HarianJendela AlkitabUrbi

Karena Salib Suci, Aku Katolik

SAYA masih ingat homili seorang uskup pada tahun 2004. Beliau bercerita pengalaman mendapat pesan dari seseorang pada hari Jumat Agung. Beliau mendapat pesan seperti ini, “Mampus, Tuhanmu Mati”.

Spontan uskup terkejut. Namun uskup hanya mengatakan inilah paradoks salib.

Seandainya anda mendapat ucapan seperti ini setelah Ibadat Jumat Agung, apa reaksi anda? Wajar kalau kita marah dan tersinggung. Namun memang nyatanya Tuhan kita mati di salib. Inilah Paradox Salib. Salib merupakan tanda hina, tetapi Yesus memilih wafat sebagai tanda kemenangan. Yesus rela wafat di salib. Maka apa reaksi kita terhadap Salib yang sering kita kenakan sebagai liontin kalung, sablon baju?

Apakah kita juga berani menjunjung Salib Suci sebagai tanda kemenangan di tengah masyarakat? Apakah kita berani mengatakan Aku Katolik dan membuat tanda salib saat berdoa di tengah masyarakat?

Tuhan Yesus mengubah Salib yang hina menjadi kudus. Mari kita lihat Salib Tuhan Yesus. Di sana tergantung Kristus Sang Penyelamat Dunia. Salib menjadi kekuatan iman kita. Salib menjadi simbol relasi kita dengan Allah dan sesama. Apakah kita masih malu mengenakan Salib dan mengaku Katolik?

Peristiwa Salib dan Kebangkitan menjadi puncak keselamatan kita dari Allah melalui Yesus Kristus. Kita relakan Yesus yang wafat dan dikubur di makam. Kita siapkan hati untuk menyambut Paskah yang merupakan kebangkitan Tuhan dari kubur. Semoga kedukaan kita ini diubah menjadi sukacita karena Yesus telah mengalahkan kuasa jahat. Amin.

Feel Free untuk Bangga Menjadi Katolik karna Salib Suci.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Tags

RD. Mahendra Christy

Imam diosesan (praja) Keuskupan Purwokerto; sekarang berkarya pastoral di Paroki Sidareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Related Articles

Check Also

Close
error: Silakan share link berita ini
Close