Urbi

OPINI: Senin, 13 Juli 2015

“Setia Janji”
( Mesbah kudus Suami-Isteri – 2 )

KEKERASAN dalam rumah tangga bukan satu problem yang berdiri sendiri. Ada hubungan timbal balik dengan problem lain seperti kehidupan iman, kondisi sosial-ekonomi dan budaya setempat, pendidikan dan karakter seseorang dalam relasinya dengan orang lain. Upaya mengatasi kekerasan berarti menata sistem kehidupan sekian rupa sehingga pelbagai unsur dalam sistem itu saling menopang.
Tugas utama dari penataan sistem yang saling menopang itu adalah manusia. Dengan ketulusan dan kerendahan hati ia mesti menata pertama-tama adalah sikap, karakter yang melekat dalam dirinya dalam relasi dengan unsur lain di luar dirinya.

Dalam salah satu kesempatan rekoleksi bersama pasutri kelipatan lima dari 5 sampai dengan 25 tahun perkawinan, kepada para pasangan saya bertanya kekuatan apa yang membuat anda berdua bertahan dalam hidup perkawinan hingga saat ini? Pertanyaan itu membutuhkan jawaban bukan hanya kekuatan tetapi juga tantangan dalam hidup perkawinan.

“Sejak awal mulai mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan, saya telah berjanji kepada Paula, istriku bahwa sepanjang hidup perkawinan dan keluarga saya tidak akan angkat tangan atau melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anak. Setiap persoalan akan kami cari jalan keluarnya sambil tetap saling menghormati pribadi pasangan maupun anak. Janji kedua, yaitu saya tidak akan memiliki dompet. Artinya, seluruh keuangan yang saya peroleh dari sumber manapun saya serahkan seluruhnya kepada istri selaku bendahara”, aku John yang hidup bahagia bersama istri dan anak selama 10 Tahun Perkawinan mereka.

Sebuah janji setia memiliki kekuatan mengeliminir semua kecenderungan salah dan destruktip atas keutuhan hidup perkawinan dan keluarga. Paula istrinya beberapa kali mengusap air mata bukan karena sedih melainkan air mata sukacita karena John suaminya setia pada janjinya di tengah maraknya kekerasan dalam rumah tangga dan kecenderungan budaya perjudian di banyak kalangan pasutri.

Lain lagi ibu Jane Hurint, “Kami berpacaran 7 tahun. Kami mempunyai waktu cukup banyak untuk saling mengenal sebelum nikah. Karena itu, walaupun kadang muncul masalah tetapi kami bisa mencari solusi sambil tetap saling menghargai. Yang sangat menarik, kami hidup terpisah karena tugas tetapi hubungan kami tetap harmonis. Kami saling mendoakan”, tutur Ibu Jane Hurint yang bersama suaminya sudah 20 tahun berkeluarga. Saya katakan, sekalipun hidup berjauhan tetapi saat ini ada sarana bantu yaitu HP. Namun, ibu Jane menegaskan, sinyal HP itu cuma sarana bantu, tetapi yang lebih penting adalah sinyal batin. Kami telah berjanji setia memelihara hubungan batin dan saling mendoakan dalam situasi apapun yang mengancam hidup perkawinan dan keluarga.” ucap Jane.

“Hidup perkawinan kami sejak awalnya menghadapi tantangan yang berat. Pihak keluarga istri kurang mendukung. Saya kurang menghargai istri sebagai teman hidup. Pernah, saya mengunci pintu rumah dan membiarkan istri pergi ke rumah orangtuanya. Memang saya selalu tidak suka mendengar tegurannya soal kebiasaan saya berjudi hingga larut malam. Namun dalam tugas saya sebagai guru SD kemudian saya mendapat mutasi tugas ke suatu daerah dimana orang-orang di sana tidak mempunyai minat bermain kartu. Mutasi tugas itu sungguh menyelamatkan keluarga kami dan mengubah kebiasaan buruk itu dalam hidup saya dalam relasi dengan istri dan anak-anak”, aku guru Tonce Hurint.

Demi satu perubahan, orang harus berani keluar dari diri sendiri atau menyingkir ke tempat lain. Suasana baru tentu akan melahirkan kesadaran dan pola hidup yang baru, sikap dan karakter yang baru pula. Belenggu kehidupan macam apakah yang kini sedang mengancam kelanggengan hidup keluargamu? Apakah anda berani keluar dari diri sendiri atau dari situasi lingkungan dengan pelbagai penyakit sosial yang kini mengancam dan mencederai kesetiaan hidup suami istri?***

Photo Credit: Kekerasan dalam rumah tangga, liputan 6.com

Tags

RD. Anton Prakum

Dithabiskan menjadi Imam pada 9 Juni 1991 di Mulankera, Lembata, Guru dan pembina para calon imam di Seminari San Dominggo Hokeng tahun 1994-2003, saat ini bertugas sebagai Pastor Paroki Sta Bernadete Soubirous Pukaona Keuskupan Larantuka. Menjadi kontributor pada Majalah Hidup dan beberapa media lokal di NTT.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close