HarianJendela Alkitab

Renungan Harian: Rabu Abu, 18 Februari 2015

KOYAKLAH HATIMU

Matius 6: 1-6; 16-18

Pengantar

HARI RABU Abu merupakan permulaan masa prapaskah, masa puasa dan tobat yang lamanya empat puluh hari. Puasa biasanya wajib bagi umat Katolik yang telah berusia empat belas tahun sampai 59 tahun. Hari-hari pantang yang diwajibkan adalah hari Rabu Abu itu sendiri dan setiap hari Jumat selama masa prapaskah, di mana umat Katolik pantang makan daging, melainkan makan makanan sederhana. Selama hari-hari lain, umat Katolik menahan diri dalam hal makan dan minum. Biasanya makan makanan sederhana dan makan kenyang hanya sekali dalam sehari. Tetapi sejalan dengan itu, yang paling penting adalah usaha pertobatan: membaharui diri melalui sakramen tobat, lebih rajin berdoa, merenungkan sengsara Tuhan Yesus dalam ibadat Jalan Salib setiap hari Jumat, usaha-usaha rohani lainnya serta meakukan karya amal. Liturgi pada hari-hari puasa diwarnai suasana tobat. Haleluya dan Gloria tidak digunakan dalam Liturgi melainkan ditunda sampai pada Malam Paskah. Pada Kamis Putih kemuliaan digunakan lagi. Warna Liturgi adalah ungu sebagai simbol pertobatan.

Dalam Misa hari rabu abu, sesudah homili diadakan pemberkatan abu. Abu merupakan hasil pembakaran daun-daun palma yang disimpan dari Minggu Palma tahun sebelumnya. Abu yang telah diberkati itu dioleskan pada dahi umat beriman dalam bentuk tanda salib. Penandaan dengan abu di dahi ini merupakan simbol dari pertobatan bathin. Pada saat imam menandakan abu di dahi umat, dia berkata: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Ada pula rumusan lain: “ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu.” Rumusan terakhir ini mau mengingatkan hakikat kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tidak abadi di dunia ini. Karena itu kita sudah seharusnya merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bertobat, mengingat bahwa tubuh kita akan kembali menjadi abu tetapi jiwa kita akan menghadap Tuhan.

 Renungan

Hari ini, dalam mempersiapkan sukacita Paskah yang akan datang, kita datang dengan rendah hati di hadapan Tuhan memohon belaskasih dan pengampunanNya atas dosa-dosa kita. Allah Bapa tentu tidak menghendaki kita binasa melainkan supaya selamat bersama dengan Kristus yang bangkit. Karena itu kita perlukan pembaharuan diri dan pertobatan. Penandaan dengan abu pada dahi kita merupakan tanda pertobatan. Tradisi seperti ini merupakan kelanjutan dari praktek dalam Perjanjian Lama, di mana orang yang bertobat mengenakan pakaian dari karung dan menyirami diri dengan abu.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Nabi Yoel, kita dengar Tuhan memanggil kita kembali kepadaNya. Tuhan bersabda: “sekarang juga berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh”. Kita juga diajak untuk mengoyak hati kita dan bukan pakaian kita. Hal ini dikatakan nabi Yoel karena ada kebiasaan dalam zaman Perjanjian Lama, di mana umat yang bertobat mengoyak-ngoyakkan pakaian mereka sebagai tanda tobat. Tetapi kebiasaan ini cenderung menjadi ritual saja yang tanpa makna, sebab tidak ada pertobatan hati dalam arti pembaharuan diri dan perbaikan tingkah laku. Karena itu nabi menekankan tobat bathiniah, yaitu penyesalan yang sungguh atas dosa-dosa dengan “mengoyakkan hati”. Kita dipanggil untuk meneliti sungguh-sungguh hati kita dan bersedia mengubah segala orientasi kita yang selama ini keliru. Kita diajak untuk mengubah hati kita dan kembali mengikuti jalan Tuhan. Dan ajakan ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu melainkan kepada semua orang yang mengimani Tuhan: orangtua, anak-anak bahkan anak yang masih menyusu. Pengantin diajak untuk meninggalkan kamar tidur, para imam dan pelayan Tuhan dihimbau untuk menangis menyesali dosa-dosa mereka dan dosa seluruh umat. Jadi setiap orang dari segala umur dihimbau untuk mengadakan pertobatan bathin, berpuasa dan menyesali dosa-dosa.

Dengan cara yang mirip, St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus, menasihati kita dalam nama Kristus yang mengutusnya untuk memberi diri didamaikan dengan Allah. Allah Bapa telah menganugerahkan Putera tunggalnya Yesus Kristus untuk menebus kita dari dosa-dosa dengan mati di kayu salib. Dia yang tidak mengenal dosa telah diperlakukan sebagai orang berdosa karena kita. Tetapi dengan itu kita memperoleh pembenaran di hadapan Allah. Semuanya itu terjadi karena kerahimanNya yang tak terbatas. Allah selalu dan senantiasa mendengarkan permohonan kita. Ia bersabda: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan Aku akan menolong engkau”. Dan kinilah saatnya yaitu pada masa Prapaskah ini, Tuhan membuka pintu kerahimanNya. Inilah saat Tuhan berkenan membenarkan para pedosa, dengan menganugerahi kita pengampunan oleh kerahiman hatiNya.

Bagaimanakah cara kita masuk ke dalam pintu kerahiman Allah supaya diselamatkan? Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus sendiri memberikan jawabannya. Yesus menegaskan supaya kita membaharui cara hidup keagamaan kita. Bila kita melanjutkan cara-cara hidup beragama yang sekadar menjalankan peraturan, sekadar ingin dilihat orang, penuh kemunafikan, maka kita tidak dapat masuk ke dalam kerahiman Tuhan. Hidup beragama bukan sekadar adat dan kebiasaan melainkan menganut suatu jalan rohani, jalan spiritual. Kita harus menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Yesus mengingatkan kita akan bahaya kemunafikan. Yesus berkata: mereka yang menampakkan dirinya seolah-olah saleh tetapi hanya supaya dilihat orang, mereka telah menerima upahnya. Berpuasa, bersedekah, dan berdoa yang benar-benar keluar dari hati, tidak harus diuar-uarkan melainkan cukup hanya Tuhan yang tahu. Kesalehan yang penuh kemunafikan seperti itu tidak mengubah hidup. Kesalehan yang mengubah hidup adalah suatu kerohanian yang menyatu dengan seluruh keberadaan kita. Kerohanian seperti itu menjadikan kita menyadari penyertaan Tuhan dalam seluruh hidup kita setiap saat.

Nasihat-nasihat Tuhan Yesus bisa amat konkret di hari-hari puasa dan tobat kita. Bila kita menyumbang untuk panti asuhan misalnya, jumlah sumbangan kita tidak harus ditulis besar-besar di atas baliho yang dibentangkan supaya difoto oleh wartawan (yang sudah dipesan sebelumnya) untuk dimuat di koran. Bila menyumbang sesuatu bagi Gereja, tidak harus mengharapkan supaya nama dan jumlah sumbangan diumumkan di berita paroki atau di papan pengumuman paroki. Apa yang diberikan tangan kananmu janganlah diketahui oleh tangan kirimu! Tangan kiri saja tidak perlu tahu yang diberikan tangan kanan, tetapi mengapa jumlah sumbangan harus diumumkan?

Demikian pun dalam hal berdoa dan berpuasa. Inti doa dan puasa adalah untuk pertobatan bathiniah, untuk pembaharuan diri dan tingkah laku kita sesuai kehendak Tuhan, dan sekali-kali bukan supaya kita dikenal sebagai orang saleh yang taat beragama.

Foto: Penerimaan abu, ilustrasi dari www.sathora.or.id

 

Tags

RD Herman Punda Panda

Imam Diosesan Keuskupan Weetebula

Related Articles

Close