KWI

Menimba Semangat dari Gerakan Indonesia Menulis

INDONESIA MENULIS  lahir untuk menjawab pertanyaan menggelitik tentang siapa yang akan menyediakan bahan tulisan setelah Indonesia berjuang bebas dari buta huruf. Gerakan Indonesia menulis ini dirintis oleh Budi Sutedja Dharma Oetomo yang muncul dari keinginan untuk berbagi keterampilan menulis dengan “wong cilik” khususnya para guru, pelajar dan mahasiswa pada tahun 1996 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan dan Timur.

Budi yang juga seorang dosen di Universitas Duta Wacana Yogyakarta ini sangat konsen menjadikan anak didiknya sebagai sosok-sosok yang bisa menulis dan menuangkan gagasannya dalam bentuk buku. Dengan begitu mereka bisa mendapat royalti dari buku-buku yang ditulis sekaligus berbagi ilmu kepada orang lain.

“Sebagian dari karya yang ditulis oleh alumni Indonesia Menulis telah banyak dijual di toko buku seperti: the Billionare Codes Lazy Trader,  Demokrasi Aja Koq Repot,  Jejak Perjalanan, Senandung di Balik Kabut, dan masih banyak lagi” jelas Budi di sela-sela Workshop Menulis “Menjadi Penulis yang Produktif” di Aula Xaverius Gereja Katedral Keuskupan Amboina, Ambon, Maluku, Sabtu (22/8/2015).

Bapak satu anak ini tidak berhenti pada menularkan virus menulis saja namun juga terlibat dalam beberapa kegiatan sosial.  Bahkan juga mendirikan rumah singgah menulis di Kota Yogyakarta.

“Saya berharap dengan adanya rumah singgah ini,  bisa membantu mereka yang tempat tinggalnya jauh, bisa bersitirahat sebelum mereka pulang ke rumahnya.”

Kini gerakan Indonesia Menulis telah menjelma menjadi tempat pelatihan dengan berbagai bidang bahasan seperti presentasi, ceramah,  dan kursus jurnalistik.  Gerakan ini mendapat dukungan dari banyak perguruan tinggi dan media lokal.

“Sejak menjelma menjadi Gerakan Indonesia Menulis 28 Juli 2009, workshop menulis di Keuskupan Amboina sekarang ini sudah angkatan ke-59.” jelas Budi.

Suami Maria Herjani ini selalu menekankan bahwa menulis itu tidak sulit, mudah, menyenangkan. dan jangan terpenjara dengan idiom tidak berbakat. Ungkapan itu didasarkan pada pengalaman pribadinya yang bukan sarjana sastra ataupun jurnalistik namun karena kecintaannya pada dunia tulis menulis ia berhasil menyelesaikan 163 buku, 1.371 artikel, 747 berita dan menyunting 135 buku, serta melahirkan 1.475 penulis. Bahkan Budi berhasil meraih rekor MURI di bidang penulisan. Semua dilakukan di tengah kegiatannya mengajar sebagai dosen.

Tags

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Content is protected !!
Close