Urbi

Lomba debat rohani OMK Se-Kota Ambon meriahkan Hari Komunikasi Sosial Sedunia

DEMI menumbuhkembangkan pengetahuan iman kekatolikan para generasi muda gereja di Keuskupan Amboina, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Katedral Ambon pada hari Sabtu, 16 Mei 2015, menggelar kegiatan Debat Rohani Orang Muda Katolik (OMK) se-kota Ambon dalam sorotan tajuk, “Mengkomunikasikan Iman bagi Kaula Muda dan Keluarga.” Sebanyak 110 perwakilan OMK paroki-paroki se-kota Ambon hadir dalam Debat Rohani yang dilaksanakan di Aula Paroki Katedral. Mereka datang dari Parok iLaha, Paroki Benteng, Paroki Hati Kudus, Paroki Poka-Rumah tiga, Paroki Halong, dan tuan rumah Paroki Katedral. Para Calon Imam dari Seminari Xaverianum Ambon, Perwakilan Mahasiswa STPAK Santo Yohanes Penginjil Ambon dan Perwakilan Kerukunan Mahasiswa Katolik (KMK) Universitas Pattimura Ambon juga hadir dan berpartisipasi dalam Debat Rohani tersebut.

Dua Pokok Ajaran Iman Diperdebatkan

Dalam Debat Rohani yang berlangsung sejak pkl. 20.00-24.00 WIT, terdapat dua pokok ajaran iman yang diperdebatkan oleh peserta, yakni: Gelar Maria sebagai Bunda Gereja dan Kuasa atau kewenangan Hirarki (Uskup dan Imam) memberikan penitensi dan absolusi dalam Sakramen Tobat.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini yakni Romo Ignasius Refo yang juga adalah Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Amboina. Romo Refo hadir untuk membuka wawasan para peserta di akhir debat rohani tentang kebenaran iman yang sesunggunya dari topik-topik yang dibahas. Selain itu hadir sebagai pengamat, Pastor Paroki Katedral, Ketua DPP, Ketua Seksi Katekese, Ketua Seksi Kepemudaan dan Ketua Seksi Liturgi Paroki, Perwakilan dari Rukun se-paroki Katedral dan para undangan.

“Kehadiran kami disin ilebih sebagai orangtua yang datang untuk memberikan dukungan kepada generasi-generasi muda gereja yang secara kristis menggali pengetahuan iman mereka,” Ujar Linda Welafubun dari Seksi Kepemudaan Paroki.

Ketua Dewan Pastoral Paroki Katedral, Nico Rotama, dalam sambutannya mengatakan bahwa tujuan debat adalah untuk mencari kebenaran dan bukan mencari pembenaran diri. Nico berharap dalam proses debat para peserta dapat selalu mengingat tujuan ini sehingga proses dapat berjalan dengan baik dan tertib. Nico juga berharap agar pengetahuan iman yang didapat dalam proses debat–terutama penjelasan yang diberikan oleh Pastor Narasumber – dapat senantiasa tertanam dalam hati dan pikiran para peserta. “Jangan nanti selesai debat, semua ilmu dan informasi yang didapat itu ikut hilang,” imbuhnya.

Proses debat rohani berlangsung cukup hangat namun tetap dalam jalur komando dari Moderator Debat-Saudara IgoIrijanan. Dengan gayanya yang khas ia mengatur kelancaran proses debat. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok pro dan kelompok kontra. Peserta diberi kesempatan memilih secara bebas untuk berdiri pada kelompok yang disukai, kelompok pro atau Kontra.

Walaupun secara kuantitas kedua kelompok Nampak kurang seimbang karena banyak peserta memilih berdiri pada kelompok Pro dan hanya sedikit yang memilih kelompok Kontra, namun itutidakmengurangisemangatmerekauntuksalingberaduargumen.

“Wajar jika melihat sedikit peserta yang memilih kelompok kontra, karena kami sendiri mengakui sangat sulit mencar iargumen yang tepat untuk melawan kedua topic ini,” ujar salah satu peserta dari  Tim Kontra-Sdr. Vinus Sebenan (PerwakilanMahasiswa STPAK Ambon). Vinus mengungkapkan bahwa sebagai seorang Katolik tentunya telah memiliki pemahaman dasar tentang kedua topik tersebut. “Oleh karena itu, tim kami telah bersepakat untuk dalam proses debat ini memposisikan diri kami sebagai Umat Non-Katolik yang sama sekali buta tentang ajaran katolik daningin mengetahui lebih mendalam iman katolik,” katanya.

Komentar lain datang dari salah satu anggota Tim Pro – Sdr. Edi Melsadalam (KMK UniversitasPattimura). Dirinya mengungkapkan bahwa sebagai bagian dari tim pro mereka harus mempelajari iman katolik lebih dalam agar pertahanan argument mereka dapat diterima.  “Tugas kami sebagai tim pro lebih sulit tetapi juga menantang. Kami harus mampu menjelaskan dengan baik pokok iman Katolik itu secara benar sehingga Tim Kontradapat menerima argumen kami.”

Proses debat rohani berjalana cukup alot, hangat namun tetap teratur. Kedua Tim baik Pro maupun Kontra tetap mempertahankan argument mereka. Di akhir debat, Narasumber memberikan penjelasandan pemahaman kepada para peserta tentang kebenaran iman yang dihayati dan dipegangteguh oleh Gereja Katolik, baik menyangkut Dogma Maria sebagai bunda Gereja maupun tentang kewenangan Hirarki memeberikan penitensi dan absolusi dalam sakramen tobat.

Tentang Dogma Maria Bunda Gereja, Pastor Igo menjelaskan bahwa Gelar Maria sebagai Bunda Gereja itu diperoleh bukan datang dari Maria sendiri tapi pertama-tama karena hasil refleksi Gereja tentang Siapa itu Maria dan peranannya yang begitu penting dalam sejarah keselamatan Allah di dunia. “Bukan hanya tradisi Gereja saja yang mengistimewakan Maria. Refleksi para Bapa Gereja berakar dari KitabSuci juga. Sejak Zaman Perjanjian Lama peranannya telah diramalkan oleh para nabi dan dalam Perjanjian Baru pun Maria menempati posisi yang istimewa diantara semua orang yang dekat dengan Yesus. Ia ada dan mendampingi Gereja mulai dari kelahiran Sang kepala Gereja – yakni Yesus sendiri – hingga peristiwa awal dimana Gereja mulai berdiri yakni Pentakosta.”

Dan tentang wewenang Kaum Hirarki memberikan Penitensi dan Absolusi dalam sakramen tobat dijelaskan oleh Pastor Igo bahwa praktek pengampunan dosa itu telah ada jauh hari sebelum Kitab Suci ditulis karena praktek itu merupakan tradisi yang hidup sejak jemaat Kristen awal dan berkembang hingga saat ini. “Awalnya, seseorang yang melakukan dosa dalam jemaat harus melalukan pengakuan dosa umum dihadapan seluruh jemaat, namun kini tugas itu dipercayakan kepada para hirarki sebagai pemimpin dan juga pelayan dalam jemaat. Dan wewenang itu diperoleh dari Kristus sendiri sebelum Ia naik ke Surga. Ia memberikan wewenang itu kepada para rasul dan penerus mereka yakni kaum hirarki.”

Beliau juga menegaskan bahwa praktek pengakuan dosa ini tidak hanya berpengaruh pada kehidupan rohani seseorang namun juga secara psikologis membantu mereka untuk menjalan ihidup sebagai manusia baru dalam kehidupan sosial, tidak selamanya terkungkung dalam perasaan bersalah karenakedosaannya.

Bermanfaat untuk Peserta

“Selain menambah pengetahuan iman, kita semua bisa saling mengenal, berani berbicara dan mengungkapkan argument secara baik dan benar,” ujar Sdri.RossySuharsono dari OMK ParokiHalong. Ada pula peserta yang memberikan masukan menyangkut waktu pelaksanaan Debat Rohani agar tidak berlangsung hingga larut malam mengingat ada teman-teman OMK yang berasal dari paroki yang jauh yang tertarik untuk ikut mengambil bagian dalam debat rohani ini, namun terkendala padahal-hal seputar jarak lokasi dan waktu pelaksanaan kegiatan.

Pastor Paroki Katedral yang juga Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Amboina, Romo Theo Amelwatin mengungkapkan bahwa persoalan jarak dan waktu pelaksanaan kegiatan itu dapat diatasi dengan kerjasama OMK se-kota Ambon untuk menyelanggarakan kegiatan serupa bergiliran dari paroki ke paroki. “Teman-teman OMK dari paroki yang lain dapat melihat momen ini sebagai dasar pijak supaya ketika Anda kembali ke paroki masing-masing dapat menyelenggarakan kegiatan yang sama yang dapat melibatkan kita semua OMK sewilayah kota Ambon,” ungkap Romo Theo kepada peserta lomba debat.  Ia menambahkan bahwa Paroki Katedral dan Komisi Komsos mendukung penuh kegiatan-kegiatan seperti ini.

Pastor Theo mengatakan dirinya bersyukur, karena Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-49 yang dirayakan pada Minggu, 17 Mei 2015, dapat dimeriahkan dan dimaknai dengan Debat Rohani yang melibatkan OMK. “Kami sengaja memilih tanggal 16 Mei sebagai waktu yang tepat untuk mengkomunikasikan ajaran iman Katolik kepada Kaula Muda dan Keluarga. Meskipun topic debat bukan seputar Tema Hari Komsos sedunia ke-49, kami merasa bangga dan puas menyaksikan proses debat dan hasil yang digapai.” Pungkasnya tersenyum.

 

Laporan :Edy Reubun, Komsos Amboina.

 

Tags

Related Articles

Close