Raker Komisi Komsos KWI dan Komsos Keuskupan Indonesia: Sikap dan Perilaku Berkomunikasi dan Fungsi Kehumasan (3)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +
BAHAN tentang sikap dan perilaku pengguna teknologi informasi dalam berkomunikasi dibawakan oleh Budi Sutedjo dengan Romo Edigius sebagai moderator. Menurut Budi, media menjadi kebutuhan sekaligus pembuktian bahwa mereka eksis. Namun, sering momen-momen penting dalam keluarga justru terlewatkan karena saking sibuknya ‘berkomunikasi’. (Baca: Raker Komisi Komsos KWI dan Komsos Keuskupan Indonesia: Bijak Gunakan Teknologi Informasi (1)

Kemajuan teknologi adalah tantangan. Communio et progressio: kemajuan teknologi adalah sebuah anugrah, sehingga Gereja tidak pernah menolak. Gereja menyadari sisi gelap dari perkembangan ICT supaya tidak terjerumus ke dalamnya. Harus ada sikap waspada terhadap bahaya ini, serta ada antisipasi dan upaya untuk menyikapi masalah ini.

Tantangan perkembangan teknologi: individualistik, apatis. Santo Yohanes Paulus II dalam World Communication Day mengatakan, teknologi tidak akan pernah menggantikan komunikasi interpersonal. Komunikasi personal adalah perjumpaan pribadi. Tugas kita adalah membawa umat dari virtual communication jadi real communication. Cara berkomunikasi harus disesuaikan dengan konteks, latar belakang, karakter, lingkungan, faktor eksternal (siapa komunikannya), tetapi juga faktor media apa yang digunakan.

Cara menanggapi komunikasi adalah disposisi. Kata sikap dan perilaku diganti disposisi atau spiritualitas. Disposisi seorang komunikator. Dalam teologi komunikasi, alur komunikasinya lain. Komunikasi kristiani: word, messenger, channel, receiver.

Seorang komunikator tidak hanya memiliki skill secara teknis, tetapi juga harus punya seorang disposisi spiritualitas atau perilaku. Disinilah kematangan seorang komunikator.

Tanya Jawab:

Windy Subanto: Pentingnya suasana baru untuk memberikan terobosan etika terjadi kebutuhan komunikasi dalam keluarga yang monoton.

Jawaban: Membuka ruang dialog, memberi penghargaan kepada lawan bicara. Kita temukan melalui hobi atau kesenangannya yang lain, karena kadang-kadang mereka tidak punya pilihan lain. Usahakan punya ritme untuk akses ICT (mis. buka internet pada jam tertentu). Jangan dikuasai teknologi, atur jadwal untuk teknologi bagi kita. Kita harus bisa menggarami perbincangan orang lain (menjadi produsen informasi, bukan sekadar konsumen informasi).

 RD Yoseph Babey: Banyak orangtua yang peduli tidak lahir di zaman digital, sedangkan banyak anak sudah menguasai dan bahkan dikuasai teknologi. Kesulitan yang sering dialami di gereja adalah mereka sulit ambil bagian dalam pelayanan karena disuruh mengerjakan tugas dengan mencari bahan di internet. Bagaimana cara mendampingi anak sejak usia dini untuk mengetahui kapan usia yang tepat untuk menggunakan internet?

pak-errol-640x424

Errol Jonathans sebagai fasilitator.

 Jawaban: Semua tergantung pada kita sebagai dalang. Banyak guru tidak memahami sistem pendidikan, sehingga ini adalah tantangan bagaimana kita belajar untuk menguasai bidang tersebut. Kita bisa berkarisma karena kita punya karya nyata. Sebagai katolik, kita harus menggagas sesuatu yang baru, yang ada nilainya.

Fungsi kehumasan

Pada bagian lain, Errol Jonathans menekankan pentingnya aspek kehumasan pada Komisi Komsos. Di antaranya, berusaha membantu keuskupan dan umat agar bisa saling beradaptasi demi kepentingan bersama. Juga menjadi agen penyebaran informasi dengan menggunakan berbagai media, baik yang sifatnya mainstream (audio-visual, animasi, CD/CVD/DVD), online (website, streaming, medsos).

Ini penting karena kita harus mengingat sejarah peradaban dimana terbagi menjadi berbagai tahapan: The baby boom (1945-1964), Gen X (1965-1976), Gen Y (1977-1997), Gen Z (>1998)

Komsos harus mampu mendesain strategi pewartaan iman melalui media tv, foto, koran, video, blog, medsos, on deman. Sekaligus juga menjadi dokumentator karya-karya keuskupan. Itulah perlunya Komsos mengampu diri agar mumpuni dalam keahlian menulis, public speaking, produksi multimedia, operasional online. Semua ini bisa didekati melalui dua perspektif: jurnalistik dan non jurnalistik.

Alurnya sebagai berikut: menjadi fungsi kehumasan, dokumentasi, mediasi, dan diseminasi. Di sini butuh kekuatan sinergis antara uskup, kaum religius dan non religius, serta awam agar pastoral Komsos bisa berjalan kontinyu dan inovatif.

Gunakan alat digital yang kita miliki untuk membuat produk dan jasa hebat. Tetapi jangan kehilangan pandangan akan fakta, bahwa tujuan inovasi itu bukanlah produk dan teknologi keren, melainkan khalayak yang bahagia. Khalayak yang bahagia merupakan tujuan dialog, komunikasi.

Kredit foto: Ilustrasi

Share.

About Author

Mathias Hariyadi

Co-founder dan Pemimpin Redaksi Sesawi.Net

Comments are closed.