Teladan Kita

St. Stephen Harding, 17 April

Stephen adalah seorang pemuda Inggris yang hidup pada abad keduabelas. Ia adalah seorang murid cemerlang yang suka belajar. Stephen teristimewa menaruh minat pada sastra. Ia bersungguh-sungguh mengenai hidup dan bedoa setiap hari. Suatu ketika Stephen dan temannya berjalan kaki berziarah ke Roma. Sekembalinya, Stephen bergabung dengan kelompok biarawan yang amat miskin dan kudus. Para biarawan ini berdoa, berpuasa dan bekerja keras. Demikianlah cara mereka mengungkapkan kasih mereka kepada Tuhan. Stephen memperhatikan bagaimana bahagianya mereka. Abbas mereka adalah seorang santo, yakni St Robertus.

Sejenak lamanya, Stephen melayani Tuhan dengan penuh sukacita bersama mereka. Namun, sedikit demi sedikit para biarawan tak lagi hendak hidup keras seperti itu. Jadi, St Robertus dan St Stephen bersama duapuluh biarawan lainnya mendirikan sebuah biara baru. Mereka membangun sendiri biara itu di padang liar Perancis yang disebut Citeaux. Mereka mengamalkan hidup dalam karya dan kepapaan. Mereka rindu meneladani kemiskinan Yesus. Mereka juga memelihara keheningan yang ketat.

Ketika St Stephen menjadi abbas biara, ada banyak persoalan yang harus dihadapi. Para biarawan hanya makan sedikit saja. Kemudian, lebih dari separuh biarawan jatuh sakit dan meninggal dunia. Tampak seolah komunitas akan segera berakhir. Mereka membutuhkan anggota-anggota baru yang muda untuk meneruskan semangat mereka. Stephen berdoa penuh iman. Dan doanya didengarkan. Tuhan mengirimkan kepada para biarawan yang disebut Cistercian ini tigapuluh pemuda yang ingin menggagungkan diri dengan mereka. Mereka tiba di gerbang biara bersama-sama. Pemimpin mereka kelak menjadi seorang santo yang hebat pula. Namanya adalah St Bernardus. Hari itu merupakan hari yang sungguh menakjubkan bagi St Stephen dan para biarawan.

St Stephen melewatkan beberapa tahun terakhir hidupnya dengan menulis sebuah buku peraturan bagi para biarawan. Ia juga mendidik St Bernardus untuk menggantikan posisinya.

Sementara terbaring di ambang ajal, St Stephen mendengar para biarawan di sekelilingnya berbisik. Mereka mengatakan bahwa Stephen tidak perlu takut mati. Ia telah bekerja begitu giat dan mengasihi Tuhan begitu rupa. Tetapi St Stpehen mengatakan bahwa ia takut ia tidak cukup baik. Dan ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Hal itu menunjukkan betapa rendah hatinya santo besar ini. Ia wafat pada tahun 1134.

Kita dapat memikirkan untuk menemukan suatu “saat teduh” setiap hari guna membiarkan Tuhan berkarya dalam akal budi dan hati kita.

Teks: “Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

Ilustrasi: Santo Stephen Harding, blogs.telegraph.co.uk

 

 

Tags

Related Articles

error: Content is protected !!
Close