HarianJendela Alkitab

Renungan Harian: Kamis, 30 Juli 2015

PEKAN BIASA XVII-HARI BIASA

Kel. 40: 16-21, 34-38; Mzm. 84:3, 4, 5-6a, 8a, 11; Mat. 13:47-53

 

PEMBANGUNAN  kema yang dilakukan oleh Musa, mengacuh pada peristiwa di Gunung Tabor. Kejadian di Gunung Tabor ini, memberikan kita sebuah gambaran akan kehadiran Allah yang abadi di Tanah Terjanji dan merupakan sakramen pengharapan bagi orang-orang di tempat pembuangan. Kisah Musa mendirikan rumah Tuhan yang diceritakan dalam kitab keluaran memperlihatkan kepada kita sekalian bagaimana sikap dan komitmen yang di bangun Tuhan untuk umat israel. Kepada bangsa israel, Tuhan menyatakan diri sebagai Allah yang komit dan setia dalam membentuk dan membimbing umat-Nya. Sikap Tuhan yang menegaskan diri sebagai Allah yang setia ini nampak dalam kehadiran awan yang menyelimuti kema yang dibangun. Kehadiran Allah adalah kehadiran yang abadi. Tradisi awan yang menyelimuti dan menetap adalah meterai restu dan pengukuan apa yang dilakukan Musa dan bangsa Israel. Sikap Tuhan yang demikian ada sejak dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Kesadaran akan kebaikan Allah yang demikian harus selalu ada dalam hidup kita. Kesadaran akan kesetian dan kebaikan Tuhan kepada kita harus menjadi pendorong yang kuat dari diri kita untuk semakin percaya dan setia kepadaNya. Kepercayaan dan kesetian kepada Tuhan merupakan jalan lebar menuju kerajaan surga. Memang keselamatan manusia terutama karena cinta dan belas kasih Tuhan. Namun, kesetian dan kepercayaan serta hidup baik di hadapan-Nya menjadikan kita semakin pantas untuk berharap dan berkeyakinan dipilih oleh Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan surga dan bukan sebaliknya dibuang dari hadapanNya.

Perumpamaan tentang pukat, yang dilukiskan penginjil Matius pada hari ini menegaskan permasalahan dan proses pemilihan ini: Tuhan melakukan pemilihan mana orang baik dan mana orang jahat, lalu ia memilahnya dan memisahkannya. Selanjutnya lewat perumpamaan tentang pukat ini, Yesus mau menegaskan juga bahwa kejahatan terjadi karena kesalahan manusia sendiri. Kejahatan, kebaikan, atau kebenaran bukanlah nasib, bukan Tuhan yang mengehendaki. Hal ini terjadi karena manusia itu sendiri. Tuhan menaburkan kebaikan, tetapi pada akhirnya manusia yang menerima benih kebaikan itulah yang bisa melipat gandakan kebaikan Tuhan, tetapi juga bisa melenyapkannya. Perbuatan manusia juga menentukan berkembang atau tidaknya sebuah kebaikan. Tuhan membiarkan seleksi terjadi melalui perjalanan hidup manusia. Pada akhirnya Tuhan akan memilih orang-orang yang menggandakan kebaikan-Nya menjadi “anak-anak terang’ yang diutus menerangi sesamanya agar mengalami keselamatan yang berasal dari pada-Nya. ***

 

Foto Kredit: Perumpamaan tentang jala, innomedelsignore.blogspot.com

 

Tags

RD. Ewaldus Sedu

Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, Flores.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close