Public Speaking, Errol Jonathans, Apa Itu?

0

SUMBAWA BESAR – Berbicara di hadapan 38 peserta workshop public speaking untuk OMK Dekenat NTB, Selasa (25/8) di Gedung Pastoral Santo Ignatius, Sumbawa Besar, Errol Jonathans mengawalinya dengan sebuah pertanyaan yang mengundang perhatian peserta.  “Apa itu public speaking?,” tanya Errol kepada peserta workshop.

Peserta workshop yang sebagian besar merupakan pelajar SMA itu pun memberi beragam jawaban sesuai dengan pengetahuan mereka. Ada yang mengatakan, public speaking itu dapat diartikan sebagai kemampuan atau ketrampilan berbicara di depan umum. Ada lagi yang mengatakan public speaking itu merupakan dunianya para politisi, para pemimpin perusahan, presenter, dan guru.

Menurut Errol, ternyata publik speaking itu digunakan dimana-mana dan oleh siapa saja. Bukan hanya para politisi, para pemimpin perusahaan, presenter di bidang mc, guru, tetapi juga oleh para pemimpin agama (pastor).

Berdasarkan pengalamannya selama menjadi CEO Suara Surabaya, Errol mengatakan, banyak orang yang masih berpendapat bahwa hanya orang yang mempunyai bakat khsusus saja yang bisa berbicara di depan publik. Pendapat seperti ini, menurut Errol, tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.

“Di dalam komunikasi ada yang disebut dengan field of experience yang mencakup penguasaan nada, pendidikan intelektual, dan pengalaman. Jadi bukan hanya bakat saja yang menentukan kemampuan public speaking seseorang,” katanya.

Fakta Komunikasi

Menurut almuni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya itu, terdapat beberapa fakta komunikasi yang  sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, sekitar 70 % dari kesalahan di komuniatas dan tempat berkarya sepenuhnya disebabkan oleh komunikasi yang payah. Kedua, segala ucapan komunikator hanyalah merupakan puncak dari gunung es, yaitu 25 % dari keutuhan pesan. Karena pesan merupakan kombinasi pesan “verbal” dan “non verbal”. Ketiga, pesan itu lebih dari sekedar kata-kata yang digunakan komunikator. Volume dan tekanan suara, kontak mata, sikap tubuh dan gerakan kepala mendorong pendengar mengartikan itu semua. Masalah cara merupakan syarat yang penting. Keempat, keberhasilan komunikasi tergantung cara komunikator memulainya. Kelima, cara pandang orang lain perlu didengarkan oleh komunikator jika ia menginginkan  komunikasinya berhasil, dan kelima, “brilliance” tanpa kemampuan komunikasi adalah sia-sia.

Ia menambahkan, jagad komunikasi sebenarnya tidak hanya dapat dipahami dengan mengenal fakta komunikasi saja. Ada banyak hal yang dapat disampaikan mengenai public speaking. Di antaranya  tentang dasar komunikasi yang mencakup setiap hal yang dilakukan merupakan bentuk komunikasi, cara pesan disampaikan, pesan yang diterima merupakan komunikasi yang sebenarnya, “memberi” dan “menerima” sebagai komunikasi proses jalan dua arah, komunikasi adalah “dengan” bukan “pada”, dan komunikasi itu bukan kesendirian.

Facebook itu bukan public speaking, komunikasi face to face atau tatap muka itu merupakan komunikasi paling humanis,” katanya.

Ia menambahkan, posisi dalam berkomunikasi yang mencakup ketrampilan juga berperan langsung terhadap kredibilitas, penerimaan dan citra diri seorang komunikator. Komunikasi dapat dibangun dengan menciptakan hubungan baik untuk menggugah lawan bicara melalui respon positif.

Pada sesi pertama workshop tersebut, Erro juga menjelaskan beberapa syarat komunikasi yang komunikatif, tahapan efektivitas komunikasi, sentuhan manusiawi dalam proses komunikasi, visi komunikasi, rangkaian halangan dalam berkomunikasi, dan psikologi komunikasi kepada peserta.

Setelah memberikan materi dasar bagi peserta selama 45 menit, peserta diuji kemampuan dasarnya tentang komunikasi dengan  12 pertanyaan dari Errol. Hal ini dilakukannya untuk mengetahui sejauh mana peserta dapat memahami apa itu public speaking yang sesungguhnya.

 

Kredit Foto: Errol Jonathans saat menyampaikan materi public speaking bagi OMK Dekenat NTB

 

Share.

About Author

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Comments are closed.