HarianJendela Alkitab

Renungan Harian: Senin, 09 Maret 2015

2 Raj. 5:1-15a; Luk 4:24-30

 YESUS DITOLAK DI NASARETH

Orang pernah mengatakan bahwa tujuan utama berkotbah  adalah  memberikan penghiburan  bagi orang-orang yang hidupnya terganggu karena bermacam-macam persoalan   – to conform the disturbed – dan mengganggu orang-orang yang sudah nyaman hidupnya – to disturb the comfortable. Ketika  kotbah kita memberi kenyamanan kepada orang-orang yang sudah enak hidupnya dan menyusahkan orang yang telah susah hidupnya, maka dia telah berhenti menjadi nabi. Ketika kotbahnya tidak lagi mampu menantang orang-orang untuk maju selangkah lagi melampau kenyaman hidup dan menawarkan visi yang memberikan harapan dan makna hidup yang lebih mendalam, maka dia telah gagal menjadi seorang nabi. Dan kalau seorang pengkotbah tidak lagi berperan sebagai nabi yang benar, maka dia tidak lebih dari pada seorang nabi palsu yang mencari keuntungan – a prophet for profit.

Yesus ditolak oleh orang-orang sekampungnya di Nazareth bukan karena Dia adalah seorang nabi yang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri – a prophet for profit – melainkan karena Dia telah mengganggu kenyamanan orang-orang sekampungnya dengan mengatakan sesuatu yang benar tentang mereka.  Yesus menantang mereka karena mereka tidak beriman. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias semata-mata karena Dia adalah Anak Maria dan Yosef si tukang kayu dan saudara-saudarinya mereka kenal baik selama 30 tahun. Latarbelakangnya yang sederhana menghalangi mereka untuk percaya bahwa Dia adalah Mesias yang dinanti-natikan oleh bangsa Israel.

Tetapi lebih dari pada itu, orang-orang Nazareth kecewa dengan Yesus karena Dia memuji-muji orang-orang kafir. “Aku berkata kepadamu dan kataku ini benar. Pada masa Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan …tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada salah seorang perempuan janda di Sarfat di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa ada banyak orang kusta di Israel  dan tidak seorang pun dari mereka yang ditahirkan selain dari pada Naaman orang Siria itu.”

Orang-orang Yahudi begitu yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan menganggap rendah orang-orang  lain. Mereka percaya bahwa Allah menciptakan orang-orang kafir untuk menjadi seperti kayu bakar di Api Neraka. Dan kini Yesus yang mereka kenal baik dan tidak punya apa-apa dari segi kebijaksanaan tiba-tiba memuji bangsa kafir itu. Yesus mengatakan bahwa orang-orang yang mereka anggap kafir itu justru lebih baik dari mereka sendiri yang merupakan bangsa pilihan. Hal itu merupakan suatu keterlaluan untuk mereka dan karena itu mereka hendak menghalau Yesus keluar kota  dan berniat untuk melemparnya dari tebing kota itu.

Orang-orang Yahudi terlalu percaya bahwa mereka diselamatkan karena mereka adalah turunan Abraham, umat pilihan Allah.  Yesus menantang kepercayaan seperti itu dengan menyebutkan dua contoh yakni janda di Sarfat di tanah Sidon dan Naaman orang Siria. Keduanya bukan orang Yahudi tetapi Allah berkenan kepada mereka. Yohanes Pembaptis juga pernah mengecam orang-orang Yahudi karena merasa nyaman sebagai anak-anak Abraham dan otomatis diselamatkan. “Dan janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” (Mat. 2:9).

Sabda Tuhan dalam Injil hari ini menginatkan kita akan dua hal. Pertama, sebagai pewarta sabda Allah entah sebagai orang yang tertahbis dan terbaptis kita diharapkan untuk tidak takut mengatakan kebenaran entah waktunya tampan atau tidak tampan. Yesus sendiri mendesak kita selalu mengabdi kepada kebenaran karena kebenaran akan memerdekakan kita. Kedua, sebagai anggota Gereja kita hendaknya juga sadar bahwa kita diselamatkan bukan karena status-status yang kita miliki entah sebagai orang yang terbaptis atau tertahbis melainkan karena perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan terhadap Tuhan dan sesama. Santo Yakobus telah meyakinkan kita bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Semoga Tuhan memberkati.

Salam

(RP. Bernard Raho – Ledalero, Maumere)

Ilustrasi: Yesus ditolak di Nazaret – www.hidupkatolik.com

 

 

 

 

 

 

Tags

RP. Bernard Raho SVD

Bekerja sebagai dosen dan pendamping para frater svd di Sekolah Tinggi Filasafat katolik Ledalero, Maumere.

Related Articles

Close