KWI

Membuat Presentasi berdasarkan 6 fakta tentang anak Indonesia

 Dinamika terakhir hari pertama workshop public speaking pada Rabu (13/8) di Pusat Pengembangan Spiritualitas Cinta Alam diisi dengan kegiatan mengolah presentasi. Peserta workshop dibagi ke dalam 8 kelompok. Setiap kelompok presentasi diminta untuk memilih salah satu dari 6 fakta tentang anak di Indoesia.

Menurut Errol Jonathans, latihan ini dimaksudkan agar peserta dapat dapat mengelolah dengan tepat berbagai fakta yang didapat di lapangan. Ketepatan mengolah fakta itu diantaranya mencakup pilihan fakta yang hendak dipresentasikan, analisa fakta yang dipilih, kondisi sekitar tentang fakta, dan solusi yang dapat ditawarkan berkenaan dengan fakta yang dipilih.

Errol memandu peserta workshop dengan mengemukakan 6 fakta tentang anak Indonesia terkini berdasarkan riset kesehatan dasar nasional. Pertama, pada tahun 2013 balita gisi buruk di Indonesia mencapai sekitar 4,3 juta bayi. Kedua, menurut International mengumumkan, pada tahun 2013 ada 2,3 juta anak Indonesia di bawah umur menjadi pekerja. Ketiga, menurut pada tahun 2014 ada 2.5 juta anak terlantar di Indonesia. Keempat, menurut kementerian hukum dan HAM, ada 5,5 juta pengguna narkoba di Indonesia. Kelima,Menurut UNICEF, di tahuan 2013, 2,3 juta anak Indonesia. Keenam, Pada tahun 2014, ada 20.000 kasus human trafiking.

Visualisasi

Kelompok 1, misalnya, menetapkan fakta tentang  2,3 juta anak Indonesia bekerja di bawah umur. Menurut kelompok ini, penyebab anak bekerja di bawah umur adalah akibat rendahnya perhatian orang tua untuk menyekolahkan anak-anak. Solusi yang ditawarkan oleh kelompok  ini yakni pemereintah perlu membuka lapangan kerja bagi dan

Kelompok 2 yang memilih fakta tentang narkoba di Indonesia beralasan, saat ini narkoba sedang dibicarakan di mana-mana, dan bahwa narkoba juga menimpah anak-anak di Indonesia. Solusi yang ditawarkan oleh kelompok 2 adalah mengingatkan keluarga untuk terus memberikan perhatian dan perlindungan terhadap anak-anak. Keluarga diminta untuk lebih komunikatif dengan anak-anak.

Kelompok 3 yang memilih fakta tentang 2,3 juta anak Indonesia tidak bersekolah, beralasan ketidakmampuan orang tua untuk membiayai pendidikan anak-anak. Kelompok ini berpendapat, jika melihat kondisi Indonesia terkini, memang anak-anak yang putus sekolah di

Kelompok 4  yang memilih fakta tentang adanya 20.000 kasus human traficing dimana anak-anak berada di bawah usia beralasan hal ini terjadi diakibatkan kurangnya kepedulian lingkungan sosial dan kurangnya pembinaan. Solusi yang ditawarkan kelompok adalah dengan meningkatkan pembinaan dan pemberdayaan terhadap anak-anak yang putus sekolah.

Penilaian

Menurut Errol, presentasi yang disampaikan oleh setiap kelompok memperlihatkan kelompok cukup serius untuk menentukan pilihan-pilihannya. Sementara itu, Ketua KOMSOS Keuskupan Agung Medan menilai, peserta sudah membuat pilihan fakta setelah ada kesepakatan. Kelompok juga mampu memberikan penjelasan yang tepat mengenai alasan serta membawakan presentasi  dalam waktu yang singkat namun meyakinkan.

“ Kemampuan berkomunikasi juga sangat ditopang dengan kecepatan dan ketepatan mengungkapkan pendapat secara cepat dan tepat. Dalam waktui singkat, seorang pembicara harus bisa fokus dengan pikiran dan pendapatnya, “ demikian penilaian dari Pastor Hubert. ***

 

 

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close