Urbi

OPINI: Jumat, 10 Juli 2015

Yang  Terindah &  Paripurna

(  Mesbah Kudus Suami-Istri  – 1 )

“APAKAH  engkau sungguh mengasihiku??”,  pertanyaan Ina Dawan Muda menggugat nurani  suaminya Plasidus tat kalah mereka saling menerimakan sakramen nikah suci  Juli 2011 di Gereja St. Yoseph Riangkemie.  Ina menderita sakit paru-paru basah akut. Atas nasehat dokter ia harus beristirahat dari kerja.  “Mendengar nasehat dokter hatiku sedih mengingat suamiku”, ketusnya saat berada dalam ruangan penyelidikan kanonik.

“Apakah suamimu  memang sungguh mencintai kamu terlebih saat ini dimana kamu harus banyak beristirahat dari  pekerjaan rumah tangga?” inilah pertanyaan  untuk mengetahui sejauhmana mereka saling mengenal dan mencintai.  “Suamiku  tidak banyak bicara. Ia tekun bekerja dan  sangat peduli pada kesehatanku!”  ucapnya  dengan  mata berkaca-kaca.  Sesekali ia menghapus air mata dari wajahnya mengenang  pengorbanan suami.  “Cinta memang menuntut pengorbanan banyak  dari dua orang yang saling mencinta. Dalam sakitku ini, saya mesti banyak bersabar terhadap suamiku yang besar cintanya padaku dan anak kami”, tegasnya.

Tiba giliran  suaminya, Plasidus  masuk dalam ruangan penyelidikan kanonik.  Pada wajahnya nampak ada beban berat, ada persoalan hidup  yang sedang  menjadi beban pemikirannya. Saya ikut merasakan,  ikut memahami perasaannya soal sakit istrinya yang  lagi akut.  “Apa yang sedang anda pikirkan? Nampaknya ada beban berat?”, itulah pertanyaan awal untuk mengetahui  perasaannya, cintanya terhadap istrinya, yang lagi menderita sakit!.

Ia merunduk. Lalu mengangkat muka!  Dengan  ikhlas,  jujur ia berbicara apa adanya tentang kebersamaan dengan istrinya.        “Saya sangat mencintai calon istriku, Ina Dawan Muda.  Ia  benar-benar sakit.  Saya telah memberikan perhatian dan cintaku kepadanya dalam sakitnya dan upaya  perawatannya. Saat ini saya siap menikah  karena saya sangat mencintainya”. Kata-kata yang sarat makna.  Cinta kasih  sejati tanpa syarat.  Sakit penyakit tidak pernah menggagalkan cinta sejati.

Plasidus dan Ina akhirnya benar-benar menikah. Mereka saling berjanji setia.  Usai  mengenakan cincin pada jari suaminya,  Ina masih juga bertanya pada suaminya.  “Apakah engkau sungguh mengasihiku…?” Ina seakan mengulang kembali pertanyaan Yesus kepada Petrus.  “Petrus, apakah engkau sungguh mengasihiKu?” Inilah cintakasih  mereka  mencontoh cintakasih Kristus kepada GerejaNya.

Enam bulan  kemudian tepatnya awal Desember 2011, tiba saatnya  Ina  melahirkan  anak  buah cinta mereka yang kedua.  Para dokter dan bidan memberi isyarat  jika Ina benar-benar mau menyelamatkan janin dalam kandungannya maka ia memang  siap  berkorban untuk anaknya.  “Pertanyaan apakah  ia bersedia mengorbankan nyawa  demi anaknya?”  Ternyata inilah pilihannya. Ia  bertekat melahirkan anaknya dengan selamat.

Ternyata  benar perkiraan  para dokter. Ia kemudian  harus pergi untuk selamanya.  Sakit paru-paru akut dan  sakit bersalin  menambah beban penderitaan itu  hingga akhirnya ia harus pergi untuk selamanya demi anak dan suami yang sangat ia kasihi.  Tepatnya, 5 – 6 Desember ia terbaring kaku di rumah kediamannya di Lewohala.  Siang itu, 6 Desember Pkl.11.00, jenasah  sang pahlawan itu ditaktakan depan rumah kediamannya.

Keluarga, sanak saudara  dan seluruh umat melepaspergikan dia dengan doa dan isak tangis.  Ia pergi sebagai seorang pahlawan  karena ia  telah berkurban melalui kesabarannya dan kebesaran cintanya memberikan hidup kepada anak yang ia lahirkan dengan susah payah hingga mengorbankan nyawanya sendiri. Ia pergi sebagai pahlawan  dari seorang Ibu rumah tangga dan istri dari seorang suami yang setia sampai kematian sungguh memisahkan mereka.

Kesetiaan  itu satu nilai kehidupan yang terindah dan paripurna hanya dalam derita dan korban diri tanpa syarat. Hanya sang pahlawan  yang suci hatinya dapat meraih mahkota  yang terindah dan paripurna.  Selamat jalan  Ibu Ina Dawan Muda. Doakan suami dan anak-anakmu. Doakan juga  rekan-rekanmu, pasangan muda  suami istri  yang tengah berjuang  menjaga kesucian  dan keluhuran martabat sakramen perkawinan;  meraih yang terindah dan paripuna yaitu  setia satu sama lain dalam derita dan pengorbanan diri hingga akhir hayat.***

Photo Credit: Mesbah Kudus Suami-Isteri, timadorasikidulloji.blogspot.com

 

 

Tags

RD. Anton Prakum

Dithabiskan menjadi Imam pada 9 Juni 1991 di Mulankera, Lembata, Guru dan pembina para calon imam di Seminari San Dominggo Hokeng tahun 1994-2003, saat ini bertugas sebagai Pastor Paroki Sta Bernadete Soubirous Pukaona Keuskupan Larantuka. Menjadi kontributor pada Majalah Hidup dan beberapa media lokal di NTT.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close