HarianJendela AlkitabUrbi

Renungan Harian: Jumat, 31 Juli 2015

PEKAN BIASA XVII-Pw. S. IGNASIUS dr LOYOLA, Im.

Im. 23:1,4-11, 15-16,27,34b-37; Mzm. 81:3-4,5-6b,10-11ab; Mat. 13:54-58 atau Luk. 14:25-33

HARI ini Gereja sejagat memperingati Santo Ignasius dari Loyola. Ignatius berarti api semangat. Pada masa mudanya, Ignatius hidup dalam dunia kemiliteran. Ketertarikan pada hal-hal rohani justru terjadi ketika ia mengalami luka parah yang menjadikan dirinya harus berbaring di tempat tidur. Dalam situasi sakit itulah, Ignatius kemudian menyantap bacaan-bacaan rohani sebagai satu-satunya bacaan yang tersedia dan pelan-pelan Ignatius mengalami pencerahan di dalam hidupnya. Ia tidak lagi menjadi pejuang atau pahlawan dunia dalam peperangan, tetapi menjadi pejuang rohani dalam pewartaan iman. Ada titik balik di dalam hidupnya. sehingga akhirnya ia menjadi salah seorang tokoh Gereja. Ia menjadi pendiri Serikat Yesus, yang hingga detik ini karyanya tersebar di seluruh dunia.

Yesus ditolak karena Dia anak seorang tukang kayu. Masyarakat pada zaman Yesus, tidak mempercayai Yesus karena latar belakang keluarga-Nya. Sikap kurang percaya ini adalah sebuah bentuk reaksi dari kecemburuan sosial. Bagaimana mungkin sesuatu yang baik datang dari anak seorang tukang kayu? Kisah penolakan Yesus di tempat asal-Nya sendiri, sebagaimana yang dilukiskan dalam injil Matius, memberikan kepada kita sebuah gambaran akan realitas dunia kita saat ini.  Bahwa, ada tantangan ketika kita menyuarakan kebenaran. Dan  kadang, tantangan  yang paling pertama kita hadapi adalah dari diri sendiri dan dari orang-orang terdekat kita. Orang-orang dekat dalam konteks ini adalah orang yang mengenal kita secara baik dari segala aspek kehidupan. Dalam konteks kehidupan masyarakat kita dewasa ini, latar belakang keluarga juga bisa menjadi tolak ukur untuk menjalin relasi dengan yang lain. Relasi yang dibangun adalah relasi untung-rugi. Apa yang saya dapat dari relasi yang saya bangun dengan si A atau si B. Melalui bacaan pada hari ini, Yesus menyadarkan kita akan realitas ini sebab kita hidup ditengah masyarakat yang kental dengan budaya “do ut des’, saya memberi supaya saya menerima. Yesus menghendaki agar kita tidak hanya menilai sebuah kebenaran dari kacamata untung-rugi tetapi apa yang membawa kita pada kehidupan kekal. Yesus selama hidup-Nya menghidupi apa yang dikehendaki oleh Bapa. Hanya kita yang harus melihat dari kacamata iman. Kita tidak boleh terjerumus ke dalam sebuah relasi yang menempatkan keuntungan sebagai dasar untuk membangun sebuah komunikasi dengan sesama. Sebagai murid-murid Yesus, kita harus mampu mencontohi-Nya. Kita harus mampu menerima tantangan dan halangan yang akan kita hadapi ketika kita menyuarakan kebenaran bahkan sekalipun datang dari orang terdekat kita. Yang penting bagi kita adalah tidak terjerumus ke dalam sikap hidup untung-rugi ketika membangun relasi sesama. Dengan menghidupi semangat Santo Igansius dari Loyola kiranya kita mampu menjadi pewarta kabar suka cita dan kebenaran yang setia dan selalu kokoh dalam setiap tantangan yang kita hadapi. ***

 

Foto Kredit: St Ignatius Loyola van, saltandlighttv.org         

 

 

Tags

RD. Ewaldus Sedu

Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, Flores.

Related Articles

Close