang banyak pertanyaan baru.” Satu pertanyaan dari saya : Anak siapa yang diangkap Uskup tersebut? Saya sependapat dengan Aleksander Dancar, Mahasiswa Teologi di Gregoriana Roma.

  41. SAYA SEBAGAI UMAT DI KEUSKUPAN RUTENG MALU MEMBACA BERITA ITU HARAPAN SAYA SEMOGA MEREKA YANG MEMBUAT BEERITA YANG TIDAK BENAR ITU CEPAT BERTOBAT DARI FINAHAN INI…SALAM.

  42. isi tanggapan point 8 : ” Keluarga besar Mgr. Hubert telah menerima seorang anak angkat dalam upacara adat di Taga, Ruteng dan hal ini telah diberitahukan oleh Mgr. Hubert kepada Duta Besar Vatikan (Nuntius) di Jakarta ”

    yang saya tanyakan siapa nama anak angkat tersebut ???

  43. Salam Damai Kristus

    saya pernah menikah digereka katolik th 2004 dan pernikahan kami pernikahan campur.saya katolik dan istri saya dulu seorang muslim dan saat proses pernikahan kami tidak hadir satupun wali dari keluarga istri saya karena memang dari awal hubungan kami tidak disetujui dari pihak keluarga istri saya dikarenakan faktor ekonomi keluarga saya yg kurang mampu,setelah satu bulan pernikahan kami istri saya pergi meninggalkan saya dan kembali ke rumah orang tuanya dengan alasan kalau pernikahan kami digereja tidak sah dimata kepercayaan agama islam.saya berusaha untuk mendatangi dirmh orang tuanya untuk mencoba menjelaskan dan berharap kami hubungan kami bisa baik kembali tapi alhasil untuk bertemu dengan istri saya pun orang tua beserta keluarganya tidak memperbolehkan karena dimata mereka pernikahan kami tidak sah.akan tetapi istri berserta keluarganya menyuruh saya untuk menikah kembali dengan cara muslim (KUA) jelas saya langsung menolak tegas.alhasil saya tidak boleh lagi mencoba menemui.berkomunikasi lagi dengan istrinya saya..dan akhirnya di tahun 2007 istri saya menceraikan saya dipengadilan sipil didalam tuntutannya istri saya menggugat bahwa pernikahan dengan saya dilakukan dalam keadaan terpaksa .kemudian berselang 5bulan setelah disahkan perceraian kami dari pengandilan sipil istri saya menikah kembali dengan suaminya sekarang di KUA.saya mau tanya apa bisa saya mendapatkan pembatalan pernikahan saya dulu? berapa lama proses pembatalan pernikahan itu bisa sah dibatalkan.. mohon pencerahannya