KWIUrbi

Menjadi Orangtua di Era Sosmed, Komunikasi dalam Keluarga

SEBUAH acara seminar tentang teologi komunikasi dalam keluarga dibesut oleh Komisi Komsos KWI dalam rangka membahas persoalan bagaimana membina jalinan komunikasi antara orangtua-anak di era media sosial (medsos). Seminar dengan nara sumber Prof. Dr. R. Eko Indrajit MSc dan Pastor RD Yustinus Ardianto berlangsung di Kantor KWI Jl. Cut Meutiah, Jakarta Pusat, Sabtu 25 April 2015.

Urgensi jelas, demikian kata Sekretaris Komisi Komsos KWI RD Kamilus Pantus, yakni menyambut seruan Paus Fransiskus dalam rangka Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-49 di bulan Mei mendatang. Paus Fransiskus dalam surat pastoralnya menyebutkan pentingya menjalin komunikasi intensif antar anggota keluarga. Karena di dalam keluarga itulah, kata Romo Kamilus, menjadi locus (tempat) istimewa terjadinya perjumpaan karunia kasih.

Pesan Paus dalam rangka Hari Komsos Sedunia ke-49 adalah Mengkomunikasikan Keluarga, Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih.

Dua ratusan peserta Seminar PARENTING 3.0 (Menjadi Orang Tua di Era Sosial Media).
Dua ratusan peserta Seminar PARENTING 3.0 (Menjadi Orang Tua di Era Sosial Media).

Gadget sehat dan aman
Prof Eko Indrajit bicara tentang bagaimana memperlakukan gadget sebagai alat medsos yang sehat dan aman. Tema ini sangat relevan, karena di era medsos seperti sekarang ini mendampingi perkembangan anak dalam membangun relasi akrab dalam hidup keluarga adalah hal mutlak.

Alasannya, demikian papar Eko, di Indonesia ini jumlah pemakai aneka gadget di ranah medsos mencapai pertumbuhan paling tinggi di atas 150% dan kota yang paling aktif berinteraksi melalui jaringan tweeter adalah Ibukota Jakarta.

Yang kemudian terjadi adalah banyak muncul berita gosip bersliweran di ranah virtual yakni medsos.

Bahkan pada tahun 2018 nanti, Indonesia diprediksi akan menjadi negara nomor wahid di dunia yang paling aktif memanfaatkan aneka medsos untuk berkomunikasi. Itulah sebabnya sedari awal Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, kata Eko, sudah selalu wanti-wanti agar kita semua perlu memahami komunikasi, teknologi dan internet secara benar dan bijak.

Yang kita takuti adalah mewabahnya pornografi, penipuan, kebohongan, manipulasi dan terakhir ini prostitusi karena hal ini sudah terjadi di China, Amerika, Korsel, Perancis dan masih banyak lainnya.

Komunikasi yang intensif semestinya terjadi di dalam keluarga. Namun, di tempat dimana kita bisa duduk bersama justru pikiran orang kemana-mana. Komunikasi antar anggota keluarga mestinya mendekatkan yang jauh dan membuat yang dekat semakin intens. Kadang malah perlu dilakukan, mengumpulkan HP sebelum makan bersama.

Penggunaan gadget dalam keluarga harus memenuhi dua prinsip yakni prinsip dan kiat (to know is to love).

Prof. Dr. Eko Indrajit  dan Rm. Yustinus Ardianto M.A, pembicara dalam seminar  PARENTING 3.0 (Menjadi Orang Tua di Era Sosial Media di Ruang Sidang Lantai IV Grdung KWI di Jl. Cut Mutiah n. 10 Jakarta.
(Dari kiri ke kanan) Rm. Yustinus Ardiyanto, MA; Prof. Dr. Eko Indrajit dan Fr. Bagas , 

Prinsip
Setiap hari, anak melihat HP tidak pernah lepas dari orangtuanya. Anak kecil bisa jadi berpikir bahwa HP itu merupakan bagian dari tubuh orangtuanya.

Sekarang semua orang terhubung karena internet dan mengungkapkan perasaannya melalui gadget. Kalau dimarahi orangtua, anak lalu meng-update statusnya. Ketika statusnya direspon dan orang mengajak ketemu, ternyata malah menjurus ke arah penculikan.

Ini juga merambah ke dunia pendidikan. Sekalipun ada pertalian darah dan batin, proses mendidik anak di rumah menjadi lebih susah. Di sekolah menjadi lebih rumit lagi, karena tidak ada pertalian emosional antara guru dan muridnya. Pada konteks inilah, perlu adanya pendampingan, kearifan.

Bagaimana menanamkan kepada anak akan filter baik-buruk?

  1. Tujuh prinsip dan 10 langkahnya sebagai berikut:
    Teknologi bersifat netral; yang memberi warna adalah manusianya yang menggunakannya.
  2. Teknologi itu seperti pupuk. Kebanyakan pupuk akan mati, sedikit pun akan mati. Berapa lama anak boleh menggunakan media. Harus tahu takaran yang pas. Setiap keluarga punya karakteristik yang berbeda.
  3. Anak hidup di dunia cyber dan pertemuan antar anggota keluarga terjadi di panggung virtual. Sekali bertemu secara fisik, kualitas pertemuannya harus bagus.
  4. Pandangan anak terhadap teknologi itu berbeda dengan cara pikir orangtua. Hati-hati dengan perspektif berlebihan. Pendampingan dan komunikasi adalah kunci segalanya.
  5. Menutup akses dunia cyber tidak efektif karena hanya bersifat sementara. Lebih efektif adalah sensor mandiri.
  6. Begitu anak lahir senang, sekarang pun kesenangan yang sama ditanamkan ketika dewasa, bahkan di saat anak berani melawan orangtua. Sharing antar anggota keluarga itu penting.
  7. Tidak ada pihak lain yang memperhatikan anak, kecuali orangtua. Guru tidak ada pertalian darah dan emosional dengan murid.

Kiat-kiat

  1. Mendampingi anak ketika mereka mulai bersentuhan dengan teknologi.
  2. Menaruh hormat dan kepercayaan pada anak.
  3. Punya kontak psikolog.
  4. Kendalikan uang saku secara bijaksana.
  5. Pendidikan seks sedini mungkin.
  6. Salurkan bakat atau hobi anak secara tepat,
  7. Sering membaca, ikut seminar, tukar pikiran karena senasib sepenanggungan.
  8. Kita tidak bisa menghilangkan tapi mengurangi situs dengan konten tidak baik.

Pembicara kedua adalah RD Yustinus Ardianto, MA, mantan Ketua Komsos KAJ

Romo ini memaparkan, dari buku yang begitu banyak, kini bisa masuk ke DVD, flash disc, on line. Dari begitu besar sudah menjadi sangat ringkas.

Pun pula, hasil riset SEANUT menunjukkan 57,3% anak kurang aktif karena terlalu banyak berada di depan tv, komputer, video game lebih dari dua jam sehari (55, 2%). Ada elektronik baby sitter. Penelitian lain bahwa anak dengan spiritual kuat lebih bahagia, optimis, ketekunan, terhindar depresi, nilai baik di sekolah, 80% tidak menganut seks bebas, 40% tidak menggunakan narkoba.

Ada hubungan iman dengan efek-efek di atas. Spiritualitas hubungan personal dengan alam atau kekuatan lebih tinggi. Disarankan melakukan aktivitas ibadah, meditasi.

Kini muncul kebiasaan baru: ‘budaya’ interaktif (SMS, chating), mencari (website, blog), berbagi (email, fb, twitter), pamer (somed, tongsis).

Advertising, budaya persaingan, budaya instan semakin menunjukkan sisi destruktif untuk perkembangan kepribadian dan iman sesorang. Iman cenderung sabar dan menunggu. Iman berkesan lambat.

Anak kalau ketemu orangtua, guru, pemuka agama ekspresinya merengut. Tapi kalau ketemu peer goup, mutual friends mukanya ceria.

Tantangan bagi kita di era online media. Tell me, I’ll forget. Show me, I’ll remember. Involve me, I’ll understand. Kalau mau ngajar anak-anak belajar sedikit, mainnya banyak dengan contoh kasus. Orangtua terlalu memanjakan anak, jangan sampai anak susah. No news = good news. Kasih anak pengalaman ke alam liar.

Ketika manusia semakin mekanik dan materialistik, nilai spiritual menjadi sulit untuk masuk. Ketika seseorang terbiasa mendapat apa pun secara instan, nilai pengorbanan diri, mati raga, bertahan dalam penderitaan, semakin tidak bisa dipahami.

Bring the Gospel to the internet
Online religion (menggantikan praktik agama yang offline, tidak perlu bersekutu dengan umat, praktik agama dilakukan secara online) Vs religion online (gereja atau komunitas rohani apa pun harus juga menawarkan macam-macam secara online dan eksis). Kehadiran online tidak bisa menghadirkan secara fisik.

Kita harus makin kreatif dan mengupdate diri. User yang pegang kendali. Bukan para romo yang pegang kendali.

Partisipatif: user bisa ikut serta menjadi ‘source’, melepaskan budaya hirarki-patriarkal. Semakin mobile: anywhere, anytime.

Mat 7: 16-20. Belum tentu orangtua baik, maka anak menjadi baik; itu karena ada kompetitor dari pihak mana pun.

Kegagalan orangtua dalam Alkitab: Samson dan ibunya (Hak 13-14). Teladan orangtua dalam alkitab: Iman Timotius dapat dikaitkan dengan ibu dan neneknya.

Kesuksesan/kegagalan air mata orangtua. Anak kesepian, efeknya macam-macam.

Kesimpulan: Ams 22: 6 Sewaktu anak masih muda kita harus mulai giat mengajari mereka untuk kenal dan takut akan Allah. Berusaha melakukan setelah anak beranjak dewasa tidak akan banyak gunanya tau sangat sulit.

Kredit foto: Ilustrasi

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; sekarang berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

Related Articles

2 Comments

  1. Trima kasih atas unggahan yg sangat penting dan relevan dgn tuntutan kemajuan peradaban dewasa ini… sungguh suatu ‘habitus’ baru telah bertumbuh-kembang demikian subur, habitus digital.
    Maka, menurut hemat saya, Gereja memang harus segera ‘manjing ajur-ajer’ dan mengintervensi habitus digital ini. Gereja harus menerangi dan menggarami habitus baru ini. Syukurlah bahwa Bapa Suci sudah demikian suportif kepada perkembangan ini. Gospel must go to the internet, sermon must show up in the tweeter, etc.
    Maka, tantangan dan topik baru ini tampaknya harus segera menjadi bagian dari kurikulum pendidikan imam, katekis, atau petugas gerejawi pada umumnya.
    Semoga demikian.
    Salam, dan Berkah Dalem.
    AC Sungkana Hadi, Yogya

Close