KELUARGAKOMISI-KOMISIKWIUrbi

Raker Komisi Keluarga Regio Gerejawi Samarinda 2015: Bersama Hadapi Narkoba

“Peran Keluarga dalam Membela Kehidupan Berhadapan dengan Masalah Narkoba” adalah tema besar yang diusung dalam pelaksanaan Rapat Kerja Komisi Keluarga Regio Gerejawi Samarinda 2015. Raker berlangsung sejak Kamis-Minggu, 4-7 Juni 2015 di Wisma Sikhar Banjarbaru, Keuskupan Banjarmasin.

Rapat kerja kali ini dihadiri oleh 51 orang peserta, dengan perincian: 34 orang dari Keuskupan Banjarmasin, 5 orang perwakilan Keuskupan Agung Samarinda, 3 orang dari Keuskupan Tanjung Selor dan 9 orang mewakili Keuskupan Palangkaraya.

“Keluarga”, Komunitas cinta kasih

Misa pembukaan dipimpin langsung oleh Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Banjarmasin Pastor Gregorius Syamsudin MSF didampingi oleh Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana MSF, Pastor Petrus Prillion MSF dan Pastor B. Triwidayatno MSF.

Dalam homilinya, Pastor Syamsudin MSF mengetengahkan tema “Keluarga adalah Komunitas Pribadi-pribadi dalam Cinta Kasih”. Homili diawali dengan sebuah cerita singkat yang berkisah tentang perjumpaan seorang pemuda dengan seorang gadis kecil di depan sebuah toko bunga.

Dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak memberikan hadiah seikat bunga yang ditujukan untuk ibunya yang hari itu sedang berulang tahun. Sesampainya di toko bunga, pemuda tersebut segera memesan seikat bunga kepada pemilik toko dan meminta kepada pelayan toko tersebut untuk mengantarkan bunga dimaksud ke alamat ibunya yang jaraknya 50 km dari situ.

Saat keluar dari toko bunga, pemuda itu berjumpa dengan seorang gadis kecil yang terduduk di tepi jalan. Karena rasa belas kasih yang mendalam, pemuda itu segera menghampiri si gadis kecil dan bertanya, “Nak, mengapa kamu duduk di sini?”

Gadis kecil itu menjawab, “Aku ingin membeli sekuntum bunga mawar untuk ibuku. Tapi uangku tidak cukup. Aku hanya mempunyai uang seribu rupiah saja, sedangkan harga bunga itu lima ribu rupiah.”

Suster Misionaris India: Sr. Ramnya SMMI – Sr. Rani SMMI – Sr. Viji SMMI (Puguh)

Pemuda itu tersenyum kemudian menawarkan bantuannya, “Mari sini, kita ke toko bunga itu dan membeli bunga yang kamu inginkan.” Tanpa berkata-kata lagi, gadis kecil itu bergegas mengikuti langkah-langkah sang pemuda masuk kembali ke dalam toko bunga.

Setelah gadis itu mendapatkan sekuntum bunga mawar yang diinginkannya, kembali pemuda baik hati itu menawarkan bantuannya, “Nak, sekarang aku akan mengantarkanmu pulang!”

Gadis kecil itu tersenyum girang dan mengangguk tanda setuju. Mereka berdua kemudian bergegas meninggalkan toko bunga dan pergi menuju ke alamat yang ditunjukkan oleh si gadis kecil. Sesampainya di depan lokasi pemakaman, gadis kecil itu ingin turun dari atas kendaraan.

Pemuda itu keheranan, lagi-lagi ia bertanya, “Nak, rumahmu dimana? Bukankah tadi kamu berkata bahwa kamu ingin memberikan sekuntum mawar itu untuk ibumu?”

Gadis itu tak menjawab. Ia lalu melangkah menghampiri sebuah gundukan tanah yang masih tampak basah. Setelah berlutut, ia pun meletakkan sekuntum bunga mawar itu di atas pusara makam itu, yang adalah makam ibunya.

Tiba-tiba pemuda itu teringat akan sosok ibunya yang masih hidup. Setelah mengantarkan gadis kecil itu pulang ke rumahnya, pemuda itu kembali ke toko bunga dan membatalkan permintaan sebelumnya. Seikat bunga yang telah dipesannya beberapa waktu lalu pun ia antarkan sendiri untuk ibunya di rumah.

Berdasarkan kisah tersebut, Pastor Syamsudin MSF menekankan bahwa keluarga adalah komunitas pertama dari manusia dan bersumber dari cinta kasih. “Maka setiap pribadi dalam keluarga tersebut harus mewujudkan cinta kasih yang konkrit, yang mana pertama-tama suami istri Katolik harus saling mengasihi satu sama lain.”

Menurut Pastor Syamsudin MSF, sakramen perkawinan akan membuahkan keselamatan. “Cinta kasih suami istri adalah tindakan nyata demi kebahagiaan dan keselamatan pasangannya. Karena persekutuan dalam perkawinan didasari atas kesepakatan untuk saling menerima satu sama lain dan bersedia meninggalkan keluarga asalnya masing-masing, demi menjadi satu daging dengan istri atau suaminya.”

Pastor Syamsudin MSF mengingatkan bahwa cinta kasih mempunyai peranan yang utama untuk menguatkan keluarga itu sendiri. “Dengan adanya cinta kasih, sebuah keluarga dapat berkembang dan menyempurnakan pribadi-pribadi yang ada di dalamnya.”

Berkaitan dengan tema yang diangkat dalam Raker Komisi Keluarga kali ini, Pastor Syamsudin MSF menyampaikan fakta-fakta menarik seputar narkoba berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional). “Bisnis narkoba dapat menghasilkan uang yang jumlahnya luar biasa,” tuturnya. Di sinilah Komisi Keluarga ikut ambil bagian dan berperan nyata dalam pendampingan keluarga-keluarga untuk menghadapi bahaya narkoba.

Peran keluarga tanggulangi narkoba

Koordinator Komisi Keluarga Regio Gerejawi Samarinda Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana MSF dalam sambutannya saat sesi perkenalan berujar, “Selama tiga belas tahun, pertemuan Raker seperti ini dapat berjalan dengan baik. Di setiap pertemuan, saya selalu menjumpai wajah-wajah baru yang hadir di situ.”

Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana MSF
Koordinator Komisi Keluarga Regio Gerejawi Samarinda Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana MSF (Puguh)

Terkait dengan tema yang diangkat kali ini Pastor Timotius MSF mengemukakan bahwa keluarga sebagai gereja domestik hendaknya berupaya menanggulangi bahaya narkoba. “Kita mau menempatkan derap langkah Komisi Keluarga Regio Gerejawi Samarinda dalam gerak Gereja Indonesia secara keseluruhan. Setahun yang lalu tema ini sudah dibahas dalam pertemuan Komisi Keluarga di tingkat KWI, dan sekarang kita akan lebih mendalaminya untuk tingkat Regio Gerejawi Samarinda.”

Sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh panitia, sepanjang Raker peserta akan memperoleh pembekalan materi dari pihak-pihak yang berkompeten terkait tema yang diangkat, diantaranya: BNN Provinsi Kalimantan Selatan dan Polda Kalimantan Selatan.

Sementara itu dalam materi pembekalan peserta raker akan mengulas sisi narkoba dipandang dari aspek hukum, kesehatan, pandangan Gereja dan moral. Selain itu kesaksian dari mantan pemakai narkoba diharapkan dapat memberikan pandangan yang tepat akan bahaya narkoba, khususnya bagi anak-anak dan kaum muda sebagai generasi penerus bangsa.

Tak ketinggalan, sharing aneka macam kegiatan dari masing-masing tim Komisi Keluarga dari semua keuskupan yang hadir akan ikut memperkaya pertemuan selama 4 hari 3 malam ini, yang nantinya akan ditutup dengan sesi evaluasi bersama.

 

 

 

 

Tags

Dionisus Agus Puguh Santosa

Umat Paroki Bunda Maria Banjarbaru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan; anggota Komsos Keuskupan Banjarmasin, kontributor Majalah Keuskupan "Ventimiglia" dan Majalah "Hidup".

Related Articles

Close