Teladan Kita

S. Benediktus Yoseph Labre, 16 April

Orang kudus dari Perancis yang dilahirkan pada tahun 1748 ini menempuh jalan hidup yang aneh. Ia adalah putera seorang pemilik toko dan memperoleh pendidikan dari pamannya, seorang imam. Ketika imam yang baik itu meninggal dunia, Benediktus berusaha masuk biara. Tetapi, ia ditolak karena masih terlalu muda. Benediktus kemudian mencoba masuk biara lainnya. Ia menyukai kehidupan doa dan mati raga. Namun, ketika ia masuk biara, Benediktus menjadi kurus dan lemah. Maka, dinasehatkan kepadanya agar ia pulang ke rumah dan hidup sebagai seorang Kristen yang baik. Benediktus pulang dan perlahan-lahan kesehatannya pulih kembali. Ia berdoa mohon bantuan Tuhan. Kemudian Benediktus merasa bahwa Tuhan telah menjawab doanya. Ia akan menjadi seorang peziarah, seorang yang mengadakan perjalanan suci dengan berdoa dan bermati raga. Sebagai peziarah, Benediktus akan mengunjungi tempat-tempat suci yang termashyur di Eropa.

Benediktus memulai perjalanannya dengan berjalan kaki. Ia pergi dari satu gereja ke ke gereja lainnya. Ia mengenakan jubah sederhana, sebuah salib di dada dan rosario di lehernya. Ia tidur di emperan jalan. Makanan yang disantapnya hanyalah yang diberikan orang-orang kepadanya. Jika mereka memberinya uang, ia akan memberikannya kepada orang-orang miskin. “Ransel”nya hanyalah sebuah kantong. Di dalamnya ia menyimpan Kitab Suci, juga medali-medali dan buku-buku rohani yang akan dibagikannya kepada orang lain. Perhatian St. Benediktus sama sekali tidak tertuju pada pemandangan indah di daerah-daerah yang ia kunjungi. Satu-satunya yang menarik baginya adalah gereja-gereja di mana Yesus tinggal dalam Sakramen Mahakudus.

Tahun-tahun berlalu, St. Benediktus tampak semakin menyerupai seorang pengemis. Ia compang-camping dan kotor. Ia makan sisa-sisa roti dan kulit kentang. Ia tidak pernah minta sesuatu yang membuatnya merasa lebih nyaman. Di beberapa tempat, anak-anak melemparinya dengan batu serta mengolok-oloknya. Orang-orang yang tidak mengenalnya cenderung menghindarinya. Tetapi, apabila St. Benediktus sudah bersujud di hadapan tabernakel, ia demikian khusuk bagaikan patung. Wajahnya yang pucat dan kuyu menjadi bersinar-sinar. Ia akan berbicara kepada Yesus dan Bunda Maria. Ia berbisik, “Bunda Maria, o Bundaku!” Ia sungguh sangat bahagia ketika bersatu dengan Yesus dan Bunda Maria.

Benediktus wafat pada tahun 1783 dalam usia tiga puluh lima tahun. Kesucian pengemis kudus ini segera tersebar luas. Perjalanannya telah selesai. Ziarahnya telah berakhir dan kini ia tinggal bersama Yesus dan Bunda Maria untuk selamanya. Seabad setelah wafatnya, St. Benediktus Yoseph Labre dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII pada tahun 1883.

“Bunda Maria, o Bundaku!” Kita dapat membisikkan seruan cinta ini kepada Bunda Maria dan memikirkannya lebih sering.

 Ilustrasi: Santo Benediktus Joseph Labre, en.wikipedia.org

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Check Also

Close
error: Silakan share link berita ini
Close