OPINI

Menjadi Produktif

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15, 5)

SEORANG  ibu mempunyai anak dua belas orang anak. Orang lain mengatakan bahwa ibu itu produktif. Seorang dosen bisa menulis buku sampai belasan judul. Seolah-olah ide dan gagasannya tidak pernah habis dan mengering. Orang lain menyebutnya bahwa dosen itu produktif.

Beberapa hari yang lalu, saya mampir di sebuah warung penjual tahu. Bapak pemilik warung itu ternyata seorang pelukis. Saya diajak melihat berbagai macam lukisannya yang siap dipamerkan dan dijual. Saya pun mengatakan bahwa pelukis itu produktif.

Produktif merupakan suatu ciri atau sifat yang melekat dalam diri seseorang. Seseorang disebut produktif, karena dirinya mampu menghasilkan banyak produksi, entah lukisan, buku, lagu, tarian, makanan, pakaian atau berbagai produk yang lain. Orang punya ketrampilan, kemampuan, bakat atau talenta tertentu untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Bahkan identitas diri seseorang sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkannya. Orang tidak cukup hanya dikenal namanya, tetapi juga produk yang telah dihasilkannya. Bahkan sikap atau perilaku terhadap sesama atau orang lain sering ditentukan oleh jumlah produk yang dapat mereka hasilkan.

Seorang karyawan yang tidak produktif lagi bisa dirotasi, dimutasi atau diberhentikan dari pekerjaannya. Calon karyawan yang tidak bisa memenuhi target produksi, tidak bisa diterima. Bahkan para lansia yang sudah tidak produktif pun sering mengalami kehidupan yang tidak menggembirakan, entah didiamkan, disingkirkan, dititipkan di panti jompo.

Banyak orang merasa minder dan tidak percaya diri, karena tidak mampu menghasilkan sesuatu untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Kemandulan sering dialami oleh banyak orang. Di tengah zaman yang diwarnai oleh gejala ‘produktif – mandul’, Yesus mengingatkan bahwa para murid itu hanyalah ranting.

Ranting mampu berbuah karena melekat pada pokok atau batangnya. Ranting yang terpisah dari pokok akan mandul, tidak berbuah dan menjadi kering. Ranting macam apakah diriku ini?

Teman-teman selamat petang dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Tags

Related Articles

error: Content is protected !!
Close