HarianJendela Alkitab

Dari serakah ke ugahari (Renungan Hari Pangan Sedunia, 8 Oktober 2014)

Gal. 2: 1-2,7-14, Luk 11: 1-4

Dari Serakah ke Ugahari

“Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk 11:3)

             Dari bacaan Injil hari ini, khususnya ayat 3 “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”, dapat kita tarik implikasi dan pesan yang sangat praktis untuk merenungkan tema besar HPS 2014 yaitu “Pangan Sehat – Keluarga Sehat”. Implikasinya jelas: kita tidak memohon makanan secara berlebih dan juga kita tidak berniat menumpuk makanan itu. Tetapi cukuplah bila Tuhan memberikan apa yang diperlukan untuk hidup kita pada hari ini. Sebab di bagian Injil lain kita menjumpai sabda Tuhan yang mengajak kita untuk tidak kuatir atas hidup ini: “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan minum, …” (Matius 6:25 dst).

            Kalimat Injil ini terumus secara berbeda dengan kalimat dalam doa “Bapa kami” yang sehari-hari kita ucapkan. Dalam doa “Bapa kami” yang sehari-hari kita doakan dirumuskan “berilah kami rejeki pada hari ini”, sehingga juga mendapatkan pemaknaan ganda, yaitu makna duniawi dan makna surgawi. Dua pemaknaan itu terlihat dengan jelas dalam uraian Katekismus Gereja Katolik nomor 2861 “Dalam permohonan keempat “berilah kami “, kita mengutarakan dalam persekutuan dengan saudara-saudari kita kepercayaan kita sebagai anak kepada Bapa di surga. “Rezeki ” berarti makanan duniawi yang perlu bagi kehidupan kita semua. Ia juga menandakan roti kehidupan, Sabda Allah dan tubuh Kristus. Ia diterima “hari ini” dari Allah sebagai makanan hakiki yang tidak dapat diganti, yakni perjamuan pesta dalam Kerajaan Allah yang diantisipasi dalam Ekaristi.”

            Sejenak kita tinggalkan pemaknaan dan penafsiran mendalam di atas, kita akan lebih merenungkan implikasi dan pesan praktisnya untuk kita. Kebanyakan masyarakat modern dihinggapi pola hidup konsumtif (Latin – consumere: menghabiskan) yang secara spontan memberi kesan serakah. Sikap serakah itu juga mengembang dalam cara kita memenuhi apa yang akan kita konsumsi atau kita nikmati. Kita lebih menyukai makanan-makanan yang cepat saji (instan dan junk-food), yang jelas-jelas diindikasikan kurang atau bahkan benar-benar tidak sehat. Jarang sekali masyarakat kita jaman ini yang masih mau memproses penyediaan makanan yang akan dikonsumsi dengan pola-pola tradisional yang lebih banyak menyajikan makanan sehat dan bergizi.

            Akibat dari pola konsumtif yang cenderung serakah (dalam arti yang luas tadi: lebih menyukai budaya instan dan ritme atau pengaturan waktu makan yang sembarang) adalah semakin banyak warga masyarakat kita yang terserang penyakit-penyakit mematikan seperti obesitas (kegemukan berlebih), serangan jantung, stroke, diabetes, dll. Anehnya, penyakit-penyakit seperti itu tidak lagi menjadi monopoli kaum tua, tetapi sekarang sudah merambah ke orang muda atau bahkan remaja dan anak-anak.

            Sabda Tuhan hari ini secara amat praktis mengarahkan kita untuk mengembangkan gaya hidup yang dipenuhi sikap “ugahari” atau secukupnya atau sederhana. Kita mengonsumsi dan memenuhi keperluan kita sehari-hari dengan mengukur kemampuan kita. Dalam hal makan, sikap ugahari tercermin dalam cara makan sesuai dengan kebutuhan kita, yaitu kebutuhan akan kesehatan dan ukuran wajar yang diperlukan oleh tubuh kita.

            Maka rasanya penting untuk mengubah pola hidup serakah ke pola hidup yang ugahari, agar dengan mengonsumsi makanan sehat dan dalam ukuran yang wajar bagi pemenuhan kebutuhan kesehatan tubuh kita, maka keluarga-keluarga kita juga menjadi keluarga-keluarga yang sehat.

Pertanyaan reflektif:

  • Apakah kita selama ini benar-benar memperhatikan pola makan kita dengan mengutamakan jenis-jenis makanan yang sehat dan yang diproses secara sehat (alamiah) serta yang kandungan gizinya memenuhi keperluan tubuh kita?
  • Apakah kita pernah berhitung dengan cermat di tengah keluarga kita bahwa akibat dari pola konsumsi makanan-makanan yang tidak sehat itu biaya hidup untuk kesehatan (dalam jangka dekat, menengah, maupun jauh) akan menjadi lebih besar dan pada titik tertentu akan menjadi beban yang tak tertanggungkan oleh keluarga kita manakala anggota keluarga kita terkena penyakit-penyakit berbiaya mahal seperti tersebut dalam renungan tadi?

 Doa:

Bapa di surga Engkau, telah memenuhi kebutuhan hidup kami dengan menyediakan beragam jenis makanan sehat untuk kami olah secara baik dan kami konsumsi guna menopang kesehatan tubuh kami.

Namun karena keserakahan dan kemalasan kami Kami lebih kerap memilih jenis-jenis makanan yang hanya memenuhi kenikmatan lidah dan jenis-jenis makanan yang siap santap karena kemalasan kami untuk mengolahnya. Semoga dengan permenungan hari ini kami Kaujauhkan dari sikap serakah dan benar-benar mau mempertimbangkan makanan yang akan kami konsumsi. Baik dari segi jumlah, jenis, maupun dari segi manfaat/kegunaan makanan itu bagi tubuh kami. Semoga dalam semangat doa yang diajarkan Putera-Mu dalam kehidupan sehari-hari kami juga siap untuk selalu berdoa “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”. Demikianlah doa dan niat kami untuk suatu pertobatan ekologi agar dengan mengonsumsi makanan yang sehat keluarga kami juga menjadi sehat. Demi Kristus Tuhan kami. Amin. (RD Edy Purwanto)

Keterangan foto: Banyak kali kita berdoa seolah-olah mau mengatur atau mengendalikan Tuhan, ilustrasi dari pejesdb.com

Tags

RD. Edy Purwanto

Imam praja (diosesan) Keuskupan Agung Semarang; Direktur Kantor KWI dan Sekretaris Eksekutif KWI.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close