HarianJendela Alkitab

Renungan Harian: Selasa, 04 Agustus 2015

PEKAN BIASA XVIII-Pw. S. YOHANES MARIA VIANNEY, Im

Bil. 12:1-23; Mzm. 51:3-4,5-6a,6bc-7,12-13; Mat. 14:22-36

HARI  ini Gereja sejagat memperingati  S. Yohanes Maria Vianney. Yohanes Maria Vianney lahir pada tanggal 8 Mei 1786 di desa Dardilly, Lyon-Prancis. Ayahnya, Mateus Vianney, seorang petani miskin. Ibunya serorang yang taat beragama. Semenjak kecil, Yohanes sudah terbiasa dengan kerja keras dan doa yang tekun berkat telandan orangtuanya. Dibandingkan dengan kelima orang saudaranya, ia memang trampil dan rajin bekerja namun lamban dan bodoh. Ia baru bisa membaca pada usia 18 tahun. Meskipun begitu, ia bercita-cita menjadi imam. Pada umur 20 tahun, ayahnya dengan berat hati mengizinkan dia masuk Seminari di desa tetangganya, Ecully. Hal ini semata-mata karena kelambanan dan kebodohannya. Namun, berkat kerja keras dan doa, ia berhasilkan menyelesaikan pendidikan di Seminari Menengah dan Seminari Tinggi. Akhirnya Yohanes ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1815. Setelah menjadi imam,  ia dinilai tidak bisa menjadi pastor di paroki-paroki kota. Oleh karena itu ia ditempatkan di paroki Ars. Ars adalah sebuah desa terpencil dan terbelakang di Prancis. Paroki ini dianggap cocok bagi dia karena tingkat pendidikan umatnya tidak seberapa. Di satu pihak ia sungguh menyadari bahwa kemampuannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan beratnya tugas mengembalakan umat Allah; tetapi di pihak lain ia pun sadar bahwa dirinya bukanlah pelaku utama karya pengembalaan umat melainkan Allah melalui Roh Kudus-lah pelaku utama karya besar itu. Kesadaran itu mendorong dia untuk senantiasa mempersembahkan karyanya kepada Tuhan.. Yohanes Maria Vianney mendampingi umatnya di Ars sampai maut menjemputnya pada tanggal 3 Agustus 1859. Pada tahun 1925, ia dinyatakan sebagai santo oleh Paus Pius XI  dan diangkat sebagai pelindung surgawi bagi ‘para pastor paroki

Bacaan Inji hari in menggambarkan dengan indah dan tepat tentang sebuah pengalaman kegagalan karena ketakutan dan keragu-raguan ketika kita melepaskan perhatian (iman) pada Yesus; Kegagalan Petrus disebabkan oleh ketakutan yang membuatnya hanya fokus pada jarak antara dia dan Yesus, pada hantaman badai dan gelombang, dan bukan pada Yesus yang ada di hadapannya. Ia gagal karena ia ragu, tapi Tangan Pertolongan Yesus menggengam erat dan menyelamatkan dia. Hanya mau mengatakan bahwa ketakutan bisa membuat kita kehilangan harapan, tapi kata-kata Yesus; “Jangan Takut,” selalu memberi jaminan kepadamu bahwa dalam derita dan susah apa pun Yesus selalu mengulurkan Tangan-Nya untuk mengangkat, memeluk dan membawamu semakin dekat dengan-Nya. Bercermin dari Santo Yohanes Vianney dan Petrus, percayalah bahwa Yesus pun sedang memegang dan memeluk erat kita dalam setiap derita dan susah yang menimpah kita.***

 

Foto Kredit: Santo Yohanes Maria Vianney, thecatholiccatalogue.com

 

Tags

RD. Ewaldus Sedu

Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, Flores.

Related Articles

error: Content is protected !!
Close