KWIPEKAN KOMSOS

Kotbah Lengkap Mgr. Petrus Turang pada Misa Penutupan Pekan Komsos di Keuskupan Manokwari – Sorong

Saudara-saudari terkasih,

Dunia kita sedang berada dalam perubahan dahsyat. Salah satu penyebabnya adalah kemajuan dalam teknologi informasi dan komunikasi. Sekarang ini, orang berbicara tentang “global village”, suatu desa atau kampong global, biarpun kenyataannya memang berbeda ! Di desa atau kampong, biasanya orang saling kenal dan saling menyapa dari muka ke muka, tetapi dalam “global village” nyatanya orang semakin terasing di tengah kemajuan teknologi dengan segala gadgetnya. Kenyataan ini juga menjadi pengalaman harian dalam keluarga-keluarga. Dunia digital menghadirkan perubahan atau hubungan komunikasi secara baru di dalam keluarga. Peralatan komunikasi yang merasuki keluarga-keluarga membangun perilaku khusus, yang belum pernah hadir selama ini. Hubungan kekeluargaan berubah. Orangtua dan anak-anak semakin ditangkap basah oleh alat-alat komunikasi. Face to face semakin berubah menjadi “facebook” atau perangkat digital dengan pelbagai nama.

 

Saudara-saudari terkasih,

Kesejatian komunikasi dalam keluarga berkembang baik secara positif maupun negatif, biarpun tidak disadari sepenuhnya. Keluarga-keluarga nampaknya semakin mempercayakan diri pada alat-alat bantu komunikasi, yang pada gilirannya seringkali menjauhkan diri, bahkan membuat kita saling “terasing”. Kepedulian akan sesama dalam keluarga berubah menjadi “angka” dalam teknologi komunikasi. Apakah artinya ini bagi keluarga ? Keluarga masuk ke dalam gaya hidup baru dengan segala dampaknya, baik yang mnyenangkan maupun tak menyenangkan. Dunia digital dalam keluarga semakin menjadi kehadiran jari yang saling menyapa secara pribadi. Jari manusia dalam keluarga semakin dikuasai oleh cara kerja baru, yaitu penghampiran dalam bentuk maya yang bermakna. Memang, maknanya memperluas jejaring komunikasi, biarpun kehadiran pribadi secara fisik berkurang atau bahkan hilang. Anggota keluarga dapat menjauh dari makan bersama akibat ketagihan dalam penggunaan alat komunikasi modern. Jadi, di samping kemajuan dalam membangun peradaban baru, keluarga-keluarga juga terperangkap dalam kebutuhan-kebutuhan yang tidak nyata melalui keinginan-keinginan yang dibentuk di luar kemauan kita akibat iklan atau fitur-fitur lain dalam teknologi komunikasi.

Pergerakan “on line” dalam keluarga nampaknya semakin menjadikan sesama anggota keluarga “orang lain”, sehingga komunikasi manusiawi memudar dan hubungan pribadi menjadi samar-samar. Di tengah perubahan demikian, keluarga memang mengalami kegembiraan berjejaring, namun kemesraan keluarga harus berhadapan dengan senjata teknologi yang sangat ampuh menyodorkan gaya khusus yang berbeda. Dampak yang memukau dari teknologi komunikasi dapat menyebabkan keretakan dalam keluarga, persaingan kepemilikan gadget dalam keluarga, bahkan kecurigaan serta ketidak-percayaan satu sama lain. Dapat muncul gossip dalam keluarga atau antar keluarga akibat pemakaian alat komunikasi yang tidak bertanggungjawab. Pemberdayaan teknologi komunikasi tidak dengan sendirinya memberdayakan hubungan pribadi dalam keluarga: kebiasaan adat istiadat yang baik dan yang merukunkan dapat menjadi luntur akibat pengaruh konsumeristik media sosial digital.

 

Saudara-saudari terkasih,

Yesus Kristus telah menganugerahkan kepada persekutuan gerejawi, utamanya persekutuan keluarga, perintah baru yaitu anugerah cintakasih. Keluarga merupakan sekolah awal dari komunikasi, di mana terdapat Bahasa tubuh yang sangat manusiawi. Perintah cintakasih adalah anugerah ilahi dalam perjalanan keluarga Kristiani, dengan mana kita umat Kristiani belajar menjadi murid-murid Kristus, ialah orang yang meneladani perilaku hidup Yesus Kristus. Dengan belajar mengasihi dalam keluarga, kita membangun suatu peradaban baru, yaitu budaya kasih yang senantiasa baru dan menjiwai perjalanan hidup keluarga di mana dan kapan saja. Sayang akan hidup mulai bermekar dalam hidup keluarga, karena di dalam keluarga komunikasi “Rahim” menjadi dasarnya. Komunikasi ini tidak memerlukan teknologi komunikasi, karena secara biologis sudah tertancap dalam hubungan ibu-anak: suiatu kegirangan yang luar biasa dan tak tergantikan. Bahasa tubuh ini masuk dalam peredaran darah bersama dan pada gilirannya mengikat kebersamaan dalam persaudaraan genealogis yang tak terhapuskan. Komunkasi dalam keluarga menurut gaya ini adalah bentuk perjanjian “abadi” di antara kaum keluarga, biarpun sekarang ini hubungan demikian semakin memasukki tahap pemalsuan akibat individualisme dan materialisme di tengah pengaruh konsumeristik masyarakat semasa. Tuntutan materialistik semakin menggerogoti hidup keluarga, sehingga kesadaran bersesama semakin menjadi miskin dan mengakibatkan keterasingan hidup dalam keluarga. Lingkungan bermain untuk berkembang menjadi dewasa semakin hilang dan jejaring sosial pun dalam keluarga nyatanya menumpukkan ketegangan-ketegangan baru, yang belum pernah hadir sebelumnya, seperti komunikasi orangtua-anak hanya dengan peralatan dunia digital. Dalam dunia digital “virtus”kebajikan digantikan oleh “virtual” maya. Fungsi komunikasinya ada, tetapi relasi berwajah manusiawi memudar dan menghilang sementara. Dalam konteks ini, baiklah kita ingat apa yang dititahkan Yesus: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”(Mt 7:12).

 

Saudara-saudari terkasih,

Gaya hidup baru memang menuntut pendekatan dan penghayatan baru, agar komunikasi dalam keluarga tetap mengutamakan sentuhan manusiawi: permisi, terima kasih dan minta maaf, demikian Paus Fransiskus. Kita bersyukur atas segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi, tetapi kita juga harus menempatkan diri dengan penuh tanggungjawab. Kita harus saling memanusiawikan dalam hidup keluarga dengan memanfaatkan alat komunikasi yang tersedia. Tujuannya, agar keluarga kita rukun dan damai: berlaku kasih satu sama lain dan saling menghormati dalam penggunaan teknologi komunikasi. Kita membangun hidup keluarga yang bermartabat anak-anak Allah, yaitu kemerdekaan untuk memelihara ciptaan Tuhan dalam perjalanan keluarga, utamanya pendidikan anak-anak dalam iman Kristiani. Kita dapat mengirim teks-teks Kitab Suci melalui gadget teknologis, tetapi apakah perilaku kita sesuai dengan teks Kitab Suci yang kita kirimkan? Kita dapat mengirimkan doa secara virtual, tetapi apakah kita adalah manusia pendoa? Apakah kita masih membaca Kitab Suci dan berdoa bersama dalam keluarga atau cukup melalui sms atau BB? … Kita berharap bahwa keluarga kita tetap “selfie” dalam anugerah cintakasih dan bukan saja memamerkan “selfie keluarga” demi kehebatan dan ketenaran dalam istagram atau facebook! Pertanyaannya, apakah dengan semua yang baik ini, keluarga kita semakin menjadi Katolik dan Kristiani? Suka damai, rukun, peduli sesama dan memerhatikan mereka yang lemah serta saling membantu untuk menjadi murid-murid Kristus yang sejati? Kitab Wahyu bertitah: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk: jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia dan dia bersama-sama dengan Aku”(3:20).

 

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah berkecamuknya gerakan atau aliran radikal dan fundamentalistik, apakah keluarga kita hadir sebagai persekutuan yang menghormati perbedaan, pun dalam keyakinan hidup iman? Pendidikan komunikasi dalam keluarga secara benar pada gilirannya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang sadar dan tahu menghormati sesama dengan segenap hati, tanpa mendesakkan gossip yang merusak kebersamaan hidup baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Kesejatian hidup keluarga kita terletak pada penguatan dan penghayatan akan anugerah cintakasih, kasih karunia yang ditanamkan Tuhan dalam hati keluarga kita. Oleh karena itu, jangan takut dan beranilah menjadi keluarga Kristiani yang baik dan benar. Salah satu tanda dari anugerah cintakasih adalah rela berkorban seperti Kristus yang datang untuk melayani sesama menurut kehendak Bapa-Nya. Ingatlah bahwa komunikasi dalam keluarga sangat ditentukan oleh tiga hal, yaitu permisi(may I), terima kasih(thank you) dan minta maaf(excuse me) !

 

Sorong, 17 Mei 2015

Mgr. Petrus Turang

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close