HarianJendela Alkitab

Renungan Harian: Sabtu, 21 Maret 2015

Yoh. 7: 40 – 53

Kehadiran Yesus Menimbulkan Pertentangan

Pada tahun 1900-an terjadilah sebuah pemberontakan di Cina. Pemberentokan itu bertujuan untuk menghalau orang-orang Kristen dari daratan Cina. Pada salah satu kesempatan para pemberontak itu mengepung sebuah sekolah dasar dan mengunci semua pintu gerbang sekolah itu. Hanya ada sebuah pintu yang terbuka tempat anak-anak   boleh keluar. Tetapi di depan pintu itu ditempatkan sebuah salib besar. Barangsiapa yang berani menginjak salib itu, maka dia boleh bebas. Sementara mereka yang tidak berani menginjak salib Yesus itu akan ditembak di tempat. Tujuh murid pertama keluar sambil menginjak salib itu dan mereka boleh menikmati kebebasan. Murid yang ke delapan yakni seorang gadis kecil keluar. Dia bukannya menginjak salib itu, malah berlutut di depannya dan berdoa sejenak lalu dengan hati-hati keluar dari situ. Pada saat itu juga, anak itu ditembak.  Pada hari itu, banyak murid di sekolah itu mengikuti perbuatan gadis cilik itu dan semuanya ditembak mati.

Keberanian murid-murid itu untuk tetap tinggal setia pada Yesus menyebabkan mereka ditembak mati. Kehadiran Yesus memaksa orang untuk tetap memihak Dia atau sebaliknya menolak Dia. Di dalam Injil hari ini ini orang-orang Yahudi terbelah atau berbeda pendapat mengenai Yesus. Ada orang yang mulai percaya bahwa Dia adalah Mesias. “Dia benar-benar nabi yang akan datang.” Ada yang lain lagi berkata: “Dia adalah Mesias”. Tetapi yang  yang lain lagi berkata: “Bukan! Mesias tidak datang dari Galilea karena Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem”.  Kehadiran Yesus telah menimbulkan pertentangan di antara orang-orang Yahudi. Di tingkat pimpinan agama Yahudi pun terjadi pertentangan. Ada anggota Mahkamah Agama yang mendukung Yesus dan ada pula yang melawan-Nya. Nikodemus adalahseorang anggota Mahkamah Agama yang tidak setuju Yesus dihukum tanpa terlalu dahulu didengarkan kesaksian-Nya.

Kehadiran-Nya yang membawa pertentangan telah berulang kali disampaikan oleh Yesus di dalam Injil-Nya. Orang tidak bisa bersikap netral terhadap Yesus melainkan harus memilih berpihak pada-Nya atau berseberangan dengan Dia. Dalam Luk. 11:23 atau Mat. 12:30 dengan tegas Dia mengatakan: “Siapa yang tidak bersama Aku, dia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku mencerai-beraikan.”  Orang tidak bisa bersikap netral terhadap Dia. Dan pilihan itu menyangkut kehidupan. Memilih Yesus berarti memilih kehidupan, tetapi menolak Yesus berarti memilih kebinasaan.  Pilihan itu bahkan harus berarti kita harus berpisah dari orang-orang yang kita kasihi.

Dalam Luk. 12:51-53 atau Mat. 10:34-35 Yesus dengan tegas mengatakan: “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara orang di dalam satu rumah, tiga melawan dan dua melawana tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan dan anaknya laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantunya perempuan melawan ibu mertuanya”.

Sesunggunya, iman terhadap Yesus akan tetap membawa perpecahan di atas bumi ini. Di dalam masyarakat plural di mana kekristenan bukanlah agama dominan keluarga bisa terpecah-pecah di dalam agama yang berbeda-beda. Dalam konteks-konteks tertentu di mana kekristenan menjadi minoritas, menjadi seorang kristen mengandung konsekuensi bahwa dia bisa saja tidak diakui sebagai anak di dalam keluarga.  Karena itu kehadiran Yesus yang membawa pertentangan sebagai mana diceriterakan di dalam Injil hari ini dan kisah-kisah lain dalam Injil bukanlah peristiwa yang terjadi pada masa lampau saja tetapi juga terjadi kini dan di sini.

Kalau kita menonton gambar-gambar youtube yang diedarkan oleh tentara ISIS (Islamic Sirya-Iraqi State), hati kita sangat miris menyaksikan kematian yang sangat menggenaskan orang-orang Kristen yang dibunuh dengan cara yang amat sadis oleh tentara-tentara ISIS. Mereka mengorbankan hidup karena telah berpihak pada Kristus dan karena keperpihakan itulah mereka telah mati atas cara yang sangat menggenaskan. Di hadapan Yesus orang tidak bisa bersikap netral Dia. Orang mesti berpihak pada Dia atau berseberangan melawan Dia. Tetapi masing-masing pilihan itu mengandung konsekuensi.

Mudah-mudahan bersama Petrus kita berseru: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkaulah Sabda kehidupan”.  Semoga Sabda Tuhan dalam Injil hari ini menjadi sumber inspirasi untuk membaharui komitmen kita yang telah memilih Yesus bukan terutama melalui kata-kata melainkan terutama melalui cara hidup. Dengan memilih Yesus maka secara sadar atau tidak kita sesungguhnya memikul Yesus di dalam diri kita. Betapa indahnya apabila setiap kali orang melihat kita, mereka juga mampu melihat Yesus yang di dalam diri kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

 

Credit Foto:perahu nelayan di tepi pantai, sabdatuhanhariini.blogspot.com

Tags

RP. Bernard Raho SVD

Bekerja sebagai dosen dan pendamping para frater svd di Sekolah Tinggi Filasafat katolik Ledalero, Maumere.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close