PEKAN KOMSOSUrbi

KOMSOS KWI Garap Film Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-49

 

Membantu menyebarkan Sukacita Injil seturut pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-49

YOGYAKARTA – Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) KWI pada Jumat, (13/3/2015) mulai menggarap film pendek menyongsong perayaan Hari Komunikasi Sosial Nasional ke 49. Film berdurasi antara 15 sampai 20 menit ini mengambil inspirasi langsung dari pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-49 yang berbicara secara khusus tentang keluarga dalam konteks perkembangan teknologi informasi.

Menurut Sekretaris KOMSOS KWI, Romo Kamilus Pantus, film berjudul “Sukacita Perjumpaan” itu akan didistribusikan ke seluruh keuskupan di Indonesia sehingga dapat digunakan sebagai bahan katakese umat tentang keluarga.

“KOMSOS KWI berharap kiranya pesan yang disampaikan melalui film ini dapat diterima dan dimaknai oleh seluruh umat Katolik di Indonesia,” ungkap Romo Kamilus.

Karena itu, menurut Romo Kelahiran Tanah Rencong, Manggarai, Flores ini, film “Sukacita Perjumpaan”  sedapat mungkin diungkapkan dalam bentuk bahasa yang sederhana dan ekpresi tubuh seturut peran seadanya sehingga mudah dimengerti oleh umat, termasuk umat yang tinggal di wilayah pedalaman dengan berbagai keterbatasannya.

Romo Petrus Noegroho Agoeng selaku sutradara film tersebut mengatakan rencananya mulai Sabtu, (14/3) shooting film Sukacita Perjumpaan  di beberapa lokasi yang telah ditentukan, segera dilaksanakan.

Tentang film tersebut, Romo Agoeng menuturkan bahwa film Sukacita Perjumpaan  sesungguhnya menceritakan   seorang gadis bernama Melan yang sedang kuliah di satu kota dan tinggal menumpang di rumah Pak Budi. Pada awal kedatangannya, Melan merasa tidak nyaman dengan keluarga ini. Kehadiran Antik yang difabel – anak keluarga Pak Budi – menjadi sebabnya. Melan pun berusaha sedemikian rupa menghindar berjumpa dengan keluarga ini. Ia sibuk dengan dirinya sendiri dan handphonenya.

Cerita tidak berhenti di sini. Menurut Romo Sekretaris KOMSOS KAS ini, dalam situasi seperti itu Melan mulai mengirim pesan keluhan kepada keluarganya. Namun keluarga Melan malah ingin agar Melan mengikuti pola kehidupan keluarga pak Budi. Hal itu membuat Melan jadi sebel. Ia semakin tidak nyaman. Studinya pun kacau. Dalam kepedihan atas hasil studi itu, Bu Bdudi dan Anik – anak Bu Budi yang difabel justru malah memberi semangat pada Melan. Perjumpaan Melan dan Anik pun akhrinya memberikan sukacita baru.

“Film ini menarik untuk ditonton, terutama dalam situasi kebersamaan dan kehangatan keluarga”, kata Romo Agoeng sambil menyebut beberapa karya film lain darinya.

 

(John Laba Wujon)

Credit Foto: Pertemuan pementapan kegiatan shooting Film Sukacita Perjumpaan di Yogyakarta, Jumat,(13/3).

 

 

 

 

Related Articles

Close