KWI

Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan

Format Acuan  Gerakan APP 2015

Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan

 

Gerakan Nasional APP 2015 Pola HIdup Sehat dan Berkecukupanrs

Gerakan APP Nasional 2015 (2)rs

Pengantar

MEWUJUDKAN Hidup Sejahtera” menjadi tema pokok gerakan APP Nasional tahun 2012 – 2016.  Hidup sejahtera berarti hidup dalam kebenaran, damai dan sukacita.  Ketiga dimensi ini dilihat sebagai nilai fundamental Kerajaan Allah yang bukan hanya berkait dengan bidang spiritual, melainkan realitas yang harus diimplementasikan dalam kegiatan hidup konkrit, dengan pilihan preferensi terutama mereka yang tidak beruntung, yang paling menjadi kurban dari realitas ketidakadilan (bdk.  Lukas 4, 18-19). Hal ini bisa dikatakan sebagai menghidupkan perwujudan iman di tengah realitas masyarakat. Manusia hanya dapat bertumbuh dan mewujudkan panggilannya dalam kaitannya dengan orang lain (bdk. Gaudium et Spes art.12).

Gerakan APP Tahun 2012 “Panggilan Hidup dan Tanggung Jawab” sudah merefleksikan  mengenai hal itu. APP Tahun 2013 “Menghargai Kerja: Kerja Itu Suci” menjadi pengungkapan panggilan hidup dan tanggung jawab  sebagai umat beriman untuk bekerja “mengusahakan dan memelihara” (Kejadian 2,15) harta benda yang telah diciptakan Allah. Kerja menjadi sarana yang efektif  untuk melawan kemiskian dan menuju kesejahteraan hidup (bdk. Amsal 10,4), serta mempraktekan suatu solidaritas yang dapat diwujudkan dengan berbagi hasil kerja dengan mereka yang berkekurangan (bdk. Effesus 4,28).

Setiap pekerja, demikian menurut Santo Ambrosius, adalah tangan Kristus  yang terus menerus mencipta dan berbuat baik. Oleh karena itu, setiap umat beriman perlu menyadari bahwa seluruh perjalanan  hidupnya merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kepenuhan hidup, kesejahteraan lahir dan batin (Gerakan APP Tahun 2014 “Belajar Sepanjang Hidup”).   Belajar sepanjang hidup untuk mencapai kepenuhan kesejahteraan hidup dibangun dengan mengolah dan mengelola hidup sebagai karunia dan rahmat Allah, dan hal ini akan menjadi fokus gerakan APP Tahun 2015 “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”.

Sorotan utama Gerakan APP 2015

Manusia diciptakan Allah dalam kesatuan badan dan jiwa. Kesatuan ini yang membuat manusia mampu hadir dan terlibat dalam urusan-urusan duniawi, dan sekaligus terarah dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat yang manusiawi: keadilan, kebenaran, kejujuran, kasih (bdk. Gaudium et Spes art.14). Menjaga kesatuan badan dan jiwa dalam keterarahannya kepada Allah untuk membangun hidup manusiawi, manusia membutuhkan pola hidup yang sehat dan berkecukupan.

Pola hidup sehat berarti melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus menerus dan seimbang dalam mencapai pemenuhan kebutuhan mendasar hidup manusia.  Pelaku pola hidup sehat akan selalu berusaha dalam setiap tindakan hidupnya untuk selalu teratur dan seimbang dalam menjaga dan merawat kesehatan jiwa dan tubuhnya. Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut dimensi sosial dan ekonomi.

Situasi dan kondisi ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya demi membangun dan mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.

“Pola Hidup Sehat dan  Berkecukupan” sebagai gerakan APP 2015 mempunyai sasaran dan tujuan untuk membangun dan mewujudkan pembaharuan iman umat dalam :

  1. Menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyataan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, dengan Allah dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraan bersama.
  2. Perilaku hidup yang manusiawi: keadilan, kebenaran, kejujuran, kasih dengan menjaga, memelihara dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan.

 Kegembiraan dan harapan

Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan bagian dari sarana penghayatan puasa menurut liturgi Gereja Katolik. Masa puasa merenungkan dan merayakan penyerahan diri Allah di dalam manusia baru, Yesus Kristus. Dengan kenangan liturgis ini, umat beriman menyadari keutamaan untuk peduli, suka dan rela berbagi dengan sesama, utamanya mereka yang berkekurangan. Karena puasa sesungguhnya merupakan jalan dan sarana untuk masuk ke dalam realitas kemiskinan dan pengalaman rohani yang membuahkan keteguhan iman untuk bersandar pada kuasa Allah (bdk. Matius 4, 1-11.

Dalam pengalaman ketubuhan ada pergulatan selama puasa untuk mengubah kelaparan akan makanan jasmani dan jiwani ke kelaparan rohani yaitu akan firman Allah (bdk. Matius 4,3-4). Oleh karena itu, puasa dengan segala derita dan kesakitan merupakan tempat manusia untuk memenangkan hidup  dalam kuasa Allah.

Hidup manusiawi merupakan kesatuan jasmani dan rohani. Karena kesatuan hakikinya dengan jiwa rohani, tubuh manusiawi tidak dapat dipandang melulu sebagai gumpalan jaringan-jaringan, organ-organ, dan fungsi-sungsi,  melainkan merupakan unsur kostitutif pribadi, yang melalui tubuh itu menampilkan dan mengungkapkan jatidiri manusia. Tubuh dalam susunan dan dinamika biologisnya menjadi landasan dan sumber tanggung jawab moril. Atas dasar inilah, reksa pastoral gerakan APP 2015 mengarahkan untuk membangun pola hidup sehat dan berkecukupan.

Kitab Kolose dengan jelas menyatakan karena penebusan Kristus alam semesta dan tubuh manusia disucikan dan dihargai dihadapan Allah. Dalam tubuh jasmani Kristus yang mati demi dosa manusia, Allah “menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol 1:22). Tidak hanya tubuh manusia saja, namun juga seluruh ciptaan diperbaharui karena rahmat kebangkitan Kristus. Allah menghargai hidup manusia yang bermartabat, yang mampu membawa ciptaan untuk berkelanjutan sesuai dengan kehendakNya.

Tubuh yang tidak terceraikan dari roh memiliki martabat dan nilai manusiawi pribadi.  Oleh karena itu, tubuh tidak dapat disingkirkan dan harus dijaga keutuhannya sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, dengan Allah dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Setiap intervensi penyalahgunaan tubuh melecehkan martabat pribadi manusia. Beberapa inspirasi membangun gerakan pola hidup sehat dan berkecukupan yang bisa dibuat antara lain :

  1. Gerakan ‘Optimalisasi Lahan Pekarangan’

Kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat akan meningkat apabila semakin banyak kebutuhan dasar dapat dipenuhi secara mandiri dan sehat.  Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan dan pengoptimalan lahan pekarangan untuk menghasilkan bahan pangan sehari-hari.  Pekarangan dapat dijadikan sebagai lumbung hidup.

  1. Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’

Setiap manusia membutuhkan lingkungan yang bersih dan sehat agar dapat memberikan kenyamanan hidup. Lingkungan yang bersih dan sehat akan mendorong dan mewujudkan kesehatan masyarakat.  Hal ini terjadi sebagai dampak dari pola hidup bersih dan sehat yang dibuat secara pribadi dan keluarga.

  1. Gerakan ‘Bank Benih Petani’

Benih menjadi modal penting bagi kelangsungan kehidupan petani. Tidak hanya penting dalam konteks budidaya-ekonomi, namun benih juga menjadi simbol sosial-budaya dan religi yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupannya. Penguasaan benih menjadi penting bagi petani untuk  mewujudkan kedaulatan petani atas benih secara mandiri demi terwujudnya kesejahteraan hidup.

Penutup

Kenyataan bahwa hidup itu milik Allah dan bukan milik manusia maka seharusnyalah kalau manusia selalu mengelola dan mengolah hidup yang dianugerakannya itu dengan penuh tanggung jawab. Membangun pola hidup sehat, berkecukupan dan berkelanjutan yang dijalankannya dengan keteraturan dan keseimbangan hidup jasmani dan rohani merupakan wujud tanggung jawab manusia akan hidup yang adalah milik Allah.

 

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close