HarianJendela Alkitab

Renungan Harian: Rabu, 11 Maret 2015

Mat. 5:17 – 19

 YESUS DATANG UNTUK MENYEMPURNAKAN

HUKUM TAURAT

Menurut Paul Lee Tan, penulis Encyclopedia 7.700 Ilustrations (Maryland, 1984), di Amerika Serikat ada dua juta undang-undang. Apabila seorang warga Amerika Serikat membutuhkan seekurang-kurangnya dua hari untuk mempelajari sebuah undang-undang saja, maka dibutuhkan waktu dua ribu tahun bagi seorang warga Amerika untuk bisa menguasai semua undang-undang negaranya. Sementara itu, pada abad ke enam Kaisar Justinus memerintahkan untuk membuat kompilasi untuk semua hukum atau undang-undang yang berlaku di seluruh kekaiseran Roma. Kompilasi itu menghasilkan 2000 jilid yang dikerjakan selama tiga tahun.

Kedua ilustrasi tersebut di atas menunjukkan betapa banyaknya hukum yang harus dipatuhi oleh penduduk kedua bangsa itu. Hal yang sama terjadi ketika orang menyebut hukum taurat. Hukum itu memberi kesan yang sangat legalistis. Itulah sebabnya pada banyak tempat di dalam Injil Yesus sering kali melanggar hukum taurat   seperti menyembuhkan orang sakit pada hari Sabath, tidak mencuci tangan sebelum makan,  atau membiarkan murid-Nya memetik gandum pada hari Sabath.

Karena itu, orang merasa heran ketika di dalam Injil hari ini Yesus mengatakan: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”  Ada orang yang berpikir bahwa perkataan itu mestinya bukan berasal dari Yesus mengingat ada begitu banyak pelanggaran yang dilakukan oleh Yesus terhadap hukum taurat. Tetapi tentu saja hal itu tidak benar terutama setelah orang melihat apa yang dimaksudkan Yesus ketika mengatakan hal tersebut.

Apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan hal tersebut di atas? Orang-orang Yahudi menyebut hukum untuk empat kategori. Pertama, mereka menyebut hukum untuk kesepuluh perintah yang diberikan Yahwe melalui Musa. Kedua, mereka juga menyebut hukum untuk kelima buku pertama di dalam kitab suci yang biasa disebut pentateukh. Ketiga, mereka menyebut hukum dan kitab para nabi untuk seluruh isi kitab suci Perjanjian Lama. Keempat, mereka juga menyebut hukum untuk setiap tradisi lisan dan peraturan yang dibuat oleh para rabbi.

Adalah hukum dalam pengertian yang keempat yakni tradisi lisan dan peraturan yang diciptakan oleh para guru Yahudi itu yang sering kali ditentang dan dilanggar oleh Yesus dan dikecam oleh Santu Paulus. Alasannya adalah karena melalui tradisi lisan dan peraturan yang dibuat, para guru agama Yahudi membawa hukum taurat keluar dari maksudnya yang paling asli. Hukum taurat yang pada mulanya hanya meletakkan prinsip-prinsip dasar tentang pedoman hidup diturunkan ke dalam peraturan-peraturan yang sangat mendetil yang kadang-kadang tidak dimaksudkan oleh hukum  taurat itu sendiri.

Contohnya adalah perintah tentang menguduskan hari Sabath. Tujuan dari hukum ini adalah menyucikan hari sabath dengan tidak bekerja. Tetapi dari hukum itu telah dibuat peraturan turunan sampai kepada tidak boleh berbuat sesuatu pada hari sabath termasuk berbuat baik pada hari Sabath. Yesus yang menyembuhkan orang pada hari Sabath dianggap telah melakukan pelanggaran hukum Sabath karena menyembuhkan adalah melakukan pekerjaan. Menulis juga tidak diperbolehkan pada hari Sabath karena menulis itu adalah pekerjaan. Dan banyak contoh lain lagi di mana prinsip-prinsip dasar itu telah diturunkan kepada peraturan-peraturan yang bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum itu.

Ketika dalam injil hari ini Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk menyempurnakan hukum taurat maka yang dimaksudkan-Nya adalah Dia datang untuk mengembalikan hukum taurat kepada substansi atau intisarinya. Intisari hukum taurat ada dalam kitab ulangan dan kitab Imamat. Dalam Ul. 6:45, misalnya, dikatakan: “Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu dan dengan segenap tenagamu” .  Sedangkan di dalam Im 19:18 dikatakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Yesus menyempurnakan hukum kasih itu dengan menerangkan siapa yang dimaksudkan dengan sesama, yakni semua orang dan bukan cuma orang-orang Israel.

Melalui Injil hari ini Yesus ingin menunjukkan kepada kita cara menginterpretasi hukum secara tepat. Kita tidak boleh berhenti pada apa yang  tertulis di dalam hukum, tetapi juga memahami maksud di balik hukum itu. Semua hukum yang bertentangan dengan hukum kasih tidak patut untuk diikuti. Hukum terbesar sebagaimana diutarakan oleh Yesus di dalam Injil adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Semoga oleh inspirasi Injil hari ini kita senantiasa terus berbuat baik kepada Tuhan dan sesama sebagai perwujudan hukum kasih itu teristimewa selama masa prapaska ini. Tuhan memberkati.

 

Credit Foto: Yesus sedang mengajar orang banyak –sangsabda.wordpress.com 

 

 

Tags

RP. Bernard Raho SVD

Bekerja sebagai dosen dan pendamping para frater svd di Sekolah Tinggi Filasafat katolik Ledalero, Maumere.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close