SEPUTAR VATIKAN

Pesan Paus Fransiskus yang sangat dinantikan

 KUNJUNGAN Paus Fransiskus ke Filipina sudah lama dinantikan. Akan tetapi belum diketahui secara pasti apa pesan yang akan dia sampaikan kepada negara Katolik di Asia ini.

Ada jutaan orang yang akan berusaha melihat paus dari dekat untuk menerima berkatnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang miskin, mereka akan berdoa agar aura spiritual dan popularitas Paus Fransiskus membawa pengaruh terhadap penyebaran nilai-nilai, seperti nilai kekeluargaan, menghargai hak asasi manusia, dan keadilan sosial di Filipina.

Di negara dengan sekitar 80 juta Katolik, kekatolikan memiliki banyak ekspresi.

Sekolah dan universitas Katolik menjamur, menghasilkan kelompok kelas menengah yang berpendidikan dan penguasa, yang kebanyakan dari mereka rajin mengikuti Misa dan menerima tanpa banyak bertanya tentang ajaran Gereja serta mengikuti sakramen dan ritus yang ada.

Kesadaran dan komitmen terhadap nilai keadilan sosial hanya terbatas pada kelompok kecil saja. Untuk bekerja demi masyarkat yang adil dan jujur di negara ini tidak lebih sebagai tradisi iman-budaya daripada suatu kekuatan yang memberi dorongan untuk suatu perubahan. Para lulusan sekolah-sekolah Katolik tertarik untuk melayani kepentingan elit penguasa dan bisnis. Mereka cenderung menengadah ke surga dan tidak mau melihat penderitaan keji dan kemiskinan di bumi.

Hanya segelintir kecil kelompok Katolik yang terlibat dalam karya sosial, yang melayani orang-orang miskin, kelaparan, dan bekerja di organisasi kemanusiaan untuk membantu orang miskin, melawan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi, dan bekerja untuk perubahan masyarakat.

Kebanyakan orang Katolik di Filipina sangat “tradisional” dan konservatif, menjalani nilai-nilai yang diajarkan Gereja, tetapi mereka tidak siap untuk mengikuti Yesus dari Nazareth. Mereka sudah terlatih secara spiritual untuk patuh dan taat daripada digerakkan oleh api iman. Mereka tidak terinspirasi oleh iman mereka untuk menghadapi dan mengubah ketidakadilan dan korupsi yang menyebabkan jutaan orang miskin tetap di bawah kendali segelintir orang.

Kelompok penguasa mendominasi Kongres, militer, polisi dan hukum. Lembaga-lembaga pemerintah dipenuhi oleh kroni-kroni. Anggota Dewan mengesahkan undang-undang untuk melindungi kekayaan, hak istimewa dan jabatan.

Tidak heran jika Filipina menjadi negara yang menghadapi perang geriliya paling lama di Asia. Tanpa keadilan tidak ada perdamaian, dan tanpa perdamaian tidak ada kemakmuran bagi semua.

Tahun 1986 ketika Kardinal Jaime Sin mengajak seluruh umat Katolik untuk aktif secara sosial demi penegakan HAM dan keadialn, serta untuk turun ke jalan menentang diktator Ferdinand Marcos, orang-orang Filipina menentang militer. Akan tetapi momen yang bersinar itu memudar dengan cepat. Bahkan Vatikan mengeritisi dan tidak mendukung keterlibatan sosial dan politik.

Dewasa ini ada banyak yang mengaku sebagai ‘orang Katolik yang baik’, yang datang ke gereja dengan tujuan untuk mengejar kekuasaan, uang, dan kekuasaan ekonomi untuk mengontrol orang-orang yang lemah dan miskin.

Orang-orang kaya dan korup ini akan berusaha dekat dengan paus, dengan harapan bahwa kedekatan mereka dengan orang suci ini menjadi tanda bagi para pemilih bahwa meskipun mereka jahat, mereka diberkati.

Kita berharap saja agar tidak ada satupun politisi koruptor yang mendapat tempat duduk satu meja dengan Paus Fransiskus.

Kardinal Claudio Hummes, sahabat paus, mengingatkan Fransiskus setelah terpilih agar tidak melupakan orang-orang miskin. Sepertinya sudah terlihat bahwa Paus Fransiskus sudah memilih untuk memihak orang-orang yang tidak beruntung dan membuat ajaran sosial Gereja menjadi realitas yang dijalankan.

Tentu saja, hak asasi manusia, serta hak anak-anak dan perempuan akan menjadi fokus dalam pesan beliau kepada masyarakat di negara yang memiliki tingkat pekerja anak tinggi, di mana 100.000 anak sudah diperdagangkan menjadi budak seks.

Pesan Paus Fransiskus kemungkinan besar akan menyinggung jurang perbedaan yang menganga antara orang kaya dan miskin. Dia harus dengan lantang berbicara melawan orang bersenjata yang membunuh para imam, pekerja Gereja dan anak-anak yang tidak tersentuh hukum. Dia menjadi paus harapan orang miskin dan tertindas dan orang pilihan Tuhan yang paling dinanti-nanti untuk memimpin Gereja keluar dari sikap apatis dan kesombongan.

Pastor Shay Cullen adalah seorang imam Columban asal Irlandia, pendiri Preda Foundation di Olongapo City tahun 1974 untuk menegakkan HAM dan hak anak-anak, khususnya korban kejahatan seksual. 

Sumber: UCAN Indonesia

Foto: Paus Fransiskus disambut warga di bandara Kolombo, Sri Langka, ilustrasi dari Voice of America

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close