KWI

Kenapa Kerap Gagal Menulis?

HARI kedua pelatihan menulis produktif di Ruang Xaverius Gereja Katedral Keuskupan Amboina, Ambon, Maluku dihadiri peserta terdiri dari romo, suster, frater, dosen, dan guru yang sudah memenuhi ruang aula sejak pagi pukul 07.00. Mereka langsung belajar memahami cara menulis fakta, feature, dan opini oleh Budi Sutedja Dharma Oetomo.

Menurut Budi, banyak orang gagal menulis karena tidak banyak fakta yang dia miliki.  Minimnya fakta membuat kita sulit berpendapat.  “Temukan fakta sebanyak mungkin,  dan beritakanlah kepada seluruh dunia di segala penjuru.”kata Budi, di Ambon, Sabtu (22/8/2015).

Pendiri Indonesia Menulis ini juga mengatakan bahwa di era informasi sekarang ini kita dituntut untuk menyajikan fakta sebanyak mungkin dari segi jumlahnya sekaligus beragam sehingga tidak itu-itu saja serta harus akurat.

“Di perguruan tinggi untuk dapat menulis fakta diperlukan sebuah penelitian. Karena hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai landaran atau patokan,”tegas Budi.

Dalam dunia jurnalistik sering kali terjadi yang namanya keterlambatan pemberitaan. Ini juga disebabkan oleh kurangnya fakta, karena fakta harus dicari dan diverifikasi dulu. Tanpa fakta, berita tidak bisa ditayangkan begitu saja. Apalagi kalau hal itu berkait dengan hal-hal yang sensitif seperti konflik antarkelompok.

“Ini juga terjadi dimana-mana termasuk berita di Internet.  Kenapa bisa terlambat?  Salah satunya karena kurangnya tenaga penulis yang mampu mengisi atau mengupdate berita di online,”ujar Budi.

Demikian juga yang sering terjadi pada website paroki. Berita yang dimunculkan seringkali hnya itu saja, tidak pernah diupdate. “Saya harap melalui pelatihan ini para romo dan suster bisa memberi kontribusi untuk situs-situs paroki dan gereja. Sehingga akan semakin banyak kabar suka cita tersebar ke segala penjuru dunia.”tegas Budi.

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close