Teladan Kita

S. Kolumbanus, 23 November

Kolumbanus, biarawan misionaris Irlandia yang paling terkenal ini, hidup pada abad ketujuh. Semasa kanak-kanak ia mengenyam pendidikan yang baik. Ketika remaja, ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Ibunya tak dapat tahan akan pikiran bahwa puteranya ini akan meninggalkannya. Namun demikian, Kolumbanus merasakan panggilan yang amat kuat untuk melayani Tuhan dalam keheningan sebuah biara.
Setelah bertahun-tahun menjadi seorang biarawan di Irlandia, Kolumbanus dan duabelas biarawan lainnya bersiap berlayar ke Perancis. Ada kekurangan tenaga imam di sana. Umat Perancis terinspirasi oleh cara hidup orang-orang kudus ini. Para biarawan hidup dalam matiraga, devosi dan belas kasih. Banyak pemuda tertarik pada cara hidup yang saleh ini. Mereka datang dan mohon bergabung dengan para biarawan. Segera saja para biarawan membangun biara-biara lain sebagai tempat tinggal segenap pengikut St Kolumbanus.
Tetapi, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa peraturan-peraturan biarawan ini terlalu keras. St Kolumbanus juga harus menghadapi bahaya ketika ia memperingatkan raja atas dosa-dosanya. Sebagai akibat, ia dan para biarawan Irlandia harus angkat kaki dari Perancis. St Kolumbanus, meski telah cukup tua, masih berusaha mewartakan kabar gembira kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan di Switzerland.
Ketika usianya telah tujuhpuluh tahun, ia pergi ke Italia dan membela iman melawan serangan bidaah Arian. Dalam surat-suratnya kepada Paus St Bonifasius IV, St Kolumbanus memaklumkan bakti setia kepada Bapa Suci. “Kami semua orang-orang Irlandia, yang tinggal di bagian dunia yang paling jauh,” tulisnya, “terikat kepada Tahta Suci St Petrus.” Ia menyebut paus sebagai “pemimpin dari para pemimpin.” Di tahun-tahun akhir hidupnya, St Kolumbanus membangun sebuah biara besar di Bobbio, Italia. Ia wafat di sana pada tanggal 23 November 615. Setelah wafatnya, baik orang-orang Irlandia maupun orang-orang Italia membaktikan diri pada karya misioner yang mengagumkan ini.
“Suatu hak istimewa yang mulia bahwa Tuhan menganugerahkan kepada manusia citra-Nya yang kekal. Hendaknyalah kita mengembalikan citra kita dengan tiada bercela dan kudus kepada Tuhan dan Bapa kita, sebab Ia kudus. Hendaknyalah kita memelihara citra-Nya dengan kasih, sebab Ia adalah kasih. Hendaknyalah kita memelihara citra-Nya dalam kesetiaan dan kebenaran, sebab Ia adalah setia dan benar.”

diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close