Teladan Kita

S. Yohanes Fransiskus Regis, 16 Juni

ORANG kudus Perancis ini dilahirkan pada tahun 1597. Ketika usianya delapanbelas tahun, ia bergabung dengan Ordo Jesuit. Di seminari, kasih Yohanes kepada Tuhan dan panggilannya ditunjukkannya dengan cara ia berdoa. Ia juga bersemangat mengajar katekese di paroki-paroki apabila ia dapat. Setelah ditahbiskan sebagai imam, St Yohanes Fransiskus memulai karyanya sebagai seorang misionaris pengkhotbah. Ia menyampaikan khotbah-khotbah sederhana yang berasal dari hatinya. Teristimewa ia berbicara kepada kaum miskin dan rakyat jelata. Mereka berduyun-duyun datang untuk mendengarkannya. Yohanes melewatkan pagi hari dalam doa, melayani Sakramen Tobat dan menyampaikan khotbah. Siang hari ia mengunjungi penjara-penjara dan rumah-rumah sakit. Kepada seorang yang mengatakan kepadanya bahwa para narapidana dan para perempuan tidak baik yang ia pertobatkan tidak akan bertahan lama menjadi orang baik, orang kudus ini menjawab, “Apabila usahaku dapat menghentikan hanya sekedar satu dosa saja, maka aku akan menganggapnya berguna.”

St Yohanes Fransiskus menjelajah hingga ke paroki-paroki di pegunungan liar bahkan di hari-hari yang dingin menggigit di musim dingin demi menyampaikan misinya, “Aku melihatnya berdiri sepanjang hari di atas tumpukan salju di puncak bukit sedang menyampaikan khotbah,” kata seorang imam, “dan kemudian ia melewatkan sepanjang malam dengan mendengarkan pengakuan dosa.” Terkadang ia bersiap berangkat ke suatu kota yang jauh pada pukul tiga dini hari dengan beberapa buah apel di kantongnya sebagai santapannya sepanjang hari itu.

Suatu ketika, dalam perjalanan ke suatu dusun, St Yohanes Fransiskus terjatuh dan kakinya patah. Tetapi ia tetap meneruskan perjalanannya dengan bertopang pada sebatang tongkat dan pada bahu seorang teman. Ketika tiba di dusun, ia langsung mendengarkan pengakuan dosa. Ia tidak memeriksakan kakinya. Di akhir hari itu, ketika dokter memeriksanya, kakinya telah sembuh sama sekali secara ajaib.

St Yohanes Fransiskus Regis wafat di salah satu misi khotbahnya. Ia jatuh sakit parah kala tersesat pada malam hari di hutan. Sesaat sebelum wafat ia berseru, “Aku melihat Tuhan kita dan BundaNya membukakan pintu gerbang surga bagiku.” Ia wafat pada tanggal 31 Desember 1640.

Pada tahun 1806, seorang peziarah menggabungkan diri dalam khalayak ramai yang berdoa di tempat ziarah St Yohanes Fransiskus Regis. Peziarah ini yakin sepanjang hidupnya bahwa dengan perantaraan santo inilah ia mendapatkan panggilannya menuju imamat. Nama pemuda ini adalah St Yohanes Maria Vianney, Imam dari Ars.

Berapa sering aku mengambil waktu untuk merefleksikan hidupku dan melihat betapa banyak rahmat dan berkat yang dianugerahkan Tuhan? Adakah hari-hariku berlalu tanpa mengucap syukur kepada-Nya atas segala rahmat dan berkat?

Teks: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

Credit Photo:  Santo Yohanes Francois Regis, www.katakombe.net

 

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close