HarianJendela Alkitab

Renungan Harian│18 Januari 2016│Senin Hari Biasa (H) Pekan II│1Sam.15:16-23; Mrk.2:18-22│

ALUR kehidupan manusia senatiasa dinamis, berkembang dan berubah, mengikuti dan diikuti dunia di sekitarnya. Yang juga turut berkembang adalah teknologi dan ilmu pengetahuan. Kedua bidang itu sedemikian cepat berubah dan berkembang, sehingga manusia kesulitan mengikutinya. Saat satu produk baru saja dipakai, teknologi yang lebih baru sudah diperkenalkan lagi. Demikian seterusnya. Dalam hal ini sepertinya manusia dikendalikan kemajuan teknologi. Supaya sungguh bisa lepas dari kendali teknologi itu, kita sebenarnya bisa bertanya, apakah produk teknologi yang kita miliki atau yang kita inginkan itu sungguh menjadi kebutuhan? Apakah yang akan kita pakai merupakan sesuatu yang sungguh mendesak untuk dimiliki?

Dalam konteks yang sebaliknya, orang-orang Farisi adalah kelompok yang suka mempertanyakan perkembangan kehidupan religius yang terjadi di sekitarnya. Berhadapan dengan aturan, terutama upacaranya, orang Farisi sangatlah ketat memegang prinsip. Oleh karena sikap seperti itulah mereka selalu bertentangan dengan Yesus. Salah satu contohnya adalah pertentangan tentang ‘puasa’ sebagaimana dalam perikop Injil hari ini. Mereka menjunjung tinggi dan kuat dalam praktik keagamaan Yahudi. Mereka mempertanyakan ‘gaya hidup baru’ yang ditawarkan Yesus dan para murid-Nya.

Sebenarnya, Yesus tetap mempraktikkan intisari kebiasaan Yahudi, tetapi menafsirkan praktik-praktiknya secara baru. Kebaruan itu ditampakkan dalam perwujudan sikap tobat. Bagi Yesus, keselamatan bukan pertama-tama karena menjalankan aturan-aturan dengan setepat dan serinci mungkin. Bagi Yesus, keselamatan dihasilkan saat hati manusia diperbaharui dengan semangat pertobatan. Hati yang senantiasa bersemangat tobat adalah hati yang diarahkan kembali kepada kehendak Allah yang terwujud secara nyata dalam teladan hidup Yesus. Untuk itulah, Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk meninggalkan cara hidup lama dan mengikuti-Nya secara total, dengan cara hidup baru. Mengubah hidup menjadi lebih baik berarti harus berani mengubah hati. Hidup baru berarti berani dan mampu menempatkan aturan lama dalam kantong yang baru, cara hidup baru. Saat ini pun kita bisa memulainya.

 

Kredit Foto:

Tags

RD RF Bhanu Viktorahadi

Imam diosesan (praja) Keuskupan Bandung; sekarang menjadi staf pendidik Seminari Tinggi Fermentum Keuskupan Bandung dan dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan.

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close